Kritik Tauhid Wahabi

Mengkritik Trilogi Tauhid Wahabi (Part 1)

Kritik Tauhid Rububiyah

Dalam diskursus trilogi Tauhid, Ibnu Taimiyah sebagai penemu teori ini membatasi dan membagi setiap makna dari tauhidnya masing-masing. Dari pembatasan dan pembagian makna inilah, nantinya berakibat fatal bagi amaliyah umat Islam, sebab, di antara konsekuensi yang ada, tak heran jika kemudian banyak umat Islam yang dikafir-kafirkan lantaran tidak sesuai dengan pengaplikasian trilogi Tauhid ala Wahabi ini.

Contoh dalam pembatasan dan pembagian makna tauhid Rububiyah dan Uluhiyah. Ibnu Taimiyah membatasi makna Rububiyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur alam semesta. Adapun Uluhiyah sendiri, Ibnu Taimiyah membatasi maknanya pada sifat Tuhan sebagai satu-satunya Zat yang berhak disembah dan menjadi tujuan dalam beribadah. Beliau juga berpendapat bahwa dua tauhid ini (Rububiyah dan Uluhiyah) tidak sama, tidak bisa disatukan, berada dalam konteks yang berbeda, yakni tidak talazum.

Baca Juga: Membedah Trilogi Tauhid Wahabi

Sangat jelas sekali, pembatasan dan pembagian makna dalam tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah ini sangat ngawur, serampangan, tidak mendasar, dan tidak rasional, juga bertolak belakang dengan uraian al-Qur’an, hadis sahih dan pendapat ulama Ahlusunah wal Jamaah. Sementara pemahaman yang benar, sebagaimana penjelasan al-Qur’an, hadis dan pendapat ulama Ahlusunah wal Jamaah, adalah Rububiyah dan Uluhiyah itu sama. Keduanya adalah satu kesatuan. Keduanya saling terikat dan tidak bisa dipisahkan.

Oleh karena itu, seperti mana kelaziman makna yang terkandung dalam Rububiyah dan Uluhiyah, apabila seorang telah bertauhid Rububiyah, secara otomatis ia juga bertauhid Uluhiyah. Perlu digarisbawahi bahwa konsep kelaziman makna Tauhid ini secara tidak langsung mematahkan statement Wahabi yang mengatakan bahwa umat non-muslim pun mengimani tauhid Rububiyah. Dalam hal ini, al-Qur’an telah banyak menyinggung keterkaitan makna Rububiyah dan Uluhiyah ini. Allah berfirman;

وَلَا يَاۡمُرَكُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓٮِٕكَةَ وَالنَّبِيّنَ اَرۡبَابًا‌ اَيَاۡمُرُكُمۡ بِالۡكُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡـتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ

Artinya, “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan) setelah kalian semua berpasrah diri.” (QS. Ali Imran [03] 80).

Baca Juga: Trilogi Tauhid Salafi Wahabi

Ayat ini menjelaskan secara tegas bahwa umat non-muslim mengakui arbab (tuhan-tuhan) selain Allah SWT, seperti malaikat dan nabi. Hal ini berbeda dengan pendapat Wahabi bahwa non-muslim mengimani konsep tauhid Rububiyah, dengan kata lain, mereka semua beriktikad bahwa Zat yang menciptakan alam semesta ini hanyalah Allah SWT. Mereka menyangsikan tauhid Uluhiyah saja. Sementara praktik yang ada, umat non-muslim tidak mengakui tauhid Rububiyah.

Tidak berhenti pada ayat di atas, ternyata konsep tauhid ini juga bertolak belakang dengan ayat lain. Allah berfirman;

تَاللّٰهِ اِنۡ كُنَّا لَفِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍۙ‏ إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya, “Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah menyamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) alam semesta.” (QS. asy-Syuara [42] 97-98).

