Home Aswaja Akidah Sanjungan untuk Sang Tuntunan
Sanjungan untuk Sang Tuntunan

Sanjungan untuk Sang Tuntunan

0
0

Dalam kitab tafsir Ad-Durru al-Mansûr fî Tafsîr bil Ma’tsûr dalam menafsiri ayat: “katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”(QS. Yunus 58), Ibnu Abbas RA mengatakan: “Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad SAW.” Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk berbahagia dengan lahirnya Nabi yang merupakan rahmat yang agung patut untuk disyukuri setiap saat.

Sehingga tidak ada keraguan lagi bagi kita untuk selalu mengekspresikannya baik dengan sanjung madah untuk Sang Baginda Nabi atau hal lain yang dituntut oleh syara’ seperti puasa, sedekah atau yang lain. Namun, dari sini masih ada beberapa kelompok yang enggan atau menolak dengan ketetapan ini yang sudah mengakar kuat dalam agama Islam dengan alasan menurut mereka bertentangan dengan salah satu hadits Nabi yang berbunyi,

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ (رواه البخاري

“Janganlah kalian memuji/menyanjung aku secara berlebihan, sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah ‘hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari)

Baca Juga: Sampaikah Hadiah Pahala Bacaan al-Qur’an?

Kelompok Salafi dan Wahabi secara mentah-mentah memahami hadits ini sebagai larangan mutlak memuji-muji atau menyanjung Rasulullah secara berlebihan, lebih dari sekadar mengakuinya sebatas hamba Allah yang diutus sebagai Rasul dan diberikan wahyu. Menurut mereka, sanjungan atau pujian yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap Nabi dianggap sebagai upaya pengultusan (mendewa-dewakan) yang dapat dikategorikan sebagai syirik. Untuk menjawab ini kita katakan bahwa hal ini sebenarnya hanya propaganda mereka yang sangat anti terhadap sanjungan Nabi, jelas persepsi kelompok Salafi ini sangat bertentangan dengan pendapat-pendapat ulama muktabarah.

Pertama, dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah SWT telah jelas-jelas mencontohkan sikap pemuliaan itu dengan memuji atau menyanjung Rasulullah di dalam al-Qur’an:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar di atas budi pekerti yang agung”(al-Qalam: 4)

Baca Juga: Shahabat Nabi, Cermin Teladan Umat Ini

Kedua, Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki, di dalam kitab beliau, Qul Hâdzihî Sabîlî, menyebutkan yang dilarang di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut adalah pengultusan (mendewa-dewakan) Rasulullah dalam arti menjadikan beliau sebagai Tuhan atau melekatkan sifat ketuhanan kepada beliau, sebagaimana kaum Nasrani yang menuhankan Nabi Isa. Ini tidak menafikan pada sanjungan atau pujian  kepada Sang Baginda Nabi sebab beliaulah makhluk yang termulia di dunia ini.

AnnajahSidogiri.id

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *