Tritunggal Menurut Ahli Filsafat Barat
Penelitian dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, menunjukkan bahwa doktrin Tritunggal tidak secara eksplisit diajarkan dalam Perjanjian Baru dan baru berkembang melalui perdebatan teologis selama beberapa abad. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang Tritunggal sebagai doktrin formal adalah hasil perkembangan teologis yang terjadi setelah masa kehidupan Yesus dan para utusan Yesus (apostolos).
Dalam sebuah situs web yang bernama Stanford Ensiklopedia of Philosophy,[1] dikatakan:
“Although early Christian theologians speculated in many ways on the Father, Son, and Holy Spirit, no one clearly and fully asserted the doctrine of the Trinity… until around the end of the so-called Arian Controversy.”
“Meski para teolog Kristen awal berspekulasi dengan berbagai cara tentang Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tidak ada yang dengan jelas dan sepenuhnya menegaskan doktrin Tritunggal… sampai akhir dari apa yang disebut Kontroversi Arian.”[2]
Pengaruh Filsafat Yunani dan Hellenisme Terhadap Tritunggal
Masuknya paham filsafat Yunani, khususnya Neoplato-nisme, memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran gereja, terutama dalam upaya menjelaskan relasi Allah, Yesus, dan Roh Kudus. Konsep tentang “logos” yang diadopsi dari filsafat Yunani memainkan peran dalam membentuk pemahaman tentang Yesus sebagai Firman. Konsep Logos dalam filsafat Yunani, khususnya oleh Heraclitus, menggam-barkan prinsip rasional yang mengatur kosmos. Dalam konteks ini, Logos dianggap sebagai akal Ilahi atau tatanan kosmik yang memberikan bentuk dan makna pada alam semesta. Dalam Britannica disebutkan:
“The idea of the logos in Greek thought harks back at least to the 6th-century-bce philosopher Heraclitus, who discerned in the cosmic process a logos analogous to the reasoning power in humans. Later, the Stoics, philosophers who followed the teachings of the thinker Zeno of Citium (4th–3rd century bce), defined the logos as an active rational and spiritual principle that permeated all reality. They called the logos providence, nature, god, and the soul of the universe.”
Baca Juga; Ketika Bible Menjadi Penjara Ilmu
“Gagasan logos dalam pemikiran Yunani kuno setidak-nya dapat ditelusuri kembali ke filsuf abad ke-6 SM, Heraklitus, yang menemukan dalam proses kosmik sebuah logos yang dianalogikan dengan kemampuan penalaran pada manusia. Kemudian, Stoa, para filsuf yang mengikuti ajaran pemikir Zeno dari Citium (abad ke-4 hingga ke-3 SM), mendefinisikan logos sebagai prinsip rasional dan spiritual yang aktif yang meresapi semua realitas. Mereka menyebut logos sebagai providen, alam, Tuhan, dan jiwa alam semesta.”[3]
Ajaran Bapa Gereja Awal dan Konsili Tentang Tritunggal
Doktrin Tritunggal tidak secara eksplisit diajarkan oleh Yesus atau para rasul dalam Perjanjian Baru. Sebaliknya, pemahaman ini berkembang secara bertahap melalui perdebatan teologis selama beberapa abad pertama Kekristenan. Beberapa tokoh utama yang berperan dalam pembentukan ajaran ini antara lain:
- Tertulianus (sekitar 155–240 M)
Tertulianus adalah salah satu tokoh pertama yang menggunakan istilah “Trinitas” (dalam bahasa Latin: Trinitas) untuk menjelaskan hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ia memperkenalkan konsep bahwa ketiganya adalah satu substansi namun berbeda persona. Meskipun pemaha-mannya berbeda dengan doktrin resmi yang disahkan dalam Konsili Nicaea, kontribusinya signifikan dalam perkembangan awal doktrin Tritunggal. Dalam web resmi milik gereja apostolik baru internasional, dijelaskan:
“Tertullian emphasized the oneness of God: ‘one [divine] substance in three persons’ (Latin: una substantia tres personae). He was also the first to apply the term ‘person’ to the Father, the Son, and the Holy Spirit.”
“Tertullian menekankan keesaan Tuhan: ‘satu substansi [Ilahi] dalam tiga pribadi’ (Latin: una substantia tres personae). Dia juga orang pertama yang menerapkan istilah ‘pribadi’ pada Bapa, Putra, dan Roh Kudus.”[4]
- Athanasius dari Aleksandria (295–373 M)
Athanasius adalah tokoh penting dalam Konsili Nicaea (325 M) yang menentang ajaran Arius, yang menyatakan bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan dan bukan sehakikat dengan Allah Bapa. Ia memperjuangkan istilah homoousios – Anak satu substansi dengan Bapa – sebuah istilah yang tidak ada dalam Bible. Athanasius berperan penting dalam mengembangkan doktrin Tritunggal yang menyatakan bahwa Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Kudus adalah tiga pribadi dalam satu hakikat yang sama. Dalam web resmi milik gereja ortodoks di Amerika, dikatakan:
“Saint Athanasius was a leader at that council in promoting the crucial word homoousios as most fitting to affirm the truth that the Son of God has the same uncreated divine nature as God the Father.”
