Renungan: Antara Disiplin, Tauhid, dan Haliyah Masyarakat
Di berbagai serambi pesantren, sering muncul bahan diskusi; “Mengapa golongan Ekstrem Kanan (Wahabi, Takfiri, Khilafah, dlsb.) nampak lebih rajin beribadah, purifikasi, dan mempunyai disiplin dakwah tinggi—dibanding masyarakat kita, akar rumput Ahlussunah yang acuh tak acuh dalam hal ‘Ubudiyyah?”
Baca Juga; Mengapa Tidak Ada Rasul Wanita?
Fenomena ini bukan untuk menghakimi—tapi untuk “ngaji diri”, merenungi akar dari disiplin spiritual. Selengkapnya, mari kita urai!
Disiplin Ibadah Sering Lahir dari Sistem, Bukan dari Kedalaman Tauhid
Memang, kelompok Ekstrem Kanan—secara dzahir—memiliki aturan tegas, komitmen kelompok, dan pengawasan internal. Sedangkan masyarakat kita, mayoritas Ahlussunah, hidup dalam kultur yang cair, sosial, dan tidak memaksa. Jadi wajar bila kadang kita tampak kurang rapat dalam amalan lahiriyah.
Namun Para Ulama Ahlussunah tidak hanya memandang kualitas Ibadah sebelum memahami esensi Tauhid di dalamnya: apa yang membuat ibadah memiliki ruh? Dan apa yang menjadikannya bernilai?
لَيْسَتِ الْعِبَادَةُ بِكَثْرَةِ الْحَرَكَاتِ، وَلَكِنْ بِنُورِ التَّوْحِيدِ الَّذِي يَسْكُنُ فِي الْقَلْبِ
“Ibadah itu bukan banyaknya gerakan, tetapi cahaya tauhid yang menetap di dalam hati. (Ihya’ Ulumiddin)”
Disiplin beribadah bisa dilakukan siapa saja, tetapi Tauhid—yang membuat ibadah diterima—hanya lahir dari pengetauan Aqidah yang lurus.
Mereka Mengejar Ketertiban Lahir, Ahlussunah Mengejar Kedalaman Makna Tauhid
Banyak golongan—yang fokus pada amal lahir saja, mereka berusaha menampakan sistem se-praktis mungkin, sedikit perdebatan dan sedikit cabang. Sementara kita (Ahlussunah) memilih jalan yang lebih kompleks—yang memang seharusnya ditempuh, seperti; Keharusan ber-madzhab, memahami istinbatul-hukmi, ijtihad, sanad, dan perangkat ilmu lain yang dapat menumbuhkan keutuhan Ilmu Kalam. Dalam hal ini, Imam al-Bajuri sangat mewanti-wanti;
تَصْحِيحُ الْعَقِيدَةِ هُوَ أَسَاسُ جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ، وَمَن تَغَافَلَ عَنْ تَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ، لَمْ تَنْفَعْهُ شِدَّةُ التَّقْدِيسِ.
“Memperbaiki Aqidah merupakan inti dari semua ibadah. Bagi yang tak memiliki keutuhan tauhid, keaktifan beribadah menjadi sia-sia baginya. (Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Jawharat al-Tauhid)”
Artinya, Ahlussunah lebih memprioritaskan benarnya Tauhid sebelum banyaknya amalan. Dari pesantren hingga mushalla kampung, guru-guru kita selalu mengajarkan: “Ibadah itu harus lahir dari ma’rifat, bukan sekadar rutinitas.”
Baca Juga; Bagaimana Aswaja Memandang Rezeki?
Karena Tauhid tidak hanya “meng-Esa-kan Allah”, tetapi menyerahkan seluruh makna ibadah kepada-Nya. Tentu hal ini berdasarkan prinsip dasar yang kita pegang;
الْعِبَادَةُ لَا يَصِحُّ بِنَاؤُهَا إِلَّا عَلَى عِلْمٍ بِاللَّهِ وَتَوْحِيدِهِ
“Ibadah tidak sah dibangun kecuali di atas pengetahuan tentang Allah dan tauhid kepada-Nya (al-Adzkar lin-Nawawi)”
Ahlussunah Menekankan Tauhid yang Seimbang: Ilmu, Ibadah, dan Adab
Di beberapa tempat, dijumpai kelompok yang tekun ibadah tetapi keras dalam muamalah. Ada yang rajin ritual namun memutus silaturahmi. Aswaja menyampaikan ajaran Tauhid dengan cara yang damai, dalam arti; tidak mencaci, mencederai, memonopoli kebenaran, dan merendahkan sesama muslim.
Tauhid yang lurus harus melahirkan akhlak yang lembut. Sebagaimana penuturan Imam al-Junaid al-Baghdadi;
مَنْ لَمْ يُؤَدِّ إِلَى الْخَلْقِ حُقُوقَهُمْ، لَمْ يَبْلُغْ حَقِيقَةَ التَّوْحِيدِ
“Siapa yang tidak menunaikan hak-hak manusia, ia belum mencapai hakikat tauhid (al-Luma’ fi al-Tashawwuf)”
Maka, kita harus sadari bahwa Tauhid lebih dalam dari sekadar rutinitas. Memang Ibadah yang rapi itu indah, Ibadah yang banyak itu mulia. Tetapi yang paling berharga adalah ibadah yang lahir dari Tauhid yang lurus. Di sinilah Ahlussunah mengambil jalannya: ibadah yang menyatu dengan ilmu, Tauhid yang menyatu dengan cinta, dan agama yang menyatu dengan manusia.
Akhiran, jika kita melihat ada kelompok ekstrem yang terlihat lebih Ahli Ibadah, kita tidak perlu membenci—cukup menjadikannya cermin: Apa yang bisa kita perbaiki? Bukan siapa yang harus kita salahkan! Karena dalam madrasah kehidupan, yang menang bukan yang paling keras—tetapi yang paling ikhlas.
- Fajrul Falah | Annajahsidogiri.id































































