• xnxx
  • xnxx
Antara Ijtihad Ulama dan Relativisme - AnnajahSidogiri.id
AnnajahSidogiri.id
No Result
View All Result
Rabu, Januari 28, 2026
  • Login
  • Terbaru
  • Aktual
    Mengucapkan “Al-Marhum” Pada Orang Kafir

    Ajaran Tauhid Para Nabi dan Rasul

    Mengapa Ektsrem Kanan Lebih Tampak Ahli Ibadah?

    Mengapa Ektsrem Kanan Lebih Tampak Ahli Ibadah?

    Dongeng Isra’ Mikraj

    Dongeng Isra’ Mikraj

    Mengapa Tidak Ada Rasul Wanita?

    Mengapa Tidak Ada Rasul Wanita?

    Maryam

    Maryam Merupakan Nabi?

    Dimensi Akidah Makhluk Ghaib

    Dimensi Akidah Makhluk Ghaib

    Mukjizat

    Kenali Mukjizat dan Fenomena Lainnya (!)  

    Teologi islam

    Teologi Islam; Dalang Kegagalan Revolusi Sains di Dunia Muslim?

    Tuhan

    Kenapa Tuhan Harus Allah?

  • Aswaja
    Imamul Mutakallimin;  Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi

    Prinsip Interaksi dengan Non-Muslim

    Awam dan Kewajibannya Terhadap Hukum Syariat

    Imamul Mutakallimin;  Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi

    Bagaimana Aswaja Memandang Rezeki?

    Wali

    Wali dan Karamah [3/3]

    karomah wali

    Wali dan Karamah [2/3]

    Wali dan Karamah [1/3]

    Arti Mimpi Melihat Allah

    Ketika Kau Membenci Ahlul Bait

    Ketika Kau Membenci Ahlul Bait

    Nabi Khidir Hanya Ilusi Sufi?

    Nabi Khidir Hanya Ilusi Sufi?

  • Liberal
    Sekularisme

    Islam vs Sekularisme Politik

    Nabi Muhammmad ﷺ Seorang Tokoh Pluralisme?

    Nabi Muhammmad ﷺ Seorang Tokoh Pluralisme?

    Analisis Misi Orientalis

    Analisis Misi Orientalis

    Syariat

    Syariat Islam Harus Dijalankan

    Kemakhlukan Al-Quran Versi Muktazilah dan Liberal

    Tuhan Tidak Adil?

    Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (2/2)

    Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (2/2)

     Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (1/2)

     Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (1/2)

    Menepis Tafsir Feminis

  • Wahabi
    Politik Wahabi vs Dinasti Utsmani (1/2)

    Politik Wahabi vs Dinasti Utsmani (1/2)

    Keterlibatan Inggris Dalam Kampanye Wahabisme

    Keterlibatan Inggris Dalam Kampanye Wahabisme

    Shalawat Nabi Dan Sejarah Kelam Wahabi

    Shalawat Nabi Dan Sejarah Kelam Wahabi

    Kontroversi Wahabi Perihal Mengatakan “ Sayyid “ Pada Nabi

    Kontroversi Wahabi Perihal Mengatakan “ Sayyid “ Pada Nabi

    Apa Yang Menjadi Dalil Boleh Baca Al-Quran di Kuburan?

    Apa Yang Menjadi Dalil Boleh Baca Al-Quran di Kuburan?

    Dusta Wahabi Terhadap Akidah Ulama (#1)

    Dusta Wahabi Terhadap Akidah Ulama (#1)

    Cikal Bakal Ideologi Tajsim

    Cikal Bakal Ideologi Tajsim

    Fitnah Wahabi Pada Imam Syafi’i Perihal Tasawuf

    Fitnah Wahabi Pada Imam Syafi’i Perihal Tasawuf

    Jimat Kalung Balita, Bidahkah?

    Jimat Kalung Balita, Bidahkah?

  • Syiah
    al-Kisai

    Menyikapi Kisah Ahlul Kisa’ dengan Benar

    Allah Adalah Dzat, Bukan Roh

    Ismailiyah: Sinkronisasi Filsafat dalam Ajaran Syiah

    Syiah

      Membedah Hadis Syiah

    Menyoal Cinta Syiah kepada Ahlul Bait

    Sekte Al-Kaysaniyyah: Antara Politik, Pembalasan, dan Penyimpangan

    Sekte Al-Kaysaniyyah: Antara Politik, Pembalasan, dan Penyimpangan

    Sekilas Tentang Politik Syiah

    Sekilas Tentang Politik Syiah

    Perkembangan Syiah di Indonesia

    Perkembangan Syiah di Indonesia

    Aliran Ghurabiyyah sekte Syiah Yang Keluar dari Arus Utama Islam

    Aliran Ghurabiyyah sekte Syiah Yang Keluar dari Arus Utama Islam

    Sekte Saba’iyah: Awal Mula Ekstremisme dalam Sejarah Islam

    Sekte Saba’iyah: Awal Mula Ekstremisme dalam Sejarah Islam

  • Lintas Agama
  • Serial Akidah Awam
  • Publikasi
    • Buletin Tauiyah
    • e-book
    • Kajian Kitab Kiai
    • Kolom
    • Konsultasi
      Jahmiyyah; Sekte Pengingkar Asma Allah

      Jahmiyyah; Sekte Pengingkar Asma Allah

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#3)

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#3)

       Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#2)

       Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#2)

      Asmaul-Husna: Apakah Cuma Sembilan Puluh Sembilan Nama?

