HEADLINE
4 Metode Dakwah Dimensi Tasawuf

4 Metode Dakwah Dimensi Tasawuf

Di tengah masyarakat Indonesia sangat banyak bermunculan fenomena gerakan dakwah bernuansa sufi yang kian dinamis dalam aktifitasnya. Hal ini terutama ditandai dengan semakin merebaknya majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian di kota-kota besar bak jamur di musim penghujan. Tentunya fenomena ini baru sebagian kecil yang kita rasakan belakangan ini.

Baca Juga: Ada Makrifat di Balik Tarekat

Dengan demikian pendidikan ala kaum sufi tampaknya masih sangat relevan dan diterima di nusantara. Selain itu, pendidikan ala kaum sufi ini terhitung efektif dan relatif berhasil, serta digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bila kita amati lebih lanjut, bahwasanya memang ilmu tasawuf lebih mewakili aspek ihsan, sebab di dalam disiplin ilmu tasawuf ini lebih dominan nilai-nilai spiritualitas yang berkenaan dengan masalah hati dan jiwa. Berikut beberapa kunci kesuksesan demensi tasawuf dalam berdakwah;

1. Shuhbah (berguru atau bersama seorang guru)

Seorang pembimbing yang sempurna (al-mursyidul kamil) sangat dibutuhkan sekali oleh seorang pencari ilmu hakikat (salik). Sebab dengan berguru kepada seorang yang sempurna, lebih banyak memberikan pengaruh yang langsung bisa dirasakan oleh orang tersebut. Pengaruh itu bisa berupa akhlak yang mulia, etika yang luhur, ataupun tabiat yang terpuji. Di dalam al-Quran juga disebutkan tentang urgensi bersuhbah. Allah I  berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. at-Taubah: 119)

2. Mujahadah (berjuang)

Mujahadah atau jihad berarti mencurahkan segenap usaha demi mengatasi musuh atau tantangan. Hal ini terbagi menjadi tiga, yaitu; berjuang memerangi musuh yang dzahir, berjuang memerangi syetan, berjuang memerangi nafsu. Kitabullah al-Quran telah menyebutkan;

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami”. (QS. al-‘Ankabut: 69)

3. Zikir

Di dalam al-Quran zikir mengandung arti yang bermacam-macam, di antaranya bermakna membaca al-Quranul Karim atau melaksanakan salat jumat. Akan tetapi sebagian besar menyatakan bahwa makna zikir adalah mengucapkan tasbih, tahlil, takbir, salawat kepada nabi dan lain sebagainya. Dalil mengenai zikir, Allah I  berfirman;  

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“karena itu, ingatlah kamu kepada-ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu”. (QS. al-Baqarah: 152)

4. Tarekat

Di dalam istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik menuju tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan dirinya sedekat mungkin kepada tuhan. Untuk dapat melaksanakan tarekat dengan baik, seseorang murid hendaknya mengikuti jejak dan melaksanakan perintah dan anjuran yang diberikan mursyidnya. Ia tidak boleh mencari-cari keringanan dalam melaksanakan amaliyah yang sudah ditetapkan dan dengan segala kekuatannya ia harus mengekang hawa nafsunya untuk menghindari dosa dan noda yang dapat merusak amal.

Jika kita simpulkan mengenai kaitan antara praktek tasawuf dengan yang ada pada masa-masa awal Islam, sebenarnya tasawuf adalah perpanjangan dari aktifitas zuhud yang ada pada masa nabi dan sahabatnya. Sejarah membuktikan bahwa agama Islam di berbagai belahan dunia berkembang, berkat jasa para ulama yang kemudian dikenal sebagai waliyullah, dimanapun tempat mereka berada, walaupun berbeda adat dan budaya maupun bahasa, mereka telah berbaur dengan masyarakat dengan segenap kebersihan hati dan jiwan sehingga dengan mudahnya mereka mampu memberi pemahaman kepada umat mengenai ajaran Allah dan rasul-Nya.

Muhlasin Shofiyulloh | Annajahsidogiri.id

About Muhlasin Sofi

Muhlasin Sofi
Pemred Tauiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*