Pertanyaan mengenai apakah Yesus benar-benar disalibkan merupakan salah satu tema paling penting dalam kajian sejarah agama, khususnya dalam studi Perjanjian Baru, Islamologi, dan sejarah Kristen awal. Meski mayoritas tradisi Kristen atau Katolik menerima penyaliban sebagai fakta, terdapat berbagai sumber alternatif – baik dari teks-teks kuno, tafsir keagamaan, maupun kajian historis modern – yang mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut dapat dipertanyakan secara serius.
Konteks Sejarah Palestina Abad Pertama
Yudea, pada abad pertama berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Konflik antara otoritas Romawi dan kelompok-kelompok Yahudi yang menantang otoritas politik dan agama cukup tinggi. Dalam konteks ini, tokoh-tokoh seperti Yesus dari Nazaret sering dianggap sebagai ancaman politik atau keagamaan. Penyaliban adalah metode eksekusi Romawi yang lazim digunakan untuk menghukum pemberontak dan budak, bukan tokoh keagamaan. Namun, para sejarawan modern meragukan bahwa Yesus benar-benar disalib, sebab:
- Narasi dalam Injil mengandung elemen simbolik dan teologis yang kuat, sehingga mengaburkan fakta sejarah.
- Tidak ada catatan sekuler yang sezaman, yang menyebut penyaliban Yesus. Menurut Encyclopaedia Britannica, salah satu situs web yang memiliki kredibilitas yang tinggi dan dikenal dengan sumber informasi yang objektif, dikatakan:
“Twenty years later, according to Tacitus, Christians in Rome were prominent enough to be persecuted by Nero, and it was known that they were devoted to Christus, whom Pilate had executed (Annals 15.44). This knowledge of Jesus, however, was dependent on familiarity with early Christianity and does not provide independent evidence about Jesus.”
“Dua puluh tahun kemudian, menurut Tacitus, orang-orang Kristen di Roma cukup terkemuka untuk dianiaya oleh Nero, dan diketahui bahwa mereka mengabdi kepada Kristus, yang Pilatus telah mengeksekusi (Annals 15.44). Namun, penge-tahuan tentang Yesus ini bergantung pada keakraban dengan agama Kristen awal dan tidak memberikan bukti independen tentang Yesus.”[1]
Baca Juga; Al-Quran tidak Konsisten?
Dalam Bible, Matius 27: 51, mengatakan, “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.”
Dari empat Injil, hanya Matius yang menceritakan kejadian gempa bumi. Yohanes sama sekali tidak menyebutkan, Markus dan Lukas hanya menyebutkan tentang kegelapan yang menyelimuti dan terbelahnya tabir Bait Suci dari atas sampai ke bawah.
Ahli geologi ternama menjelaskan:
“Geologists Jefferson B. Williams, Markus J. Schwab and A. Brauer examined disturbances in sediment depositions to identify two earthquakes: one large earthquake in 31 B.C.E., and another, smaller quake between 26 and 36 C.E. In the abstract of their paper, the authors write, “Plausible candidates include the earthquake reported in the Gospel of Matthew, an earthquake that occurred sometime before or after the crucifixion and was in effect ‘borrowed’ by the author of the Gospel of Matthew, and a local earthquake between 26 and 36 AD that was sufficiently energetic to deform the sediments at Ein Gedi but not energetic enough to produce a still extant and extra-biblical historical record. If the last possibility is true, this would mean that the report of an earthquake in the Gospel of Matthew is a type of allegory.”
“Geolog Jefferson B. Williams, Markus J. Schwab dan A. Brauer meneliti gangguan pada endapan sedimen untuk mengidentifikasi dua gempa bumi: satu gempa bumi besar pada 31 SM, dan gempa bumi lain yang lebih kecil antara 26 dan 36 M. Dalam abstrak makalah mereka, penulis menulis, “Kandidat yang masuk akal termasuk gempa bumi yang dilaporkan dalam Injil Matius, gempa bumi yang terjadi beberapa saat sebelum atau setelah penyaliban dan pada dasarnya ‘dipinjam’ oleh penulis Injil Matius, dan gempa bumi lokal antara 26 dan 36 M yang cukup energik untuk merusak sedimen di Ein Gedi tetapi tidak cukup energik untuk menghasilkan catatan sejarah ekstra-Alkitab yang masih ada. Jika kemungkinan terakhir benar, ini berarti bahwa laporan gempa bumi dalam Injil Matius adalah jenis alegori.”