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#1)

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#1)

      Jangan Katakan Al-Quran Makhluk !

      Jangan Katakan Al-Quran Makhluk !

      Siapa Iblis Itu?

      Siapa Iblis Itu?

      Mengapa Tahlilan Hingga 7 Hari?

      Mengapa Tahlilan Hingga 7 Hari?

      Hikmah di Balik Menabur Bunga di Atas Kuburan

      Hikmah di Balik Menabur Bunga di Atas Kuburan

    • Resensi
    • Tokoh
      al-Buthi

      Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi; al-Ghazali Kecil dari Suriah

      Strategi Membendung Aliran Sesat di Era Globalisasi

      Syekh Ahmad Zaini Dahlan; Mufti dan Pejuang Melawan Wahabi

      Syeikh Al-Baijuri:  Sang Pembela Kebenaran

      Syeikh Al-Baijuri: Sang Pembela Kebenaran

      at-Thohahawi

      Imamul Mutakallimin; Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi

      Ahmad Bin Hanbal: Amir al-Mukminin al-Hadis

      Ahmad Bin Hanbal: Amir al-Mukminin al-Hadis

      Mutiara Pembela Ahlusunnah dari Kota Mekah

      Mutiara Pembela Ahlusunnah dari Kota Mekah

      Saad al-Din at-Taftazani

      Saad al-Din at-Taftazani

      Syekh Muhammad bin Umar Al-Hadhrami

      Syekh Muhammad bin Umar Al-Hadhrami

      Al-Imam Al-Ghazali

      Al-Imam Al-Ghazali

      • Firqah
    • Wawancara
  • Video
AnnajahSidogiri.id

Antara Ijtihad Ulama dan Relativisme

Ghazali by Ghazali
19 November 2023
in Wawancara
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Antara Ijtihad Ulama dan Relativisme
182
SHARES
2.3k
VIEWS
Bagikan di FBBagikan di TwitterBagikan di WABagikan di Telegram

Seringkali terdapat kesalahpahaman dalam memandang ijtihad para ulama. Ada yang mengatakan, “bila para ulama boleh berijtihad dan menggali hukum langsung dari Al-Qur’an dan hadis, mengapa kita tidak? Kan sama-sama bertumpu pada kitab dan sunah?” Sehingga dari pemikiran yang semacam itu, banyak yang membuahkan pendapat baru dalam hukum-hukum syariat yang menyalahi pendapat-pendapat ulama sebelumnya, bahkan menyalahi pendapat yang telah muktamad. Dari sini kemudian mereka berbangga-bangga atas pendapatnya yang dianggap sendiri sebagai pendapat yang segar, bahkan mengakui diri bahwa telah melakukan gerakan modernisme dalam Islam. Nah, apakah yang demikian itu dapat dibenarkan dalam prespektif Ahlusunah wal-Jamaah? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita simak hasil wawancara Ghazali dariAnnajahsidogiri.id kepada Dr. H. Abdul Wadud Nafis, Lc., M.E.I. selaku dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, beberapa waktu yang lalu.

Bagaimana pandangan Kiai terkait ijtihad para ulama?

Ijtihad itu sederhananya merupakan usaha seorang mujtahid untuk mencapai hukum-hukum syarak. Tentu, mereka bertumpu pada Al-Qur’an dan hadis. Namun dalam menggali hukum pada kedua kompenen inti tersebut, para mujtahid tidak asal-asalan. Penuh kehati-hatian dalam menggali hukum.

Oleh karenanya, dalam kitab-kitab Fikih, ulama memberi persyaratan yang sangat ketat bagi seseorang yang hendak berijtihad dan menjadi mujtahid. Kisaran 14 syarat yang ulama paparkan, di antaranya adalah harus memiliki akidah atau iman yang benar dan sahih, menguasai ilmu bahasa, dan lain-lain.

Ada yang berpandangan bahwa ijtihad langsung pada Al-Qur’an dan hadis boleh dilakukan siapa saja. Menurut Kiai?

