Sikap menghormati dzurriyah Nabi Muhammad ﷺ harus tertancap di hati para Muslim. Hal itu sebab Nabi telah membimbing kita dari gelapnya kesyirikan menuju terangnya iman. Bagaimana mungkin orang yang telah berjasa kepada kita, dengan jasa yang begitu besar, lalu kita tidak membalas jasa itu dengan menjaga dan mencintai para keturunannya? Tentu demikian bukanlah ajaran Islam yang penuh rahmat.
Menjaga dan menghormati keturunan nabi pun juga sudah menjadi tradisi turun-temurun di setiap penjuru daerah Muslim dengan cara penghormatan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, simak penjelasan lengkapnya dalam wawancara Sirril Asror selaku redaksi Annajahsidogiri.id kepada KH. Qoimuddin selaku ketua Qismut-Tarbiyyah Ponpes Dalwa dan Dewan Pakar Annajah Center Sidogiri.
Apa definisi dari dzuriyah Nabi Muhammad ﷺ menurut pandangan Ulama’ salaf?
Dzurriyah Nabi dalam bahasa Arab itu dikenal dengan kata âlul bait, akan tetapi âlul bait dalam hal ini lebih khusus pada keluarga Nabi ﷺ. Memang ada perbedaan antara ulama mengenai definisi dari âlul bait; ada yang mengatakan bahwa mereka hanya tertentu pada istri-istri Nabi saja, namun pendapat yang lebih kuat adalah yang dipegang oleh jumhurul ulama’ (mayoritas ulama) yang mengatakan bahwa âlul bait adalah mereka semua yang nasabnya nyambung kepada Nabi Muhammad ﷺ dari jalur Sayyidah Fathimah, baik dari jalur ayah maupun dari jalur ibu. Makanya dikatakan di salah satu shalawat:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ
Mengapa penting bagi umat Islam untuk menghormati dzuriyah Nabi ﷺ?
Secara logika saja orang kalau mencintai Rasulullah ﷺ pasti mencintai anak cucunya, salah satu Khalifah mengatakan:
اَلْمُؤْمِنُ إِذَا أَحَبَّ أَحَدًا أَحَبَّ كَلْبَهُ
“Apabila seorang Mukmin mencintai seseorang, maka ia mencintai anjingnya.”
Artinya, orang Mukmin kalau sudah mencintai seseorang pasti mencintai apa yang berkaitan dengannya, seperti pakaian, keluarga dan perilakunya. Hal ini telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي
“Cintailah Allah karena Dia memberikan berbagai nikmat-Nya kepadamu. Dan cintailah aku karena cinta kepada Allah. Dan cintailah keluargaku karena mencintaiku.”
Baca Juga; Apakah Sistem Khilafah Bisa Diterapkan di Negara Saat Ini?
Artinya kalau kita memang mencintai Allah, maka kita harus mencintai Rasulullah ﷺ, karena Allah telah mencintai Rasulullah ﷺ, dan kalau kita memang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, maka kita harus mencintai anak cucu Rasulullah ﷺ. Tentunya cinta pada anak cucu Nabi ﷺ di sini harus dengan cinta yang tulus, bukan karena cinta karena kebaikannya ataupun yang lainnya. Maka sangatlah dusta orang yang mengatakan “Saya mencintai keturunan Rasulullah ﷺ yang bernama fulan karena kebaikannya”, karena sejatinya dia mencintai kebaikan yang ada pada dzuriyah Nabi ﷺ tersebut, bukan mencintai darah daging Rasulullah ﷺ yang melekat pada orang tersebut. Bahkan ada ancaman tentang bahaya membenci ahlul bait Nabi ﷺ sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Fatawa al-Hadisiyah yaitu hadis panjang yang di akhir hadis berbunyi;
الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ فَصَلَّى وَصَامَ ثُمَّ مَاتَ وَهُوَ مُبْغِضٌ لِأَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ دَخَلَ النَّارَ وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا صَفَنَ بَيْنَ
“Dan seandainya seorang pria berdiri tegak (beribadah) di antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim), lalu dia shalat dan berpuasa, kemudian dia mati dalam keadaan membenci Ahlul Bait Muhammad ﷺ, niscaya dia akan masuk neraka.”
Artinya, seseorang mau jungkir balik bagaimana-pun, dia shalat dan berpuasa seumur hidupnya, tapi dia membenci ahlul bait, maka ibadahnya itu tidak bisa menyelamatkan dia dari api neraka. Mungkin dia masuk neraka yang akhirnya juga masuk surga, karena dia masih beriman kepada Allah ﷻ, tapi sulit dosanya diampuni, karena dia membenci ahli bait Nabi.
Bagaimana tradisi menghormati dzuriyah Nabi ﷺ yang telah diamalkan oleh ulama salaf?