Mereka mengatakan gempa bumi besar pada abad 31 SM, dan gempa bumi yang lebih kecil antara abad 26 dan 36 M, sedangkan kisah penyaliban yesus terjadi pada abad 1 M.
Evolusi Narasi dalam Injil
Empat Injil kanonik dalam Perjanjian Baru –Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes – tidak menyajikan narasi penyaliban Yesus secara seragam. Sebaliknya, setiap Injil menampilkan versi yang berbeda, yang memperlihatkan adanya proses evolusi naratif dan teologis sesuai dengan kebutuhan komunitas penulisnya.
Perbedaan Karakterisasi
- Injil Markus (70 M), menggambarkan Yesus dalam penderi-taan yang sangat manusiawi, di mana Dia berseru penuh keputusasaan, sebagainama dijelaskan dalam Markus 15:34:
“Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?). (Markus 15: 34).
- Injil Matius (80-90 M), menambahkan peristiwa suprana-tural seperti gempa bumi dan kebangkitan orang mati (Matius 27:51-53), yang tidak ditemukan dalam Injil sebelumnya.
- Injil Lukas (80-90 M), menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang tenang dan penuh pengampunan, seperti ungkapan Yesus dalam Lukas 23: 34:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34).
- Injil Yohanes (90-100 M), sangat menekankan keadaan Yesus, menggambarkan Dia sebagai pribadi yang tidak mengeluh seperti dalam gambaran Bible lainnya, bahkan saat wafatnya Yesus berkata:
“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yohanes 19: 30).
Siapakah Yang Memikul Salib Yesus?
- (Markus 15:21, Matius 27:32, dan Lukas 23:26): Yesus mendapat pertolongan dari Simon dari Kirene.
- (Yohanes 19:17): Yesus memanggul salibnya sepanjang jalan.
Ketika Disalib, Yesus Meminum Anggur Atau Cuka?
- (Markus 15:23): Yesus diberi anggur yang dicampur mur, tetapi dia tidak meminumnya.
- (Markus 15:23): Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.
- (Mark 15:23 [KJV]): And they gave him to drink wine mingled with myrrh: but he received it not.
“Mereka memberinya minum anggur yang dicampur dengan mur, tetapi dia tidak menerimanya.”[2]
- (Matius 27:48 dan Lukas 23:36): Yesus diberi cuka, tidak dijelaskan Yesus meminumnya atau tidak, karena Tentara Romawi hanya memberikan Yesus minum. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia, kata “Vinegar” dari King James Version di terjemahkan menjadi “Anggur Asam”.
- (Matius 27:48 [TB]): Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.” [3]
- (Matthew 27:48 [KJV]): And straightway one of them ran, and took a spunge, and filled it with vinegar, and put it on a reed, and gave him to drink.”
“Dan segera salah satu dari mereka berlari, mengambil spons, mengisinya dengan cuka, meletakkannya pada sebatang buluh, dan memberikannya minum.”[4]
- (Lukas 23:36 [TB]): Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya.
- (Lukas 23:36 [KJV]) And the soldiers also mocked him, coming to him, and offering him vinegar.
“Dan prajurit-prajurit juga mengolok-olok Dia, datang kepadanya dan memberinya cuka”.[5]
- (Yohanes 19:29-30): Yesus diberi cuka, dan dia meminumnya (dalam terjemahan Bahasa Indonesia) akan tetapi dalam terjemahan King James Version tidak dijelaskan Dia meminumnya.
- (Yohanes 19:29-30 [TB]): Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai”. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
- (Yohanes 19:29-30 [KJV]): Now there was set a vessel full of vinegar: and they filled a spunge with vinegar, and put it upon hyssop, and put it to his mouth.
