• xnxx
  • xnxx
Garis Besar Taklid Diranah Akidah - AnnajahSidogiri.id
AnnajahSidogiri.id
No Result
View All Result
Kamis, Januari 8, 2026
  • Login
  • Terbaru
  • Aktual
    Dimensi Akidah Makhluk Ghaib

    Dimensi Akidah Makhluk Ghaib

    Mukjizat

    Kenali Mukjizat dan Fenomena Lainnya (!)  

    Teologi islam

    Teologi Islam; Dalang Kegagalan Revolusi Sains di Dunia Muslim?

    Tuhan

    Kenapa Tuhan Harus Allah?

    Percaya Hari Sial, Bisa Fatal!

    Wali Jadzab; Penyebab dan Cara Membedakannya

    peran taurat

    Peran Taurat dalam Penulisan Al-Quran

    Burung gagak

    Burung Gagak Pertanda Kematian?

    Matan as-Sanusiyyah; Kitab Tipis, Sarat Makna

    Matan as-Sanusiyyah; Kitab Tipis, Sarat Makna

  • Aswaja
    Imamul Mutakallimin;  Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi

    Prinsip Interaksi dengan Non-Muslim

    Awam dan Kewajibannya Terhadap Hukum Syariat

    Imamul Mutakallimin;  Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi

    Bagaimana Aswaja Memandang Rezeki?

    Wali

    Wali dan Karamah [3/3]

    karomah wali

    Wali dan Karamah [2/3]

    Wali dan Karamah [1/3]

    Arti Mimpi Melihat Allah

    Ketika Kau Membenci Ahlul Bait

    Ketika Kau Membenci Ahlul Bait

    Nabi Khidir Hanya Ilusi Sufi?

    Nabi Khidir Hanya Ilusi Sufi?

  • Liberal
    Sekularisme

    Islam vs Sekularisme Politik

    Nabi Muhammmad ﷺ Seorang Tokoh Pluralisme?

    Nabi Muhammmad ﷺ Seorang Tokoh Pluralisme?

    Analisis Misi Orientalis

    Analisis Misi Orientalis

    Syariat

    Syariat Islam Harus Dijalankan

    Kemakhlukan Al-Quran Versi Muktazilah dan Liberal

    Tuhan Tidak Adil?

    Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (2/2)

    Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (2/2)

     Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (1/2)

     Membantah Isu Feodalisme dalam Pesantren (1/2)

    Menepis Tafsir Feminis

  • Wahabi
    Politik Wahabi vs Dinasti Utsmani (1/2)

    Politik Wahabi vs Dinasti Utsmani (1/2)

    Keterlibatan Inggris Dalam Kampanye Wahabisme

    Keterlibatan Inggris Dalam Kampanye Wahabisme

    Shalawat Nabi Dan Sejarah Kelam Wahabi

    Shalawat Nabi Dan Sejarah Kelam Wahabi

    Kontroversi Wahabi Perihal Mengatakan “ Sayyid “ Pada Nabi

    Kontroversi Wahabi Perihal Mengatakan “ Sayyid “ Pada Nabi

    Apa Yang Menjadi Dalil Boleh Baca Al-Quran di Kuburan?

    Apa Yang Menjadi Dalil Boleh Baca Al-Quran di Kuburan?

    Dusta Wahabi Terhadap Akidah Ulama (#1)

    Dusta Wahabi Terhadap Akidah Ulama (#1)

    Cikal Bakal Ideologi Tajsim

    Cikal Bakal Ideologi Tajsim

    Fitnah Wahabi Pada Imam Syafi’i Perihal Tasawuf

    Fitnah Wahabi Pada Imam Syafi’i Perihal Tasawuf

    Jimat Kalung Balita, Bidahkah?

    Jimat Kalung Balita, Bidahkah?

  • Syiah
    al-Kisai

    Menyikapi Kisah Ahlul Kisa’ dengan Benar

    Allah Adalah Dzat, Bukan Roh

    Ismailiyah: Sinkronisasi Filsafat dalam Ajaran Syiah

    Syiah

      Membedah Hadis Syiah

    Menyoal Cinta Syiah kepada Ahlul Bait

    Sekte Al-Kaysaniyyah: Antara Politik, Pembalasan, dan Penyimpangan

    Sekte Al-Kaysaniyyah: Antara Politik, Pembalasan, dan Penyimpangan

    Sekilas Tentang Politik Syiah

    Sekilas Tentang Politik Syiah

    Perkembangan Syiah di Indonesia

    Perkembangan Syiah di Indonesia

    Aliran Ghurabiyyah sekte Syiah Yang Keluar dari Arus Utama Islam

    Aliran Ghurabiyyah sekte Syiah Yang Keluar dari Arus Utama Islam

    Sekte Saba’iyah: Awal Mula Ekstremisme dalam Sejarah Islam

    Sekte Saba’iyah: Awal Mula Ekstremisme dalam Sejarah Islam

  • Lintas Agama
  • Serial Akidah Awam
  • Publikasi
    • Buletin Tauiyah
    • e-book
    • Kajian Kitab Kiai
    • Kolom
    • Konsultasi
      Jahmiyyah; Sekte Pengingkar Asma Allah

      Jahmiyyah; Sekte Pengingkar Asma Allah

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#3)

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#3)

       Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#2)

       Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#2)

      Asmaul-Husna: Apakah Cuma Sembilan Puluh Sembilan Nama?

