Nicolaus Copernicus
Nicolaus Copernicus (1473–1543) adalah astronom Polandia yang mencetuskan model heliosentris, bahwa matahari, bukan bumi, adalah pusat dari alam semesta.
Mengapa Pandangannya Dianggap Sesat?
Pandangan heliosentris mengguncang doktrin gereja, yang meyakini bumi sebagai pusat ciptaan Tuhan, sebagaimana diajarkan dalam Aristotelian-Ptolemaic model yang sudah disahkan oleh gereja sejak Abad Pertengahan:[4]
“The Aristotelian system, however, resonated with the teachings of the Roman Catholic Church during the Middle Ages, especially in the writings of St. Thomas Aquinas in the 13th century, and later, during the period of the Counter-Reformation in the 16th and early 17th century, it ascended to the status of religious dogma. Thus did the notion of an Earth-centred universe become gradually enmeshed in the politics of religion. Also welcome in an age that insisted on a literal interpretation of the Scriptures was Aristotle’s view that the living species of Earth were fixed for all time”
“Namun, sistem Aristoteles selaras dengan ajaran Gereja Katolik Roma selama Abad Pertengahan, khususnya dalam tulisan-tulisan St. Thomas Aquinas pada abad ke-13, dan kemudian, selama periode Kontra-Reformasi pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, sistem ini naik ke status dogma agama. Dengan demikian, gagasan tentang alam semesta yang berpusat pada Bumi secara bertahap terjalin dalam politik agama. Pandangan Aristoteles bahwa spesies hidup di Bumi bersifat tetap untuk selamanya juga diterima di zaman yang menuntut penafsiran harfiah Kitab Suci.”
Baca Juga: Menyikapi Fenomena Gus-Gus Kontroversial
Walau Copernicus meninggal pada tahun penerbitan bukunya (1543), Gereja lambat laun menyadari bahayanya teori ini. Dan mengeluarkan sebuah dekrit:[5]
“This Holy Congregation has also learned about the spreading and acceptance by many of the false Pythagorean doctrine, altogether contrary to the Holy Scripture, that the earth moves and the sun is motionless, which is also taught by Nicolaus Copernicus’ On the Revolution of the Heavenly Spheres.”
“Kongregasi Suci ini juga telah belajar tentang penyebaran dan penerimaan oleh banyak orang terhadap doktrin Pythagoras yang salah, yang sepenuhnya bertentangan dengan Kitab Suci, bahwa bumi bergerak dan matahari tidak bergerak, yang juga diajarkan oleh Nicolaus Copernicus dalam bukunya On the Revolution of the Heavenly Spheres.”
Di sini, Martin Luther memang pernah mengecam Copernicus, meskipun bukan secara resmi dalam tulisan-tulisannya, tetapi melalui komentar-komentar lisan:
“One of those critics was Martin Luther, the infamous Vatican critic who was one of the founders of the Reformation. Luther stated that “This fool wishes to reverse the entire science of astronomy; but sacred Scripture tells us that Joshua commanded the Sun to stand still, and not the Earth.” The Vatican did eventually ban “On the Revolutions of the Heavenly Spheres” in 1616.”
“Salah satu kritikus tersebut adalah Martin Luther, kritikus Vatikan yang terkenal yang merupakan salah satu pendiri Reformasi. Luther menyatakan bahwa “Orang bodoh ini ingin membalikkan seluruh ilmu astronomi; tetapi Kitab Suci memberi tahu kita bahwa Yosua memerintahkan Matahari untuk diam, dan bukan Bumi.” Vatikan akhirnya melarang “On the Revolutions of the Heavenly Spheres” pada tahun 1616.”
Nicolaus Copernicus tidak berteriak, tapi teorinya bergema lebih keras dari lonceng Vatikan. Ia tidak menentang iman, tapi menelanjangi kesombongan agama yang menolak sains. Gereja bisa saja membakar buku, tapi tidak bisa membakar kebenaran. Pandangan Copernicus menjadi peluru pertama yang menembus dogma dan membuka jalan bagi ilmuwan seperti Galileo, Kepler, dan Newton untuk membungkam dominasi tafsir literal Bible atas ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Cukup Bermodal Ucapan Bisa Masuk Surga
Galileo Galillei
Galileo Galilei (1564–1642), ilmuwan Italia yang dianggap sebagai “bapak ilmu pengetahuan modern,” memang mengalami hukuman dari Gereja Katolik karena pandangan ilmiahnya dianggap bertentangan dengan ajaran Bible dan doktrin gereja saat itu.
Latar Belakang Kasus Galileo adalah, ia mendukung teori heliosentris dari Nicolaus Copernicus, yaitu bahwa matahari adalah pusat tata surya, dan bumi serta planet lainnya mengelilingi matahari. Pandangan ini bertentangan dengan teori geosentris yang selama berabad-abad dianut oleh Gereja.