When Jesus therefore had received the vinegar, he said, it is finished: and he bowed his head, and gave up the ghost.
“Dan ada suatu wadah penuh cuka; dan mereka mengisi spons dengan cuka, meletakkannya pada hisop, dan memberikannya ke mulut-Nya.
Ketika Yesus telah menerima cuka itu, Dia berkata, ‘Sudah selesai,’ dan Dia menundukkan kepala-Nya, dan menyerah-kan nyawa-Nya.”[6]
Baca Juga; Allah itu Jabatan, Bukan Nama Tuhan
Perbedaan sudut pandang penulisan Kitab ini, tidak bisa kita nisbatkan atau sandarkan kepada penulis empat Bible ini, karena Penulis Markus, Matius, Lukas dan Yohanes tidak diketahui. Dan ini akan kami bahas tuntas dalam buku kami di jilid yang ketiga. Akan tetapi, fokus bahasan ini pada perbedaan Yesus saat di tiang salib.
Adapun Markus, berbeda sendiri dengan Matius, Lukas dan Yohanes. Mengapa ketiga Bible menggunakan “Cuka” atau “Vinegar”? Karena Yesus harus di-“paksa” memenuhi nubuatan dalam Mazmur 69: 21:
Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam. (Mazmur 69: 21).
Seandainya Mazmur ini adalah nubuatan untuk Yesus, maka jelas ngawur. Karena dalam kisah penyaliban, para penulis sama sekali tidak mencatat adanya situasi Yesus memakan apapun saat prosesi penyaliban dari awal hingga akhir. Dan jikapun ada, ini akan menjadi batu sandungan bagi Kekristenan. Sebab, Yesus mati diracun. Adapun penyaliban hanyalah sebuah tempat dimana Yesus terakhir kali menghembuskan nafas setelah efek racun sudah pada titik klimaksnya.
Perbedaan Waktu Penyaliban
Empat Injil kanonik – Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes –menyajikan kisah penyaliban Yesus dengan perbedaan signifikan dalam detail dan penekanan teologis. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa narasi penyaliban berkembang seiring waktu dan disesuaikan dengan kebutuhan serta keyakinan komunitas masing-masing penulis Injil. Misalnya:
- Injil Markus menyatakan bahwa Yesus disalibkan pada jam ketiga (pukul 9 pagi) (Markus 15:25).
- Injil Yohanes menyebutkan bahwa Yesus masih diadili pada jam keenam (pukul 12 siang) (Yohanes 19:14-15).
Perbedaan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian kronologis antara narasi-narasi tersebut.
Perbedaan Perkataan Terakhir Yesus
- Markus mencatat seruan Yesus: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” dan “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Markus 15:34 dan Matius 27:46).
- Lukas menuliskan: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserah-kan nyawa-Ku” (Lukas 23:46).
- Yohanes menyebutkan: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30).
Variasi dalam perkataan terakhir ini mencerminkan perbedaan penekanan teologis masing-masing Injil.
Perbedaan Peristiwa Terkait Penyaliban
Matius mencatat terjadinya gempa bumi dan kebangkitan orang-orang kudus setelah kematian Yesus (Matius 27:51-53), peristiwa yang tidak disebutkan dalam Injil lainnya.
Perbedaan ini seolah menunjukkan bahwa masing-masing penulis Injil menambahkan elemen-elemen tertentu untuk mendu-kung pesan teologis yang ingin disampaikan kepada komunitas mereka.
Penyaliban dalam Perspektif Paganisme dan Penebusan Dosa
Konsep seorang penyelamat ilahi yang mati dan bangkit kembali bukanlah ide unik dalam tradisi Kristen. Sebelum munculnya Kristen atau Katolik, berbagai budaya pagan telah memiliki mitos tentang dewa-dewa penyelamat yang mengalami kematian dan kebangkitan untuk menebus umat manusia.