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#1)

      Takdir Dan Pertanyaan-Pertanyaan Membingungkan (#1)

      Jangan Katakan Al-Quran Makhluk !

      Jangan Katakan Al-Quran Makhluk !

      Siapa Iblis Itu?

      Siapa Iblis Itu?

      Mengapa Tahlilan Hingga 7 Hari?

      Mengapa Tahlilan Hingga 7 Hari?

      Hikmah di Balik Menabur Bunga di Atas Kuburan

      Hikmah di Balik Menabur Bunga di Atas Kuburan

    • Resensi
    • Tokoh
      al-Buthi

      Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi; al-Ghazali Kecil dari Suriah

      Strategi Membendung Aliran Sesat di Era Globalisasi

      Syekh Ahmad Zaini Dahlan; Mufti dan Pejuang Melawan Wahabi

      Syeikh Al-Baijuri:  Sang Pembela Kebenaran

      Syeikh Al-Baijuri: Sang Pembela Kebenaran

      at-Thohahawi

      Imamul Mutakallimin; Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi

      Ahmad Bin Hanbal: Amir al-Mukminin al-Hadis

      Ahmad Bin Hanbal: Amir al-Mukminin al-Hadis

      Mutiara Pembela Ahlusunnah dari Kota Mekah

      Mutiara Pembela Ahlusunnah dari Kota Mekah

      Saad al-Din at-Taftazani

      Saad al-Din at-Taftazani

      Syekh Muhammad bin Umar Al-Hadhrami

      Syekh Muhammad bin Umar Al-Hadhrami

      Al-Imam Al-Ghazali

      Al-Imam Al-Ghazali

      • Firqah
    • Wawancara
  • Video
AnnajahSidogiri.id

Garis Besar Taklid Diranah Akidah

Redaksi by Redaksi
28 Juni 2024
in Aswaja
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Garis Besar Taklid Diranah Akidah
194
SHARES
2.4k
VIEWS
Bagikan di FBBagikan di TwitterBagikan di WABagikan di Telegram

Merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap umat beragama untuk meyakini keberadaan tuhan mereka. Keyakinan ini dapat dicapai apabila seorang hamba mengenal tuhannya. Dalam islam, makrifat(mengenal tuhan) merupakan sebuah kewajiban yang mendasar. Dalam prakteknya, ditemukan dua cara untuk makrifat sebagaimana yang dapat kita jumpai dalam literatur-literatur klasik yang fokus membahas akidah. Dua cara tersebut yaitu nazhar dan taklid. Pembahasan tentang nazhar dapat dibaca kembali dalam tulisan sebelumnya.  Untuk kali ini penulis mencoba menguraikan cara kedua yaitu taklid dan garis besarnya dalam akidah.

Definisi Taklid

Dalam gramatika arab, kata taklid merupakan bentuk masdar dari fi’il قلّد-يقلّد   yang artinya mengalungkan atau menggantungkan. Secara terminologi, syaikh Ibrahim al-Baijuri mengatakan; ” taklid adalah mengimani keyakinan yang terkandung dalam ungkapan orang lain tanpa mengetahui dalil kebenarannya”.[1] Sedangkan taklid menurut as-Sanusi adalah kemantapan hati yang sesuai dengan aqâid iman meskipun tanpa mengetahui dalil kebenarannya. Ulama menyebut orang yang bertaklid sebagai “muqallid” yang merupakan bentuk isim fa’il(pelaku) dari fi’il di atas.

Kebalikan dari muqallid adalah ârif, yakni orang yang mengimani suatu keyakinan beserta mengetahui dalil-dalilnya. As-Sanusi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara keduanya seperti sekelompok orang yang sedang melihat hilal. Beberapa dari mereka melihatnya terlebih dahulu, kemudian mengabarkannya kepada yang lain. Golongan yang mendapat kabar tersebut apabila menerima dan meyakininya tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut maka mereka disebut muqallid. Namun jika mereka masih meminta petunjuk lebih lanjut sampai mampu melihat hilal dengan mata kepala mereka sendiri, maka tidak lagi disebut sebagai muqallid, melainkan tergolong sebagai ârif.[2]

 Pandangan Ulama Tentang Taklid

Keimanan seorang muqallid masih diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mengatakan bahwa beriman tidak cukup hanya dengan taklid semata, sebagian yang lain menyebutkan sebaliknya. Lebih jelasnya, perbedaan ini dapat dikelompokkan menjadi enam pendapat:

Pertama, taklid tidak dianggap cukup dalam keimanan seseorang, sehingga menyebabkan sang mukallid dianggap kafir. Pendapat ini disetujui oleh As-Sanusi dalam kitabnya Al-Kubra.