Pada tahun 1633, Galileo diadili oleh Inkuisisi Roma dan dipaksa menyangkal pandangan heliosentrisnya. Ia dinyatakan bersalah karena “mencurigakan dalam hal bidah”, dan dijatuhi hukuman tahanan rumah seumur hidup.[6]
“In January 1633, a very ill Galileo made an arduous journey to Rome. From April, Galileo was called four times to hearings; the last was on June 21. The next day, June 22, 1633, Galileo was taken to the church of Santa Maria sopra Minerva, and ordered to kneel while his condemnation was read. He was declared guilty of “vehement suspicion of heresy,” and made to recite and sign a formal abjuration:”
“Tradition, but not historical fact, holds that, after abjuring, Galileo mumbled, “Eppur si muove (and yet it moves).” He was sentenced to “formal imprisonment at the pleasure of the Inquisition,” but this was commuted to house arrest, first in the residence of the Archbishop of Siena, and then, from December 1633, at his villa in Arcetri. When he later finished his last book, the Two New Sciences (which does not mention Copernicanism at all), it had to be printed in Holland, and Galileo professed amazement at how it could have been published.”
“Pada bulan Januari 1633, Galileo yang sakit parah melakukan perjalanan yang sulit ke Roma. Sejak bulan April, Galileo dipanggil empat kali untuk menghadiri sidang; yang terakhir pada tanggal 21 Juni. Keesokan harinya, tanggal 22 Juni 1633, Galileo dibawa ke gereja Santa Maria sopra Minerva, dan diperintahkan untuk berlutut sementara kutukannya dibacakan. Dia dinyatakan bersalah atas “kecurigaan kuat akan ajaran sesat,” dan diminta untuk membacakan dan menandatangani penolakan resmi:”
“Tradisi, tetapi bukan fakta sejarah, menyatakan bahwa, setelah menolak, Galileo bergumam, “ Eppur si muove (dan benda itu tetap bergerak).” Ia dijatuhi hukuman “penjara resmi atas keinginan Inkuisisi,” tetapi hukuman ini diubah menjadi tahanan rumah, pertama di kediaman Uskup Agung Siena, dan kemudian, sejak Desember 1633, di vilanya di Arcetri. Ketika ia kemudian menyelesaikan buku terakhirnya, Two New Sciences (yang sama sekali tidak menyebutkan Copernicanism), buku itu harus dicetak di Belanda, dan Galileo mengaku heran bagaimana buku itu bisa diterbitkan.”
Baca Juga: Taat Pada Pancasila, Taat Pada Agama
Ayat-Ayat yang Membungkam Copernicus dan Galileo
Mazmur 104:5 (TB)
“Engkau telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya.”
Ayat ini diyakini oleh banyak penafsir gereja awal sebagai penegasan bahwa bumi adalah pusat yang tidak bergerak, yang secara langsung bertentangan dengan fakta ilmiah bahwa bumi berputar dan mengelilingi matahari.
Pengkhotbah 1:5 (TB)
“Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.”
Ini adalah bentuk kosmologi kuno, yang memandang matahari mengelilingi bumi, sebagaimana diamini oleh Gereja Katolik pra modern.
Yosua 10:12–13 (TB)
(12) Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel, dan ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon, dan engkau, hai bulan, di atas lembah Ayalon!”
(13) Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari pun berhenti di tengah langit dan tidak segera terbenam kira-kira sehari penuh.
Ayat ini digunakan Gereja Katolik sebagai pembenaran bahwa matahari yang bergerak, bukan bumi, karena jika bumi yang berputar maka tidak masuk akal bagi matahari untuk “berhenti”.
1 Tawarikh 16:30 (TB)
“Gemetarlah di hadapan-Nya, ya segenap bumi! Dunia ditegakkan, tidak dapat goyah.”
Kata “tidak dapat goyah” mengandung pengertian bahwa bumi bersifat statis dan kokoh, sesuai kosmologi geosentris zaman kuno dan bertentangan dengan pemahaman astronomi modern.
Kesimpulan:
Kontradiksi-kontradiksi ini menantang Kitab Kejadian sebagai wahyu Ilahi atau bukan? Apakah Tuhan dalam memberikan wahyu akan bertentangan dengan pengetahuan modern?
Fuad Abdul Wafi | Annajahsidogiri.id
[1] https://www.britannica.com/science/universe/The-system-of-Aristotle-and-its-impact-on-medieval-thought.
[2] https://inters.org/decree-against-copernicanism-1616.
[3] https://plato.stanford.edu/entries/galileo/.
[4] https://www.britannica.com/science/universe/The-system-of-Aristotle-and-its-impact-on-medieval-thought.
[5] https://inters.org/decree-against-copernicanism-1616.
[6] https://plato.stanford.edu/entries/galileo/.































































