Menjadi manusia merupakan sebuah anugerah. Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ memiliki keunggulan yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia diberi akal untuk berpikir dan hati untuk merasa. Selain itu manusia memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.
Menjadi manusia juga harus menanggung beban yang ditimbulkan dari ketiga anugerah itu. Karena akal kerap menimbulkan keraguan, hati kadang terluka oleh kehilangan. Dan kebebasan membuat manusia kerap dihantui oleh penyesalan atas pilihan yang salah.
Penyesalan bukan hanya muncul dari kesalahan yang besar, tetapi juga hal-hal kecil, seperti kata-kata yang tidak sempat diucapkan, kesempatan yang dibiarkan lewat atau mimpi yang tertinggal karena takut gagal ketika memulai. Bagi seorang Muslim kadang penyesalan timbul karena ia kerap melakukan perbuatan dosa yang dilarang oleh agama. Hingga penyesalan itu kadang kala membuat ia berandai-andai; “Andai aku tidak tercipta sebagai manusia, mungkin perbuatan dosa tidak akan pernah kuperbuat dan aku bisa masuk surga kelak”. Dalam Islam pernyataan ini memiliki konsekuensi hukum di baliknya.
Baca Juga: Karakteristik Interpretasi Sahabat Nabi
Apa hukum di balik perandaian di atas?
Kiai Ahmad Nawawi bin Abd. Djalil dalam buku Di manakah Allah (hal. 202-203) menyatakan orang yang di dalam hatinya melakukan perandaian di atas dapat dikatakan sebagai:
- Orang yang tidak sabar. Sebab yang dinamakan sabar, beliau mengutip definisi dari Dzun-nun al-Mishri dalam kitab Is’adur Rafiq (II/14), adalah menjauhkan diri dari pelanggaran dan tenang ketika dirundung cobaan. Juga di kitab yang sama dijelaskan hakikat sabar adalah teguhnya pendorong agama ketika dihadapkan dengan pendorong hawa nafsu.
- Orang yang tidak bersyukur atas pemberian Allah. Sebab syukur adalah berperilakunya seorang hamba dengan mematuhi janji dan berkhidmah. Ada yang mengatakan orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri apa adanya.
- Orang yang putus asa. Bila ia punya anggapan bahwa perbuatan dosa yang ia lakukan membuatnya mustahil masuk surga. Dan bila orang tersebut merasa tidak rida dengan Qadha’ dan Qadar Allah ﷻ, maka orang tersebut telah melakukan dosa besar bahkan bisa menjerumuskannya pada kekafiran. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis qudsi:
: مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وقدرئ فليطلب ربا سواي
“Barang siapa yang tidak rela dengan Qadha’ dan Qadarku, maka carilah tuhan selain Aku”
Pada dasarnya perasaan menyesal merupakan hal yang wajar, bahkan bisa mengantarkan seseorang untuk bertaubat. Namun, ketika penyesalan berubah menjadi keputusasaan hingga berandai-andai tidak ingin diciptakan sebagai manusia, itu berbahaya karena bisa mengarahkan pada sikap tidak bersyukur dan putus asa atas rahmat Allah ﷻ yang dapat menjerumusukan pada kekufuran.
Dari pada berandai-andai yang memiliki konsekuensi berbahaya, sebaiknya orang yang mengalami penyesalan sebagaimana tadi melakukan hal berikut:
Baca Juga: Murjiah: Sekte Pemberi Harapan Palsu
- Bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Menyadari bahwa setiap manusia wajar berbuat dosa, tetapi Allah ﷻ maha pengampun.
Allah berfirman “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar: 53)
- Bersyukur tercipta sebagai manusia.
Manusia memiliki anugerah akal, hati dan kebebasan memilih yang tidak dimiliki makhluk lain yang di dalamnya juga terkandung amanah. Dengan mensyukurinya seorang akan lebih fokus pada potensi kebaikan daripada penyesalan.
- Menguatkan iman dan mulai memperbanyak amal shalih.
Karena penyesalan seharusnya menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk putus asa.
- Memperbaiki cara pandang terhadap dosa.
Dosa bukan alasan untuk membenci diri sendiri, melainkan tanda bahwa manusia butuh Allah ﷻ. Semakin sadar akan kelemahan, semakin dekat ia bisa dengan Allah ﷻ melalui doa dan ibadah.
- Bersyukur atas penyesalan tersebut.
Karena penyesalan yang kau alami menunjukan bahwa kau masih diberi kesempatan oleh Allah ﷻ untuk kembali padanya. Tanpa penyesalan mungkin kau akan terus melakukan dosa dan semakin terjerumus padanya.
- Mencari lingkungan yang mendukung.
Sebagai ikhtiyar supaya penyesalan terhadap dosa tidak kembali terjadi, kau harus mencari lingkungan yang dapat mengantarkanmu kembali ke jalan kebaikan. Di antara lingkungan tersebut adalah bergaul dengan orang-orang saleh, mengikuti kajian mereka, atau memperdalam ilmu agama agar hati lebih tenang dan tidak mudah putus asa.
Muhammad Aminulloh | Annajahsidogiri.id






























