Menghormati dzuriyah Nabi ﷺ itu merupakan tradisi yang telah diamalkan oleh ulama salaf mulai dari zaman sahabat, seperti Sahabat Abu Bakar, Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lainnya. Diriwayatkan bahwa suatu hari Ibnu Abbas (sepupu Nabi dan ahli tafsir al-Quran) bertemu dengan Zaid bin Tsabit (ahli waris dan qari’ terkemuka). Ketika Zaid bin Tsabit hendak menaiki untanya, Ibnu Abbas segera memegang dan menuntun tali kekang unta tersebut untuk mempersilakan Zaid naik.
Zaid bin Tsabit yang mulia merasa sungkan dan berkata, “Lepaskanlah, wahai sepupu Rasulullah ﷺ.”
Namun, Ibnu Abbas menolak dan berkata:
(هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِكُبَرَائِنَا / هكذا نفعل بالعلماء).
“Demikianlah kami diperintahkan untuk berbuat terhadap para ulama dan orang-orang besar di antara kami”
Mendengar perkataan Ibnu Abbas yang sangat tawadhu, Zaid bin Tsabit kemudian membalas penghormatan tersebut. Zaid membungkuk dan mencium tangan Ibnu Abbas seraya berkata:
“Dan demikianlah kami diperintahkan untuk berbuat terhadap Ahlul Bait (keluarga) Nabi kami ﷺ “.
Di antara ulama salaf yang paling mencintai ahlul bait Nabi ﷺ itu adalah Imam as-Syafii. Beliau punya banyak syair yang menyatakan bahwa beliau itu pecinta ahlul bait Nabi ﷺ. Di antaranya adalah;
إِنْ كَانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ فَلْيَشْهَدِ الثَّقَلَانِ أَنِّي رَافِضِيٌّ
“Jika mencintai keluarga Muhammad ﷺ dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang, maka saksikanlah wahai dua makhluk (jin dan manusia), bahwa aku adalah orang yang dituduh menyimpang”
Imam al-Muzani yang merupakan salah satu murid Imam as-Syafii meminta bukti pada gurunya terkait kecintaan gurunya tersebut kepada ahlul bait dengan bertanya “Wahai guruku (Imam as-Syafi’i) sesungguhnya semua orang benar-benar mengetahui bahwa kamu mencintai ahlul bait Nabi, coba buktikan cinta itu dengan satu gubahan syair”. Kemudian Imam as-Syafi’I menjawab:
فَمَا زَالَ كِتْمًا مِنْكَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ بِرَدِّ جَوَابِ السَّائِلِيْنَ لَأَعْجَمُ
وَ أَكْتُمُ وُدِّيْ مَعْ صَفَاءِ مَوَدَّتِيْ لِأَسْلَمَ مِنْ قَوْلِ الْوُشَاةِ وَ أَسْلَمُ
“Sejatinya aku simpan syair ini, karena banyak orang yang mengadu domba, aku simpan cintaku yang bersih ini murni untuk mereka (ahli bait Nabi) , bahkan sengaja aku simpan agar aku selamat dari tuduhan orang-orang yang mengadu domba”
إِلى مَا أُلامُ وَحَتَّى مَتَى
أُعاتَبُ في حُبِّ هٰذا الفَتى
فَهَلْ زُوِّجَتْ غَيْرَهُ فاطِمَةُ
وَفِي غَيْرِهِ هَلْ أَتى هَلْ أَتى
“Sampai kapan aku akan dicaci maki terus, dan sekali lagi!,
sampai kapan aku akan di caci maki karena mencintai pemuda ini (ahlul bait Nabi),
dan apakah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan selain Sayyidah Fathimah?,
juga apakah ayat ‘hal atȃ diturunkan untuk selain sayyidina Ali bin Abi Thalib?”.
Dan Imam as-Syafii membuat syair untuk menolak seluruh tuduhan umat manusia di zaman beliau dengan syiiran:
إِذَا نَحْنُ فَضَّلْنَا عَلِيًّا فَإِنَّنَا
رَوَافِضُ بِالتَّفْضِيلِ عِنْدَ ذَوِي الْجَهْلِ
وَفَضْلُ أَبِي بَكْرٍ إِذَا مَا ذَكَرْتُهُ
رُمِيتُ بِنَصْبٍ عِندَ ذِكْرِيَ لِلْفَضْلِ
فَلَا زِلْتُ ذَا رَفْضٍ وَنَصْبٍ كِلَاهُمَا
بِحُبِّهِمَا حَتَّى أُوَسَّدَ بِالرِّمْلِ
“Jika aku memuji dan mengutamakan Ali, maka orang-orang yang tak berpengetahuan menyebutku Rafidhah,
Dan ketika aku menyebutkan keutamaan Abu Bakar,
aku malah dianggap Nasibi (perampas hak ahlul bait)
Biarlah, aku akan tetap mencintai keduanya (Ahlul Bait dan para sahabat),
sampai mati, kendati aku disebut Rafidhi dan Nashibi”
Maka dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa mengormati dzuriyah rasul itu sudah menjadi tradisi para sahabat dan ulama salaf setelahnya.
