Home Aswaja Merasa Malu Karena Dipuji
Merasa Malu Karena Dipuji

Merasa Malu Karena Dipuji

0
0

prayer-3669842_1920

اَلْمُؤْمِنُ الْحَقِيْقِيُّ اِذَا مُدِحَ اِسْتَحْيَى مِنَ اللهِ اَنْ يُنْىَ عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لَا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ

Mukmin sejati menyikapi pujian dengan perasaan malu kepada Allah swt. Sebab, ia dipuji karena sifat yang tidak sesuai dengan haliyah dirinya”.

(Ibnu Athaillah as-Sakandari)

Mukmin sejati (al-hakiki) adalah hamba yang beriman kepada Allah swt secara lahir dan batin. Iman lahiriah diimplementasikan dengan dua kalimat syahadat yang dibuktikan oleh kepatuhan gerak badan terhadap aturan Syariat. Sementara iman batin terwujud berkat kesucian hati dari campuran selain Allah swt. Artinya, hatinya terpaut penuh kepada Allah swt dan bergeming dari selain-Nya.

Buntut dari kombinasi iman lahir dan batin ini adalah acuhnya hati terhadap cercaan atau pujian manusia. Sehingga, tatkala datang sebuah pujian bukannya senang, ia justru malu kepada Allah swt. Malu karena pujian itu bermula dari sebuah praduga yang dalam pandangannya, praduga itu salah dan keliru.

Pada hakikatnya, pujian lahir dari sebuah anugerah. Sebab, kalau bukan karena tirai Allah swt. yang menyembunyikan keburukan dirinya atau kemurahan Allah swt. yang menyematkan hiasan sikap mulia pada dirinya, niscaya pujian itu tak punya efek. Maka, Mukmin sejati yang memahami hikmah ini, kala dihujani berbagai sanjungan maka ia tidak memandang dirinya layak menerima semua sanjungan itu. Justru, Allah swt. yang berhak mendapatkan pujian tersebut. Sehingga, ia merasa malu kepada Allah swt. Sebab, pujian yang semestinya ditujukan kepada Allah swt. malah dialamatkan untuknya.

Menyikapi pujian dengan cara ini, sekaligus bisa jadi merupakan bentuk syukur seorang hamba kepada Allah swt. Bagaimana besarnya karunia yang melimpah ruah membanjiri dirinya, hingga pribadi yang patutnya dicerca dan caci malah disanjung dan dipuji. Dan pada taraf berikutnya, rasa syukur ini akan mengantarkannya meraih predikat tinggi di sisi Allah swt., selain juga menyelamatkan nilai pahala ibadah.

Baca Juga: Ketegangan Baju di Dunia Sufi

Sikap seperti penjabaran di atas memang merupakan karakteristik kalangan atas para pendaki jalan ke hadratillah. Namun, bukan berarti orang-orang di jenjang bawah tidak mampu menggapainya. Sifat mulia ini dapat diraih lewat usaha total dan tekun. Resepnya ialah berbekal ilmu dan kontinu mengamalkannya karena Allah swt. Ilmu adalah kunci sukses di segala lini. Termasuk, dalam urusan meningkatkan mutu imam seorang Muslim. Hanya saja, keberadaan ilmu tampak sia-sia bila tidak dibarengi pengamalan. Pengamalan itu pun juga akan percuma kalau tidak disertai ketulusan hati karena Allah swt. Nah, kala hati telah sanggup menyucikan niat amal yang didasari oleh sebuah pengetahuan, maka yang hamba butuhkan guna menyukseskan misinya adalah keistikamahan. Tanpa istikamah, usahanya tidak akan membuahkan hasil optimal.

