Evolusi dan Penciptaan Tidaklah Bertentangan, Benarkah (?)
Banyak evolusioner Muslim yang mencoba menjodohkan antara teori evolusi dan penciptaan. Mereka menganggap Tuhan menciptakan makhluk hidup secara bertahap dan berkembang, sehingga sebenarnya tidak ada...
Banyak evolusioner Muslim yang mencoba menjodohkan antara teori evolusi dan penciptaan. Mereka menganggap Tuhan menciptakan makhluk hidup secara bertahap dan berkembang, sehingga sebenarnya tidak ada kontradiksi antara teori evolusi dan keimanan. Salah satu contohnya adalah Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya “What Is The Origin of Man?” yang secara khusus membahas topik evolusi dan penciptaan. Ia dikenal luas melalui karyanya yang lebih populer, The Bible, Quran, and Science.
Dalam bukunya tersebut, Dr. Bucaille menganalisis teori evolusi, terutama evolusi manusia, dan membandingkannya dengan ajaran Al-Qur’an. Ia sampai pada dua kemungkinan penafsiran tentang penciptaan Nabi Adam. Pertama, Adam diciptakan di luar sistem evolusi, kemudian ditempatkan di Bumi yang sudah dihuni oleh makhluk lain. Dengan kata lain, Adam ‘dimasukkan’ ke dalam ekosistem yang sudah ada. Hal ini mengharuskan Adam memiliki anatomi dan fisiologi yang mirip dengan makhluk lain agar bisa beradaptasi. Kedua, Adam merupakan bagian dari proses evolusi itu sendiri. Artinya, Adam adalah hasil dari proses evolusi yang sudah berjalan, yang kemudian dipilih oleh Tuhan untuk menerima wahyu dan menjadi manusia pertama dalam konteks keagamaan[1].
Ayat yang dijadikan pijakan oleh kaum evolusioner adalah ayat al-Baqarah ayat 30 :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء
Dalam ayat ini jelas sekali bahwa Allah ﷻ menciptakan makhluk hidup yang menjadi pemimpin di bumi sebelum Nabi Adam. Artinya Nabi Adam bukanlah penduduk bumi yang pertama, melainkan adalah bentuk evolusi dari makhluk pertama dan penduduk bumi pertama yang dipilih sebagai nabi
Lantas apakah benar pernyataan di atas?
Pernyataan bahwa evolusi merupakan bentuk kuasa Allah ﷻ dalam mengatur alam adalah keliru besar. Karena jika kita mengkaji beberapa ayat yang ada, justru sangat bertolak belakang dengan teori tersebut. Di antaranya ayat tersbeut ialah;
Al mukminun [12]: 14
Orang-Orang Mukmin (23:12)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ ١٢ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ١٣ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ١٤
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta”.
(QS. as-sajadah [32]: 9)
ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٩
“Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur”.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam)”.
Pada ayat pertama, dijelaskan tentang proses terciptanya manusia, dan pada ayat tersebut semua komponen tidaklah berubah melalui perantara seleksi alam, tapi perubahan itu terjadi secara alamiah ketika memang Sang Pencipta telah merealisasikan kehendak-Nya.
Pada ayat kedua, dipertegas bahwa seluruh kemampuan yang dimiliki manusia datang dengan tiba-tiba tanpa membutuhkan proses yang amat panjang, yang dipahami oleh kaum evolusioner.
Imam ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib nya menerangkan, bahwa Nabi adam pada awalnya merupakan sebuah tanah yang dibentuk menjadi manusia dan kemudian ditiupkan ruh kedalamnya sehingga ia bisa melihat mendengar dan memiliki hati nurani[2].
Sedangkan di ayat ketiga, Allah ﷻ mempertegas bahwa seluruh umat manusia itu tercipta dari samu insan sehingga antara penciptaan manusia dan seleksi alam tidaklah berkaitan. Ini juga semakin memperkuat bahwa Nabi Adam sama sekali tidak ada kaitannya dengan ekosistem khayalan Dr. Bucaille yang disebutkan di muka. Manusia tidak terikat oleh makhluk manapun. Manusia hanyalah keturunan Nabi Adam semata, terlebih jika mengacu pada kitab tafsir menunjukan bahwa yang dikehendaki penguasa bumi sebelum Nabi Adam adalah bangsa jin[3].
Dari uraian di atas nampak jelas bahwa antara terori evolusi dan penciptaan sangatlah kontras dan tidak bisa disatukan.
Ahmadul Jawwad | Annajahsidogiri.id
[1] https://suaramuhammadiyah.id/read/bukan-konflik-tapi-harmoni-memahami-evolusi-dalam-kacamata-islam
[2] Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, juz. 25, hlm. 121.
[3] Ibnu Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, juz. 1, hlm. 478.
No Comment! Be the first one.