HEADLINE
Kritik Tauhid Wahabi

Mengkritik Trilogi Tauhid Wahabi (Part 2)

Kritik Tauhid Uluhiyah

Selanjutnya, terkait dengan makna tauhid Uluhiyah yang ada, Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dll, mendefinisikan Tauhid Uluhiyah dengan definisi yang sangat luas, sehingga amaliah-amaliah yang bukan ibadah pun oleh mereka dianggap sebagai ibadah.

Tidak ayal jika kemudian praktik-praktik amaliah yang mengakar di kalangan mayoritas umat Islam, seperti ziarah kubur, tawasul, tabaruk, istighasah, dll, mereka kategorikan sebagai bentuk ibadah. Oleh sebab itu, mereka tidak segan mensyirikkan amaliah-amaliah tersebut dengan dalih tidak sesuai dengan definisi tauhid Uluhiyah.

Baca Juga: Mengkritik Trilogi Tauhid Wahabi (Part 1)

Alasannnya, lagi-lagi menurut mereka, orang-orang yang melakukan ziarah kubur, istighasah, tabaruk dan tawasul kepada para nabi dan wali itu telah beribadah kepada selain Allah SWT dan telah melanggar ketentuan tauhid Uluhiyah yang berlaku, sehingga ia pantas dihukumi ahli bidah, syirik dan kafir.

Tentu saja, pernyatan Salafi Wahabi tersebut tidak mendasar dan malah menampakkan kedunguan mereka dalam bertauhid. Untuk menjawab syubhat-syubhat Wahabi ini, setidaknya ada dua poin sebagai berikut;
Pertama, adalah memahami hakikat ibadah itu sendiri, karena pada dasarnya, titik tekan Wahabi dalam mendefinisikan Tauhid Uluhiyah adalah tentang bagaimana cara beribadah dengan sepenuhnya kepada Allah. Mereka salah dalam memahami hakikat ibadah kepada Allah sehingga fatal-lah akibat yang ada.

Secara linguistik, sepertimana dilansir dalam kitab Lisanul-Arab, Imam Ibnu Mandzur berkata bahwa kata ibadah itu berasal dari akar kata ‘abada ya’budu ‘abdan. Kata al-‘Abdu berarti seorang manusia, baik ia merdeka ataupun hamba sahaya. Bentuk pluralnya adalah a’budu dan ‘abiidu (اعبد و عبيد). Asal dari kata al-‘Abdu adalah al-‘Ubudiyah, sedangkan kata al-‘Ubudiyah bermakna rendah dan ashar (الخضوع و التذلل).

Adapun secara syara’, makna ibadah adalah menunaikan suatu ibadah murni dengan kerendahan hati yang mendalam dengan beriktikad bahwa Zat yang disembah adalah Tuhan Yang Maha Esa yakni Allah SWT.

Oleh karena itu, ketika seseorang menunaikan amaliah dengan kerendahan hati yang mendalam, tetapi ia tidak beriktikad bahwa yang disembah adalah Allah SWT maka pekerjaannya masih belum bisa disebut ibadah secara syara’. Lantaran definisi inilah, kemudian kita dapat memahami dengan jelas bahwa antara apa yang dilakukan oleh umat muslim dan non-muslim itu berbeda. Contoh kecilnya adalah ibadah sembahyang atau salat.

Dalam praktik yang ada, umat non-muslim juga sembahyang, sujud dan merendahkan diri kepada objek yang disembahnya. Akan tetapi, karena mereka tidak beriktikad bahwa yang disembah adalah Zat Yang Maha Esa atau mereka beriktikad tetapi objek yang mereka sembah bukan Allah. Jelas pekerjaannya bukan dikatakan ibadah secara syara’. Hal ini tentu berbeda dengan salat, sujud dan ibadah-ibadah lain yang dilakukan oleh umat Muslim. Di samping merendahkan diri, mereka beriktikad dengan iktikad sahih bahwa yang disembah adalah Allah SWT.

Terlepas dari makna ibadah secara syara’ ini, kita dengan mudah mengetahui bahwa tuduhan Wahabi atas kesyirikan praktik-praktik tabaruk, istighasah, tawasul, dll, sama sekali tidak masuk, sebab ada dua alasan. Pertama, karena praktik-praktik tersebut sesungguhnya bukan ibadah murni, hanya perantara. Tidak lebih. Kedua, karena meski hanya sebuah wasilah, umat muslim ketika mengamalkan praktik-praktik terebut-, mereka tetap beriktikad bahwa yang disembah adalah Allah SWT bukan para nabi, lebih-lebih para wali yang menjadi wasilah mereka.
Kedua, memahami dengan baik dalil-dalil jaiz (atau bahkan disunahkan) nya mengamalkan praktik tabaruk, tawasul, istighasah, ziarah kubur, dll. Untuk masalah ini, yang perlu diperhatikan adalah bahwa semua praktik itu tidak lebih hanya sebagai wasilah atau perantara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jadi tujuan dalam mengamalkan praktik tersebut sama sekali tidak bergeser, yakni tetap bertakarub kepada Allah.

Baca Juga: Membedah Trilogi Tauhid Wahabi

Jadi, sebagaimana yang dituturkan oleh Abuya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajibu an Tusahhah, bahwa ziarah kubur, istighasah, tabaruk dan lain semacamnya kepada para nabi, shahabat, tabiin dan para wali itu murni sebagai bentuk tawasul (mengerjakan suatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah). Sementara dalil yang ada, tawasul itu jelas disyariatkan dalam agama Islam. Melalui kalam al-Quran, Allah berfirman;

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَابْتَغُوْا الَيهِ الْوَسيْلَةَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah 35)

Mengomentari ayat ini, Abuya al-Maliki menulis bahwa yang dimaksud redaksi wasilah (الْوَسيْلَةَ) di atas adalah setiap sesuatu yang Allah jadikan sebagai sebab di dalam memperoleh derajat yang dekat di sisi-Nya. Juga sebagai batu lonjatan untuk segera sampai pada tujuan atau hajat seorang hamba kepada Allah. Sementara yang dimaksud الْوَسيْلَةَ (wasilah) dalam ayat tersebut adalah wasilah yang memiliki pengaruh di sisi orang yang menjadi objek tawasulnya, seperti para nabi, shahabat, tabiin, para wali dan hamba Allah lainnya yang memiliki pengaruh ketidak di-tawasuli.

Berangkat dari pemaparan poin kedua ini, dapat kita simpulkan bahwa konsep makna tauhid Uluhiyah Wahabi yang mengatakan bahwa praktik-praktik ziarah kubur, istighasah, tabaruk dan lain-lain adalah suatu amalan yang mengandung muatan syirik menjadi gugur dan sama sekali tidak mengarah.

Muhammad Khoiron Abdullah | Annajahsidogiri.id

About Muhammad Khoiron Abdullah

Muhammad Khoiron Abdullah
Santri kampung yang suka menulis, nyastra, ngopi dan berdiskusi! Redaksi Buletin Tauiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*