- Osiris (Mesir):
Dewa yang dibunuh dan dibangkitkan, dianggap sebagai simbol kehidupan kekal. History.com, situs web yang dikelola oleh History Channel, yang dikenal menyajikan artikel-artikel sejarah berdasar-kan riset yang kuat dan referensi yang valid, menampilkan tulisan Mark Smith, profesor Egyptology di University of Oxford, sebagai berikut:
“Osiris tidak biasa di antara dewa Mesir karena dia sendiri telah meninggal dan telah dihidupkan kembali dalam keadaan transfigurasi baru berkat bantuan ritual yang dilakukan untuknya”.[7]
- Dionysus (Yunani):
Dionysus adalah dewa Yunani yang dikenal sebagai pelindung anggur, ekstasi, dan kehidupan. Dalam beberapa versi mitologi, ia dibunuh oleh para Titan dan kemudian dibangkitkan. Britannica menuliskan sebagai berikut:
“In Orphic legend (i.e., based on the stories of Orpheus), Dionysus – under the name Zagreus – was the son of Zeus by his daughter Porsephone. At the direction of Hera, the infant Zagreus/Dionysus was torn to pieces, cooked, and eaten by the evil Titans. But his heart was saved by Athena, and he (now Dionysus) was resurrected by Zeus through Semele. Zeus struck the Titans with lightning, and they were consumed by fire. From their ashes came the first humans, who thus possessed both the evil nature of the Titans and the divine nature of the gods.”
“Dalam legenda Orphic (yaitu, berdasarkan cerita Orpheus), Dionysus – dengan nama Zagreus – adalah putra Zeus dari putrinya Persephone. Atas perintah Hera, bayi Zagreus/ Dionysus dicabik-cabik, dimasak, dan dimakan oleh para titan yang jahat. Namun, hatinya diselamatkan oleh Athena, dan dia (sekarang Dionysus) dibangkitkan oleh Zeus melalui Semele. Zeus menyambar para Titan dengan petir, dan mereka pun terbakar. Dari abu mereka muncul manusia pertama, yang dengan demikian memiliki sifat jahat para Titan dan sifat ilahi para dewa.”[8]
- Attis (Phrygia):
Dewa vegetasi yang mati dan bangkit setiap tahun. Berikut ulasan tentang Attis dan kaitannya dengan kebangkitan.
“Attis was fundamentally a vegetation god, and in his self-mutilation, death, and resurrection he represents the fruits of the earth, which die in winter only to rise again in the spring.“
“Attis pada dasarnya adalah dewa tumbuhan, dan dalam mutilasi diri, kematian, dan kebangkitannya, ia mewakili buah-buahan di bumi, yang mati di musim dingin dan bangkit kembali di musim semi.”[9]
Polemik antara Yahudi dan Kristen Tentang Yesus dalam Talmud
Talmud adalah kumpulan tulisan yang mencakup keseluruhan hukum dan tradisi Yahudi, yang disusun dan disunting antara abad ketiga dan keenam. Ditulis dalam campuran bahasa Ibrani dan Aram, buku ini mencatat ajaran dan diskusi akademi-akademi besar di Tanah Suci dan Babilonia.[10]
Baca Juga; Allah adalah Dewa Bulan?
Salah satu teks Talmud yang kerap dikutip untuk mendukung klaim bahwa Yesus dieksekusi oleh otoritas Yahudi adalah Sanhedrin 43a. Namun, interpretasi ini perlu ditinjau secara kritis, baik dari sisi konteks teks, bahasa, maupun sejarahnya. Pemaha-man yang keliru atas teks ini sering kali digunakan untuk membenarkan tuduhan bahwa orang Yahudi bertanggung jawab atas kematian Yesus.
Sanhedrin 43a: 20
Teks dalam Talmud menyebutkan:
“On Passover Eve they hung the corpse of Jesus the Nazarene after they killed him by way of stoning. And a crier went out before him for forty days, publicly proclaiming: Jesus the Nazarene is going out to be stoned because he practiced sorcery, incited people to idol worship, and led the Jewish people astray.”