Selanjutnya, berbalik seratus delapan puluh derajat dari Mukmin sejati adalah manusia paling dungu. Dinobatkan sebagai makhluk terbodoh karena sikap konyolnya dalam menyikapi sebuah pujian. Dirinya yakin sekujur tubuhnya penuh cacat dan aib, berkubang maksiat dan selalu mendurhakai Allah swt. Tetapi kala disanjung sebagai hamba yang taat dan patuh, malah senang bukan kepalang. Bagaimana mungkin orang yang sudah tahu kulitnya hitam pekat, senyum kegirangan kala ada orang berkata kulitnya putih mulus. Perbuatan ini hanya bermuara dari orang tolol bin dungu. Makanya, dalam kalam hikmah berikutnya, Ibnu Athaillah as-Sakandari mengalungi sebuah medali sebagai makhluk paling bahlul:

اَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِيْنَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاس

Manusia paling buruk adalah manusia yang melepas keyakinan hatinya karena sebuah dugaan dari orang lain”.

Setiap pribadi manusia adalah gudang misteri yang penuh dengan hal tak terduga. Jutaan rahasia tersimpan rapi dalam memori otaknya. Hanya dia dan Allah swt. saja yang tahu persis seluk beluk kehidupannya. Maka, apa yang terbaca dan tampak di kelopak mata orang lain, tak ubahnya pantulan silau cahaya matahari dari sebuah cermin di siang bolong. Secercah cahaya ini tak mungkin sanggup menggambarkan secara utuh bentuk dan rupa sang mentari. Bahkan, matahari di sore hari yang mulai meredup dan cahayanya agak bersahabat dengan mata, juga belum mampu menyuguhkan lekungan badan sang mentari sendiri.

Baca Juga: Menjadi Sufi Berduit

Lalu, apa jadinya bila pengetahuan tentang diri sendiri yang sedemikian sempurna itu dibandingkan praduga orang lain yang belum tentu benar. Apa jadinya bila keyakinannya yang sudah sedemikian menjulang tinggi, ternyata diruntuhkan oleh sedikit guncangan prediksi yang lahir dari sebuah ketidaktahuan. Karena dipuji berperangai sopan oleh orang yang baru dikenal, lalu seorang preman biadab, amoral dan tak kenal tatakrama bisa yakin jika dirinya pantas dan berhak menyandang pujian tersebut. Bukankah sikap semacam ini sangat tak mendasar? Begitulah kira-kira Ibnu Athaillah menyentil pribadi orang yang tak tahu malu; pribadi yang mengubah keyakinan hatinya lantaran berpijak pada praduga orang lain.

Lantas, bagaimana seorang hamba mesti menyikapi pujian yang tidak selayaknya diberikan untuknya? Jawaban dari pertanyaan ini diuraikan dalam kalam hikmah selanjutnya:

اِذَا اُطْلِقَ الثَّنَاءُ عَلَيْكَ وَلَسْتَ بِأَهْلٍ فَأَثْن ِعَلَيْهِ بِمَا هُوَ اَهْلُهُ

Apabila pujian dilontarkan kepadamu, sementara engaku tak berhak menerimanya, maka belokkanlah pujian itu kepada Dzat (Allah swt.) yang berhak menerimanya”.

Kalam hikmah ini, selain sebagai jawaban dari pertanyaan diatas, sebenarnya juga merupakan penyambung uraian kalimat hikmah yang pertama tadi. Maksud ungkapan singkat ini adalah saat pujian datang bertubi-tubi dari orang sekitar, padahal kita yakin tidak patut menerimanya, maka akhlak yang luhur adalah dengan cara mengalihkan pujian itu kepada Dzat yang menyebabkan kita menuai pujian itu: yakni Allah swt. Sebab, Allah swt. telah menampilkan kita sebagai pribadi yang baik di depan khalayak umum. Sekali lagi, ini adalah wujud syukur kita kepada Allah swt. atas karunia-Nya yang telah menutupi semua aib dan kebodohan kita. Sehingga, orang sekeliling kita menduga kita adalah orang pandai dan baik hati. Semoga bermanfaat. Wallâhu a’lâm bish-shawâb.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *