HEADLINE
Perdamaian

Berdamai dengan Non Muslim

baru-baru ini, kasus pembakaran rumah peribadatan umat lain yang terjadi di Sigi, Palu, membikin heboh kita semua. Pembantaian ini dilakukan oleh kelompok ekstremis MIT (Mujahidin Indonesia Timur). Dengan dalih jihad atas nama agama, mereka melakukan pembantaian terhadap manusia tak bersalah. Atas alasan memerangi orang kafir, lalu mereka dengan seenak dengkulnya melakukan pembantaian.

Lalu sebenarnya bagaimana Islam memposisikan orang non-muslim. apakah mereka diposisikan sebagai musuh yang harus diperangi atau Islam memerintahkan kita untuk berdamai berakraban dengan mereka?

Baca Juga: Jihad Tidak Melulu Perang

Dalam hal ini Syaikh Abdurahman Al-aqli menyatakan bahwa asal hubungan muslim dengan non muslim adalah damai, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Sufyan ats-Tsauri, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qoyim al-Jauzi dari kalangan hanabilah (Al-Khulasoh Fi Fiqhil Aqliyat). hal ini dengan catatan orang kafir tidak memusuhi dan menganiaya umat Islam. (Imam Sufyan Atsauri). Berikut pendapat imam ats-Tsauri kutipan Imam As-sarakhsi: “Iman Sufyan Ats-tsauri berkata: Berperang melawan kaum musyrikin tidak wajib kecuali jika peperangan bermula dari mereka. Dengan demikian, maka wajib memerangi mereka sebagai usaha membela diri. Ada banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang menngindikasikan akan hal ini diantaranya:

وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً

“Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka telah memerangi kalian semua”

Pada Redaksi pertama ayat ini وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً  menerangkan perintah memerangi terhadap orang musrik. Sedangkan pada redakasi selanjutnya yaitu كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً  menjeleskan bahwa orang kafir tidak kita perangi selama mereka tidak menyerang umat Islam. Hal ini ditunjukkan oleh huruf jer kaf yang menjadi sebuah ilat (jihad kaifa nahhamuhu wa numarisuhu). 

Selain itu  terdapat pula hadis yang mendukung  hal ini antara lain: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّه تَعَالَى الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا

hadis ini melarang para sahabat untuk memilki keinginan bertemu musuh . ini menunjukan bahwa kondisi perang merupakan kondisi darurat bukan kondisi normal untuk umat islam.

Namun sekalipun begitu ada pula para ulama’ yang berpendapat bahwa asal hubungan orang Islam dengan non muslim adalah peperangan. Hanya saja pendapat ini masuk kategori yang lemah sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama kontemporer Syaikh Said Ramadhan al-Bhuti dalam kitabnya al-jihad fil islam ,kaifa nafhamuhu wa kaifa numarisuhu. Dalam hal ini mereka berpendapat bahwa masuk agama Islam secara suka rela tampa paksaan hanya ada pada masa Islam, yakni sebelum ada syariat perang. Setelah itu, ayat ini dirombak dengan ayat saif.

Baca Juga: Salah Kaprah Jihad

Pendapat ini disanggah oleh mayoritas fukaha dan mufassirin yang lebih condong kepada pendapat bahwa asal hubungan umat Islam adalah damai. Sebab hukum berdakwah dengan cara damai itu tetap ada dan ayat yang menunjukkan hal itu adalah ayat muhkamat yang tidak dinusakh. (kaifa nahhamuhu wa numarisuhu) .

Maka mayoritas fukaha dan mufassirin menjelaskan bahwa ayat saif tersebut tetaplah berlaku sebagai bentuk devensive (bertahan) ketika orang kafir menyerang kita. Pendapat ini sesuaidengan fakta yang ada tentang faktor-faktor terjadinya peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah. Contohnya seperti perang bani quraidho yang terjadi karena mereka melanggar perjanjian damai atau peperangan khaibar terjadi untuk memeberi pelajaran kepada Yahudi Khaibar yang pernah menjadi provokator utama dalam menggerakkan kaum Quraisy dan sekutunya untuk mengepung madinah dalam perang Khandak.

Dari sini sudah jelas dapat bahwa agama Islam bukanlah agama yang gemar menumpahkan darah. Selama jalan damai bisa ditempuh, maka selama itu pula jalan peperangan akan semaksimal mungkin di hindari. Dalam konteks ini jihad qital hanyalah jalur darurat ketika jalan perdamaian tidak bisa lagi menjadi jalan. Namun tetap sekalipun berbagai persyaratan yang ada harus menjadi perhitungan dalam melakukan hal ini. Wallahu a’alam.

Rifqi Ja’far Shodik | Annajahsidogiri.id

About Rifqi Jakfar Shodiq

Rifqi Jakfar Shodiq
Santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri. Aktif menulis sejak 2017 sebagai redaksi Buletin Tauiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*