“Pada Malam Paskah mereka menggantung mayat Yesus orang Nazaret setelah mereka membunuhnya dengan cara dirajam. Dan seorang juru bicara keluar di hadapannya selama empat puluh hari, di depan umum menyatakan: Yesus orang Nazaret akan dirajam karena ia mempraktikkan ilmu sihir, menghasut orang untuk menyembah berhala, dan menyesatkan orang-orang Yahudi.”[11]
Penjelasan dan Klarifikasi:
- Teks Ibrani
וְכָרוֹז יוֹצֵא לְפָנָיו. לְפָנָיו – אִין, מֵעִיקָּרָא – לָא. וְהָתַנְיָא: בְּעֶרֶב הַפֶּסַח תְּלָאוּהוּ לְיֵשׁוּ הַנּוֹצְרִי, וְהַכָּרוֹז יוֹצֵא לְפָנָיו אַרְבָּעִים יוֹם: ״יֵשׁוּ הַנּוֹצְרִי יוֹצֵא לִיסָּקֵל עַל שֶׁכִּישֵּׁף וְהֵסִית וְהִדִּיחַ אֶת יִשְׂרָאֵל. כׇּל מִי שֶׁיּוֹדֵעַ לוֹ זְכוּת יָבוֹא וִילַמֵּד עָלָיו״. וְלֹא מָצְאוּ לוֹ זְכוּת, וּתְלָאוּהוּ בְּעֶרֶב הַפֶּסַח.
Pada kalimat תְּלָאוּהוּ לְיֵשׁוּ הַנּוֹצְרִי (Telauhu LeYeshu Hanotsri) ada kata תְּלָאוּהוּ dengan akar kata תָּלָה (Talah) yang berarti “Gantung” dan dalam Bahasa Inggris Diterjamahkan “Hung” (dalam bentuk lampau, bentuk ketiga) sesuai dengan teks Ibraninya. Tidak berarti disalib, karena untuk penggunaan kata salib dalam Ibrani Itu צְלָב (Tselav).[12]
- Nama Yesus:
Banyak sarjana ragu bahwa tokoh “Yesus” dalam Talmud secara spesifik merujuk pada Yesus dalam Perjanjian Baru atau Yesus yang diimani oleh Kristen, karena nama Yesus adalah nama yang sangat umum atau “pasaran” dalam Talmud dan dalam era Yesus ada. Seperti apa yang dijelaskan dalam Perjanjian baru:
Matius 27:17 (TB)
Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”
Juga, sebuah situs yang bergerak dalam upaya agar Yahudi tidak terjebak oleh misionaris Kristen mengatakan:
“It is important to keep in mind that there are many people in the Talmud with the same names. R. Aaron Hyman in his biographical work on the sages of the Talmud, Toldot Tannaim VeAmoraim, lists 14 Hillels, 61 Elazars, and 71 Hunas. Josephus lists approximately twenty different men named Jesus, at least ten of whom lived in the same time as the famous Jesus [cf. John P. Meier, A Marginal Jew, p. 206 n. 6]. The name Panthera was also a common name in the first two centuries [cf. L. Patterson, “Origin of the Name Panthera”, JTS 19 (1917-18), p. 79-80, cited in Meier, p. 107 n. 48].”
“Penting untuk diingat bahwa ada banyak orang di Talmud dengan nama yang sama. R. Aaron Hyman dalam karya biografinya tentang orang-orang bijak Talmud, Toldot Tannaim VeAmoraim, mencantumkan 14 Hillel, 61 Elazar, dan 71 Huna. Josephus mencantumkan sekitar dua puluh orang berbeda yang bernama Yesus, setidaknya sepuluh di antaranya hidup pada masa yang sama dengan Yesus yang terkenal [lih. John P. Meier,A Marginal Jew, hal. 206 n. 6]. Nama Panthera juga merupakan nama umum dalam dua abad pertama [lih. L. Patterson, “Origin of the Name Panthera”, JTS19 (1917-18), hal. 79-80, dikutip dalam Meier, hal. 107 n. 48].”[13]
- Masalah Kronologi:
Teks yang menyatakan bahwa Yesus dieksekusi “40 hari sebelum Paskah”, hal ini tidak sesuai dengan kronologi Injil, di mana Yesus ditangkap dan dieksekusi hanya sehari sebelumnya. Ini menunjuk-kan bahwa teks ini bukan laporan sejarah literal.