Kedua, taklid dianggap cukup namun muqallid terhitung bermaksiat sebab meninggalkan nazhar, baik dia mampu melakukannya atau tidak.

baca juga: Kerancuan Kebatinan

Ketiga, cukup dengan taklid dan dianggap bermaksiat jika ia memiliki kemampuan nazhar tapi tidak melakukannya.

Keempat, orang yang bertaklid pada Al-Qur’an dan Sunnah yang qath’i. Maka keimanannya dianggap shahîh sebab keduanya sudah pasti kebenarannya. Sedangkan jika seseorang bertaklid pada selain dua tersebut maka keimanannya dianggap tidak shahîh, sebab tidak terbebas dari kekhawatiran jatuh dalam i’tiqâd(keyakinan) yang keliru.

Kelima, taklid dianggap cukup dan mukallid tidak terhitung bermaksiat secara mutlak. Pendapat ini melihat dari sudut pandang bahwa nazhar hanyalah syartul kamal (penyempurna). Seseorang yang memiliki kemampuan nazhar namun tidak melaksanakannya, hanya dianggap meninggalkan hal yang utama.

Keenam, imannya seorang mukallid dianggap sahih dan nazhar haram baginya. Hal ini terjadi apabila dalil yang ada bercampur dengan filsafat-filsafat yang keluar dari prinsip tauhid dalam islam.[3]

Al-Imam Baijuri dalam Tuhfatul murîd menuturkan bahwa di antara semua pendapat ulama di atas, pendapat ketigalah yang diunggulkan. Kemudian beliau menjelaskan pula bahwa titik khilafiyah(perbedaan) ini hanya terletak pada nazhar sebagai perantara untuk makrifah kepada Allahﷻ. Khilafiyah ini juga hanya terjadi pada taklid yang jazim (kokoh), yakni si muqallid tetap dalam keyakinannya meskipun seandainya pihak yang menjadi muqallad (yang diikuti keyakinanya) mencabut keyakinannya. Namun, jika si mukallid masih ragu atau keyakinannya hanya berdasar pada dzon (praduga) saja, maka ulama sepakat atas ketidak absahan iman si mukallid.

Dari semua penjalasan di muka, dapat kita simpulkan bahwa dalam aspek i’tiqad atau keyakinan, dibutuhkanlah nazhar agar terbebas dari label taklid. Sebagai tambahan, ada sedikit kisah menarik tentang imam Al-Ashma’i  yang pernah bertanya pada seorang arab badui, beliau bertanya pada si badui “Dengan apa engkau mengetahui tuhanmu? Si badui menjawab “kotoran unta menunjukkan adanya unta. Jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan. Demikian pula langit dan bumi beserta segala isinya menunjukkan adanya sang pencipta.”[4]

Berpikir dengan logika sederhana semacam ini dapat membebaskan seseorang dari label mukallid, sehingga hal ini menjadi kewajiban semua orang mukallaf tanpa terkecuali.

 

Moch. Muzakki Zen | AnnajahSidogiri.Id

 

[1] Al-Baijuri, Tuhfatul Murîd, hlm. 48 cet. Darul kutub islamiyah.

[2] Al-Baijuri, Tuhfatul Murîd, hlm. 48-49.

[3] Al-Baijuri, Tuhfatul Murîd, hlm. 48-49.

[4] Sidogiri media, edisi 177, jumadats tsaniyah 1443 H.

Previous Post

Kerancuan Kebatinan

Next Post

Mujarrad Maqâlât as-Syaikh Abi Al-Hasan al-Asyari

Redaksi

Redaksi

Annajahsidogiri.id merupakan website Annajah Center Sidogiri (ACS), yang memegang teguh prinsip moderat dalam segala hal, sesuai dengan konsep Ahlusunnah Waljamaah.

Next Post
Mujarrad Maqâlât as-Syaikh Abi Al-Hasan al-Asyari

Mujarrad Maqâlât as-Syaikh Abi Al-Hasan al-Asyari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aktual
  • Aswaja
  • Buletin Tauiyah
  • e-book
  • Firqah
  • Kajian
  • Kajian Kitab Kiai
  • Kolom
  • Konsultasi
  • Liberal
  • Lintas Agama
  • Publikasi
  • Resensi
  • Serial Akidah Awam
  • Syiah
  • Tokoh
  • Wahabi
  • Wawancara

© 2012-2025 AnnajahSidogiri.ID - design theme by Tim Media ACS.

  • slot gacor
  • slot gacor
  • slot thailand
  • slot gacor
  • slot gacor hari ini
  • slot gacor
  • slot pulsa
  • slot gacor
  • slot gacor
  • slot gacor

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Terbaru
  • Aktual
  • Aswaja
  • Liberal
  • Wahabi
  • Syiah
  • Lintas Agama
  • Serial Akidah Awam
  • Publikasi
    • Buletin Tauiyah
    • e-book
    • Kajian Kitab Kiai
    • Kolom
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Tokoh
      • Firqah
    • Wawancara
  • Video

© 2012-2025 AnnajahSidogiri.ID - design theme by Tim Media ACS.

  • slot gacor
  • slot gacor