“Santo Athanasius adalah seorang pemimpin dalam dewan itu yang mempromosikan kata penting homo-ousios sebagai yang paling tepat untuk menegaskan kebenaran bahwa Putra Tuhan memiliki sifat ilahi yang tidak diciptakan sama seperti Tuhan Bapa.”[5]
- Gregorius dari Nazianzus (329–390 M)
Gregorius, yang dikenal sebagai salah satu Bapa Kapadokia, berperan penting dalam merumuskan ajaran Tritunggal. Ia menekankan bahwa ketiga pribadi dalam Tritunggal adalah satu hakikat (homoousios), tetapi dengan perbedaan dalam peran dan hubungan mereka satu sama lain. Ia berusaha menjelaskan bahwa Tuhan Bapa, Yesus, dan Roh Kudus memiliki kesatuan hakikat yang tidak terbagi, meskipun masing-masing pribadi memiliki tugas yang berbeda. Dikutip dari situs Reasons to Believe (RTB), didirikan pada tahun 1986 oleh astrofisikawan Kristen yang terkenal di dunia, dia adalah Hugh Ross, dikatakan:
“The Cappadocian fathers affirmed the Nicene orthodoxy of the Father and Son being homoousios (of one substance) and joined with it the Origenist view that the Father, the Son, and the Holy Spirit are three hypostases (persons).”
“Bapa-bapa Kapadokia menegaskan ortodoksi Nikea bahwa Bapa dan Putra adalah homoousios (dari satu substansi) dan menggabungkannya dengan pandangan Origenis bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga hypostases (pribadi).”[6]
Dengan demikian, doktrin Tritunggal merupakan hasil perkembangan teologis yang terjadi melalui konsili-konsili gereja dan pemikiran para Bapak Gereja, bukan ajaran eksplisit dari Yesus atau para utusan Yesus.
Baca Juga; Membedah Ajaran Tritunggal #1
Doktrin Tritunggal, sebagaimana dikenal saat ini, tidak serta merta melalui perjanjian yang mudah. Konsep ini berkembang melalui perdebatan teologis yang intens di kalangan gereja awal, yang berpuncak pada dua konsili penting: Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M).
- Konsili Nicea (325 M)
Konsili Nicea adalah konsili ekumenis pertama dalam sejarah Gereja Kristen yang diadakan pada tahun 325 M di kota Nicea, Bitinia (sekarang İznik, Turki). Konsili ini dipimpin oleh Kaisar Romawi Konstantin Agung dan dihadiri oleh sekitar 300 uskup dari berbagai wilayah Kekaisaran Romawi.
Tujuan utama konsili ini adalah untuk menyelesaikan kontroversi tentang ajaran Arius, seorang presbiter dari Aleksandria yang menolak keilahian Yesus Kristus. Arius berpendapat bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan Tuhan Bapa dan bukan Tuhan yang sejati.
Konsili Nicea menghasilkan Pengakuan Iman Nicea, yang menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah “satu substansi” (homoousios) dengan Tuhan Bapa, dan bahwa Ia adalah Tuhan yang sejati. Pengakuan iman ini menjadi dasar bagi doktrin Trinitas dalam Gereja Kristen.
Termaktub dalam situs Britannica:
“The council deemed Arianism a heresy and enshrined the divinity of Christ by invoking the term homoousios (Greek: ‘of one substance’) in a statement of faith known as the Creed of Nicaea.”
“Majelis konsili menganggap Arianisme sebagai bidat dan meneguhkan keilahian Kristus dengan menggu-nakan istilah homoousios (Yunani: ‘dari satu substansi’) dalam pernyataan iman yang dikenal sebagai Penga-kuan Iman Nicea.”[7]
- Konsili Konstantinopel (381 M)
Meskipun Konsili Nicea telah menetapkan keilahian Yesus, status Roh Kudus masih menjadi perdebatan. Beberapa kelompok, seperti para pengikut Makedonius, berpendapat bahwa Roh Kudus adalah makhluk ciptaan dan bukan Allah sejati.
Konsili Konstantinopel, yang diselenggarakan oleh Kaisar Theodosius I, memperluas Kredo Nicea untuk menegaskan keilahian Roh Kudus, menyatakan bahwa Roh Kudus “disembah dan dimuliakan bersama dengan Bapa dan Anak.” Tertulis dalam Britannica:
“The Council of Constantinople also declared finally the Trinitarian doctrine of the equality of the Holy Spirit with the Father and the Son.”
“Konsili Konstantinopel juga akhirnya menyatakan doktrin Tritunggal tentang kesetaraan Roh Kudus dengan Bapa dan Putra.”[8]
Kesimpulan dari doktrin Tritunggal ini, sebagaimana dirumuskan dalam Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel, merupakan hasil perkembangan teologis yang kompleks dan tidak secara eksplisit diajarkan oleh Yesus atau Bible. Istilah seperti homoousios tidak ditemukan dalam Bible, melainkan diperkenalkan dalam konteks perdebatan untuk melawan ajaran yang dianggap sesat pada masa itu.
- Fuad Abdul Wafi | Annajahsidogiri.id
[1] Web ini dipimpin oleh John Richard Perry sebagai direktur. Ia adalah seorang filsuf Amerika yang merupakan profesor emeritus di Stanford University dan University of California, Riverside. Dia telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap filsafat di bidang filsafat bahasa, metafisika, dan filsafat pikiran.
[2] https://plato.stanford.edu/entries/trinity/trinity-history.html.
[3] https://www.britannica.com/topic/logos.
[4].https://nak.org/en/aboutthenac/catechism?id=58ad79b2-c351-4806-a00f-8505846ecc41.
[5].https://www.oca.org/orthodoxy/the-orthodox-faith/church-history/fourth-century/saint-athanasius-and-his-defence-of-nicea.
[6].https://reasons.org/explore/blogs/reflections/three-church-fathers-defended-the-trinity.
[7] https://www.britannica.com/event/First-Council-of-Nicaea-325.
[8] https://www.britannica.com/event/First-Council-of-Constantinople-381.
































