“And a crier went out before him for forty days,”
“Dan seorang juru bicara keluar di hadapannya selama empat puluh hari.”
- Mereka harus mengganti lambang ikonik yang selama ini mereka gunakan yaitu Salib menjadi Batu, kenapa? Ingat! Yesus disana mati dengan cara Dirajam bukan dengan Disalib
“afterthey killed him by way of stoning”
“setelah mereka membunuhnya dengan cara dirajam.”
- Konsekuensi logis terpahit: Jika mereka menggunakan data dari Sanhedrin untuk menguatkan argumentasi bahwa al-Quran salah, karena dalam An-Nisa 157 mengatakan “bahwa mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya”, setidaknya ada satu argumentasi dari al-Quran yang tepat, yaitu orang Yahudi mengaku telah membunuh Yesus. Dengan demikian, Kristen atau Katolik harus menghapus keimanan mereka tentang:
Kisah Para Rasul 2:32 (TB)
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
Karena Onkeloslah dalam Talmud yang membangkitkan Yesus, Bukan Allah. Sekilas tentang Onkelos, dia adalah seorang warga Romawi yang berpindah keimanan menjadi Yahudi pada era Tanna (sekitar tahun 35-120), yang menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Aram, sebuah terjemahan (yang juga merupakan sebuah interpretasi), dikenal sebagai “Targum Onkelos.” di mana karyanya digunakan oleh Yahudi dan sering pula dijadikan rujukan oleh polemikus Kristen untuk berdiskusi dengan pihak Yahudi maupun Islam. Dalam Talmud dikatakan:
“Onkelos then went and raised Jesus the Nazarene from the grave through necromancy”.
“Onkelos kemudian pergi dan membangkitkan Yesus orang Nazaret dari kubur melalui proses pemangilan roh orang yang sudah mati”.[14]
Menggunakan Sanhedrin 43a sebagai bukti bahwa Yahudi menyalibkan Yesus merupakan bentuk distorsi naratif. Teks tersebut tidak secara eksplisit menyebut metode penyaliban Romawi, tidak sesuai dengan kronologi Bible, dan kemungkinan besar tidak merujuk pada Yesus dari Nazaret, yaitu tokoh yang dituhankan dalam Perjanjian Baru. Sebaliknya, ia merupakan refleksi polemik pasca Yesus dalam konflik identitas antara Yudaisme dan Kekristenan awal.
- Fuad Abdul Wafi | Annajahsidogiri.id
[1].https://www.britannica.com/biography/Jesus/The-Jewish-religion-in-the-1st-century.
[2] https://alkitab.app/v/78f4ae74da1a.
[3] https://alkitab.app/v/8ae16b3adcaf.
[4] https://alkitab.app/v/ea0c423037c1.
[5] https://alkitab.app/v/6eddf9834ceb.
[6] https://alkitab.app/v/3e0b00bab82a.
[7].https://nationalgeographic.grid.id/read/133815817/osiris-dewa-istimewa-dalam-mitologi-mesir-yang-dianggap-dewa-kematian.
[8] https://www.britannica.com/topic/Dionysus.
[9] https://www.britannica.com/topic/Attis.
[10].https://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/3347866/jewish/What-Is-the-Talmud.htm#:~:text=The%20Talmud%20is%20a%20collection,the%20Holy%20Land%20and%20Babylonia.
[11] https://www.sefaria.org/Sanhedrin.43a.20?lang=bi&with=all&lang2=en.
[12].https://www.sefaria.org/Klein_Dictionary%2C_%D7%A6%D6%B0%D7%9C%D6%B8%D7%91.1?lang=bi&lookup=%D7%A6%D6%B0%D7%9C%D6%B8%D7%91&with=Lexicon&lang2=en.
[13] https://jewsforjudaism.org/knowledge/articles/517.
[14] https://www.sefaria.org/Gittin.57a.3?lang=bi.






























