Apa tantangan dalam menjaga tradisi ini di zaman fitnah seperti sekarang?
Tantangan yang perlu kita lawan itu bagaimana ketika salah satu dari mereka melakukan hal-hal yang kurang berkenan di hati kita, misalnya, ada yang meminta-minta, minta dihormat, dan ujian yang lainnya. Dan itu lebih patut bukan disebut fitnah atau godaan, tapi lebih sopan disebut sebagai tantangan ujian bagi kita; bagaimana caranya kita bersabar. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersabda bahwa orang yang berbuat baik pada salah satu ahlul bait Nabi Muhammad ﷺ (keturunan beliau) dan kebaikan tersebut tidak dibalas oleh ahlul baitnya tersebut, maka beliau sendirilah yang akan membalas kebaikannya kelak di hari Kiamat. Hal ini dikatakan Nabi Muhammad ﷺ dalam Hadits yang diriwayatkan Imam at-Thabrani.
مَنْ إِصْطَنَعَ لِأَحَدٍ مِنْ وَلَدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَدًا فَلَمْ يُكَافِئْهُ بِهِاَ فَي الدُّنْياَ فَعَلَيَّ مُكَافَئَتُهُ غَدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا لَقِيَنِيْ
“Barangsiapa yang memberi bantuan (kebaikan) kepada keturunan Abdul Muthollib akan tetapi dia (keturunan Abdul Muthollib) tidak bisa membalasnya di dunia, maka saya yang akan membalasnya di hari kiamat ketika orang itu bertemu denganku”. (HR At-Thabrani)
Bahkan Imam as-Syafii mengatakan: “Kalau mereka membelah dadaku, maka mereka akan menemukan dua hal, sebelahnya berisi ilmu dan tauhid, yakni ilmu, takwa, iman, dan yang lainnya, sebelahnya lagi adalah hubbu ahlul bait (mencintai ahlul bait)”.
Baca Juga; Mengapa Ektsrem Kanan Lebih Tampak Ahli Ibadah?
Imam as-Syafii menyampaikan hal itu bukan Karena sombong tapi dalam rangka menghadapi tantangan di zamannya beliau waktu itu. Artinya semua tantangan yang didapat oleh ulama salaf, itu semua dihadapi dengan kesabaran yang tinggi. Oleh karena itu, semua ujian yang kita hadapi harus kita lalui dengan kesabaran yang tinggi sebagaimana yang telah diamalkan oleh para ulama salaf, meskipun di antara mereka (ahlul bait) ada yang tidak shalat, kita tetap wajib menghormati mereka, karena bagaimanapun mereka semua merupakan bagian dari darah daging Rasulullah ﷺ.
Bahkan termasuk keutamaaan keluarga Nabi ﷺ adalah orang yang bershalawat pada Nabi tanpa bershalawat pada keluarganya, itu seperti shalawat yang buntung. Hal itu diibaratkan orang yang seluruh badannya sempurna tapi gak punya kepala. Dan hal itupun telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:
«وَلَا تُصَلُّوا عَلَيَّ الصَّلَاةَ الْبَتْرَاءَ»، قَالُوا: وَمَا الصَّلَاةُ الْبَتْرَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنْ تَقُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَتَسْكُتُوا، بَلْ قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ».
“Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan ‘Shalawat Batra’ (Shalawat Terputus/Buntung)’.” Para sahabat bertanya, “Apakah shalawat yang terputus itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika kalian mengucapkan: ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad’, lalu kalian diam (berhenti). Akan tetapi, ucapkanlah: ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad ﷺ dan kepada keluarga Muhammad ﷺ.”
Imam as-Syafii dalam salah satu gubahan syair beliau memberikan penjelasan bahwa orang yang tidak bershalawat pada keluarga Nabi maka shalatnya tidak sempurna, meskipun shalatnya dianggap sah.
يَا أًهْلَ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ حُبُّكُمُ فَرْضٌ مِنَ اللهِ فِي الْقُرْآنِ أَنْزَلَهُ
يَكْفِيْكُمُ مِنْ عَظِيْمِ الْفَخْرِ أَنَّكُمُ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ لاَ صَلاَةَ لَهُ
“Wahai ahli bait Rasulillah ﷺ mencintai kalian adalah kewajiban yang Allah ﷻ tetapkan dalam al-Quran yang diturunkan, cukup bagi keagungan kalian semua bahwa orang yang tidak bershalawat pada kalian maka shalatnya belum sempurna”.
Sirril Asror | Annajahsidogiri.id































