Tidak bisa begitu. Perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa tingkatan manusia dalam memahami hukum-hukum syariat, menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Kitab Ushûlul-Fiqhi al-Islâmy, bermacam-macam. Pertama, tingkat mujtahid mutlak. Ini tingkatan tertinggi. Ia harus paham betul segala macam bidang ilmu keagamaan. Pun, harus hafal Al-Qur’an, hadis, dan kriteria-kriterianya (meliputi sahih, daif, dan semacamnya), juga mendalam ilmu kebahasaannya yang meliputi ilmu Nahwu, Sharaf, dan Balagah, serta tak boleh terpaku pada suatu mazhab. Selain itu, ia juga mempunyai metode istinbâthul-ahkâm sendiri. Demikian ini semisal para imam mazhab yang empat; Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhmmad bin Idris asy-Syafii, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Kedua, tingkat mujtahid mazhab. Kemampuan orang yang ada pada tingkatan ini hampir sama dengan tingkatan mujtahid mutlak. Hanya saja, ia tidak memiliki metode istinbâthul-ahkâm sendiri, melainkan bersandar kepada metode imam mujtahid tertentu. Semisal Imam Nawawi yang metode istinbâth-nya. Ketiga adalah tingakatan mufti. Ia memiliki pemahaman agama yang terbilang banyak, namun belum sampai pada tingkatan kebolehan berijtihad, melainkan hanya sekadar mentarjih. Keilmuannya sudah mendekati tingkat mujtahid, namun tidak memiliki kemampuan berijtihad. Kemampuannya hanya sekadar memilih pendapat-pendapat ulama yang lebih unggul dengan menganalisis dalil-dalil ulama mujtahid.

Baca juga; Ijtihad Para Mujtahid Sekadar Opini ?

Keempat, muqallid. Seorang muqallid itu menguasai pada hukum dan juga paham pada dalil-dalilnya, hanya saja tak seluas tingkatan mufti. Kelima adalah awam. Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa orang awam adalah orang yang paham hukum namun tak memahami dalilnya sama sekali.

Nah, ini dia tingkatan orang dalam memahami agama sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Ushûlul-Fiqhi al-Islâmy. Namun sebuah keanehan terjadi sekarang. Ada orang yang tidak paham sama sekali dalil, bahkan tak paham hukum. Tingkatannya dalam memahami agama, lebih rendah ketimbang tingkatan awam. Namun sayangnya, ia memosisikan dirinya sekelas mujtahid mutlak layaknya Imam Syafii. Tentu ini salah. Sebab bisa jadi, keputusan-keputusannya nanti malah bertentangan dengan hukum-hukum yang sudah disepakati para ulama, bahkan bertentangan dengan hukum Al-Qur’an dan hadis itu sendiri.

Namun perbedaan pandang antara ulama, semisal Imam Syafii dengan Imam Malik, Imam Hanbali dengan Imam Abu Hanifah, seakan menunjukkan agama itu relativ dan siapapun berhak mengotak-atik.

Ya tidak seperti itu. Kalau perbedaan furuiyyah, selagi tidak menyalahi konsensus ulama, ya boleh-boleh saja. Sebagaimana yang sudah terjadi di antara ulama-ulama kita. Namun kalau pembahasannya ushûluddîn, tentu ini tidak boleh. Sifatnya absolut dan tak boleh diotak-atik.

Saya setuju terhadap pernyataan relativisme asal dengan makna yang positif dan hal ini sudah banyak terjadi sejak zaman salaf. Misal terkait masalah qunut antara Imam Syafii dan Imam Ahmad. Imam Syafii memandang hadis yang membahas qunut itu sanadnya sahih. Sedang Imam Ahmad memandang hadis tersebut daif sehingga beliau menghukumi qunut itu tidak sunah.

Ghazali | Annajahsidogiri.id

Previous Post

Syiah dan Sayidah Aisyah

Next Post

Mengenal Lebih Dekat Ahlulbait

Ghazali

Ghazali

Pemred Annajahsidogiri.id 1444-1445

Next Post
Mengenal Lebih Dekat Ahlulbait

Mengenal Lebih Dekat Ahlulbait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aktual
  • Aswaja
  • Buletin Tauiyah
  • e-book
  • Firqah
  • Kajian
  • Kajian Kitab Kiai
  • Kolom
  • Konsultasi
  • Liberal
  • Lintas Agama
  • Publikasi
  • Resensi
  • Serial Akidah Awam
  • Syiah
  • Tokoh
  • Wahabi
  • Wawancara

© 2012-2025 AnnajahSidogiri.ID - design theme by Tim Media ACS.

  • slot gacor
  • slot gacor
  • slot thailand
  • slot gacor
  • slot gacor hari ini
  • slot gacor
  • slot pulsa
  • slot gacor
  • slot gacor
  • slot gacor

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Terbaru
  • Aktual
  • Aswaja
  • Liberal
  • Wahabi
  • Syiah
  • Lintas Agama
  • Serial Akidah Awam
  • Publikasi
    • Buletin Tauiyah
    • e-book
    • Kajian Kitab Kiai
    • Kolom
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Tokoh
      • Firqah
    • Wawancara
  • Video

© 2012-2025 AnnajahSidogiri.ID - design theme by Tim Media ACS.

  • slot gacor
  • slot gacor