Dalam ayat tersebut, jelas sekali Allah menceritakan betapa menyesal umat non-muslim di akhirat sebab ulah mereka di dunia yang menyamakan tuhan-tuhan lain dengan Allah SWT. Mereka dengan terang-terangan menjadikan berhala-berhala sebagai Arbab mereka, padahal kata Ibnu Taimiyah dan ulama Wahabi, mereka semua mengimani Allah sebagai Tuhan Rububiyah-nya. Sudah jelas, konsep ini lagi-lagi bertentangan dengan dua dalil al-Qur’an di atas.

Dalam ayat berikut, pendapat Ibnu Taimiyah yang menyatakan kekhususan makna Uluhiyah terhadap ibadah juga bertentangan. Allah berfirman;

يٰا صَاحِبَىِ السِّجۡنِ ءَاَرۡبَابٌ مُّتَفَرِّقُوۡنَ خَيۡرٌ اَمِ اللّٰهُ الۡوَاحِدُ الۡقَهَّارُ‏ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِه اِلَّاۤ اَسۡمَآءً سَمَّيۡتُمُوۡهَاۤ اَنۡـتُمۡ وَ اٰبَآؤُكُمۡ مَّاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنۡ سُلۡطٰنٍ‌ اِنِ الۡحُكۡمُ اِلَّا لِلّٰهِ‌ اَمَرَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ‌ ذٰلِكَ الدِّيۡنُ الۡقَيِّمُ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ

Artinya, “Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa? Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf [12] 39-40).

Baca Juga: Ketika Ibnu Taimiyah Menjadi Juru Selamat Ahli Neraka

Mari kita perhatikan baik-baik, ayat ini menjelaskan bagaimana kedua penghuni penjara tersebut menyembah Arbab (berhala) selain Allah SWT. Lagi-lagi, ayat ini mematahkan konsep tauhid Wahabi yang mengatakan umat non-muslim mengimani tauhid Rububiyah. Lebih lanjut, ayat berikutnya menjelaskan hubungan ibadah dengan Rububiyah, bukan Uluhiyah. Sehingga dengan ini, bisa kita simpulkan bahwa konotasi makna Rububiyah sebenarnya sama dengan makna Uluhiyah. Tidak ada yang beda antara keduanya. Jadi tidak ada istilah bahwa tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah adalah dua tauhid yang berbeda, tidak bisa disatukan, dll. Dengan ini, orang yang bertauhid Rububiyah juga dipastikan bertauhid Uluhiyah dan sebaliknya.

Sementara itu, dalam sebuah keterangan hadis, konsep tauhid Rububiyah Wahabi ini juga tidak lepas dari kontradiksi makna. Nabi Muhammad Saw bersabda;

عن البراء بن عازب عن النبي ﷺ قال (يثبت الله الذين أمنوا بالقول الثابت) قال نزلت في عذاب القبر فيقال له من ربك فيقول ربي الله ونبيي محمد ﷺ.

Dari al-Barra’ bin Azib, Nabi bersabda: “Allah berfirman; ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman itu dengan ucapan yang teguh itu.” (QS. Ibrahim [14] 27).” Nabi Muhammad ﷺ, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, ‘Siapa Rabb (Tuhan)mu?’ Lalu dia menjawab, ‘Allah Rabb-ku, dan Muhammad ﷺ adalah Nabiku’.” (HR. Muslim, 5117).

Dalam hadis di atas sangat jelas, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir dalam dialog di muka menyodorkan pertanyaan kepada si mayit dengan menggunakan redaksi ‘Rabb’ (Tuhan Rububiyah) bukan ‘Ilah’ (Tuhan Uluhiyah), sebab Malaikat Munkar dan Nakir ketika memberikan pertanyaan, keduanya sama sekali tidak membedakan antara Tuhan Rububiyah dan Tuhan Uluhiyah. Keduanya adalah sama. Maka dengan kutipan dalil ini, lengkap sudah kesalahan Wahabi dalam mengonsep tauhid Rububiyah dan Uluhiyah.

Muhammad Khoiron Abdullah | Annajahsidogiri.id

About Muhammad Khoiron Abdullah

Muhammad Khoiron Abdullah
Santri kampung yang suka menulis, nyastra, ngopi dan berdiskusi! Redaksi Buletin Tauiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*