Kritik Tauhid Wahabi

Mengkritik Trilogi Tauhid Wahabi (Part 3)

Kritik Tauhid Asma was Sifat

Adapun yang terakhir adalah terkait tauhid asma’ was sifat. Dalam pembahasan ini, tentu saja konsep antara Ahlusunah wal Jamaah dan Wahabi berbeda. Sebagaimana maklum, konsep tauhid asma was sifat Wahabi adalah buah pemikiran Syekh Ibnu Taimiyah. Dalam masalah keyakinan (iktikad), Syekh Ibnu Taimiyah merupakan sosok ulama yang berpandangan kaku dalam memahami al-Quran dan hadis. Dengan kata lain, beliau adalah sosok ulama tektualis, ulama yang memaknai al-Quran dan hadis sesuai dengan makna zahirnya (Ba’du Afkâri Ibni Taimiyah. Hal 27).

Baca Juga: Mengkritik Trilogi Tauhid Wahabi (Part 1-2)

Terlebih, dalam kitab Majmu’ al-Fatawa-nya, beliau mengatakan;

وَمَنْ قَالَ إِنَّ ظَاهِرَ شَيْئٍ مِنْ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ غَيْرُ مُرَادٍ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Seseorang yang mengatakan ‘jika secara zahir nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang tidak dimaksud’, maka dia telah keliru dalam memahami teks al-Qur’an ataupun hadis. (Majmu’ al-Fatawa Liibni Taimiyah. 6/358)

Lebih parah, beliau juga tidak ingin menakwil satu pun dari ayat-ayat mutasyabihat yang terdapat dalam al-Qur’an. Alasannya, takwil pada ayat-ayat mutasyabihat tak ubahnya mendistorsi kalam Allah SWT.
Nah, buah pemikiran inilah yang kemudian terus diadopsi oleh Salafi Wahabi. Sehingga dalam penerapan akidahnya, mereka semua tampak kaku dan jumud. Efek pemikiran ini, mereka semua jatuh pada ajaran tajsim, takyif, tasybih, dll, padahal, konsep yang benar sebagaimana yang dipegang teguh oleh golongan Ahlusunah Waljamaah bahwa;

لَيْسَ كَمِثْلِه شيئٌ وهُوَ السَّميعُ البّصيْرُ

Artinya, “tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura [42] 11).
Jadi jelas, semua makhluk-Nya tidak ada yang serupa dengan Allah. Mengenai konsep yang benar terkait tauhid asma was sifat adalah Ahlusunah wal Jamaah selalu menggunakan dua metode terbaiknya, sehingga dengan dua metode ini, golongan Ahlusunah wal-Jamaah tidak jatuh pada ajaran tajsim, takyif, tasybih, dll. Dua metode itu adalah takwil ijmali dan takwil tafsili.

Baca Juga: Trilogi Tauhid Salafi Wahabi

Pertama, takwil ijmali, atau bisa dikenal dengan istilah tafwidh adalah mengimani hakikat sifat dan nama Allah SWT yang terdapat di dalam al-Qur’an dan hadis dengan makna yang layak bagi Allah SWT, dengan berbekal menyucikan Allah SWT dari sifat-sifat dan nama-nama makhluk-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya nama-nama dan sifat-sifat tersebut kepada-Nya. Konsep ini dipilih oleh mayoritas ulama salaf dan sebagian pakar teolog.

Kedua, takwil tafsili adalah mengarahkan lafaz yang mengandung makna hakiki yang mustahil bagi Allah kepada makna lain yang bersifat majazi (metafor) yang mana makna tersebut boleh diucapkan pada kebesaran Dzat Allah dengan berbekal adanya indikasi (qarinah) yang menunjukkan pada makna majazi. Konsep ini dipilih oleh mayoritas pakar teolog dan satu golongan dari ulama salaf.

Muhammad Khoiron Abdullah | Annajahsidogiri.id

About Muhammad Khoiron Abdullah

Muhammad Khoiron Abdullah
Santri kampung yang suka menulis, nyastra, ngopi dan berdiskusi! Redaksi Buletin Tauiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*