Perbedaan Paham Tritunggal dalam Tubuh Kristen atau Katolik
Latar Belakang perbedaan ini tertulis dalam website Apostles-Creed.org.[1] Website ini adalah sebuah situs yang dikelola oleh komunitas Kristen Reformed yang berfokus pada pemahaman teologi klasik, khususnya yang berakar pada Pengakuan Iman Para Rasul (Apostles’ Creed). Situs ini bertujuan untuk menyajikan kutipan, kajian, dan sumber-sumber primer dari tradisi gereja awal sampai pada pengem-bangan teologi dalam kekristenan Reformed modern.
Apostles-Creed.org bukan website spekulatif atau blog pribadi, melainkan platform berbasis kajian historis yang memuat banyak kutipan asli dari dokumen dan tokoh gereja perdana seperti Ignatius, Ireneus, Tertullianus, hingga Athanasius. Situs ini menyediakan akses kepada pembaca untuk melihat secara langsung sumber-sumber dari teks kuno gereja (dalam bahasa Inggris modern) sehingga memu-dahkan siapa saja memverifikasi kutipan yang digunakan.
Selain itu, website ini juga mendasarkan penjelasannya pada tradisi teologi Reformed, yang terkenal cukup ketat dalam analisis naskah Bible dan doktrin, serta menghormati integritas sumber-sumber asli gereja awal termasuk karya-karya dari Bapa Gereja dan konsili-konsili ekumenis.
Baca Juga; Membedah Ajaran Tritunggal #1
Alasan Kevalidan situs web ini:
- Situs ini memuat sumber asli (quotes langsung) dari tulisan Bapa Gereja.
- Situs ini bersifat apologetik dan akademik dalam pendekatan Kristen Reformed, bukan opini pribadi.
- Memudahkan pembaca menelusuri referensi primer untuk studi lebih lanjut.
- Transparan dalam menyebutkan sumber kutipan, termasuk dari karya-karya yang dipublikasikan secara umum dan dapat diverifikasi.
Berikut data di website ini yang memuat pandangan para Bapa Gereja awal tentang konsep Tritunggal:
- Ignatius dari Antiokhia (±30-107 M)
Ignatius mengakui keberadaan:
- Satu Allah yang tidak diperanakkan, yaitu Bapa.
- Satu Anak tunggal, yaitu Firman Allah yang menjadi manusia.
- Satu Penghibur, yaitu Roh Kebenaran.
Ia menegaskan bahwa ketiganya merupakan bagian dari satu iman dan satu baptisan.
- Justin Martyr (±110-165 M)
Justin Martyr menyatakan bahwa dalam baptisan Kristen, seseorang dibaptis “dalam nama Allah, Bapa dan Tuhan semesta alam, dan Juruselamat kita Yesus Kristus, serta Roh Kudus.”
- Ireneus dari Lyon (±120–202 M)
Ireneus menulis bahwa gereja di seluruh dunia percaya kepada:
- Satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa.
- Satu Kristus Yesus, Anak Allah yang menjadi manusia untuk keselamatan kita.
- Roh Kudus, yang berbicara melalui para nabi dan menyatakan karya keselamatan Allah.
- Dionysius dari Aleksandria (±200–265 M)
Dionysius menekankan bahwa nama-nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ia menyatakan bahwa dalam menyebut satu pribadi, yang lainnya juga sudah termasuk di dalamnya.
- Cyprianus dari Kartago (±200–258 M)
Cyprianus menegaskan pentingnya baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sesuai dengan perintah Kristus. Ia mengkritik praktik baptisan hanya dalam nama Yesus Kristus yang dilakukan di luar gereja.
Walhasil, dari kutipan-kutipan di atas jelas terlihat, Bapa Gereja awal tidak memiliki pemahaman yang seragam tentang Tritunggal. Banyak yang justru menempatkan Yesus dalam posisi lebih rendah atau sebagai ciptaan, yang bertentangan dengan ajaran resmi Tritunggal.
Doktrin Kristen atau Katolik (Tritunggal), yang dikenal sekarang merupakan produk dari konsili dan perdebatan panjang, bukan ajaran yang utuh dari generasi pertama gereja.
Kesamaan Konsep Triad dalam Paganisme dengan Trinitas Kristen atau Katolik
Konsep mengenai tiga entitas ilahi (triad) merupakan pola pemahaman ketuhanan yang telah muncul dalam berbagai kebudayaan dan agama-agama pagan jauh sebelum Kekriste-nan menformulasikan doktrin Trinitas secara resmi melalui Konsili Nicea pada tahun 325 M. Triad dalam konteks agama-agama kuno tidak hanya menunjukkan eksistensi tiga dewa atau kekuatan ilahi yang bekerja bersama, tetapi juga sering kali dipandang sebagai satu kesatuan fungsional atau esensial. Struktur ini menunjukkan kemiripan mencolok dengan konsep Trinitas Kristen—yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus—yang dipahami sebagai tiga pribadi ilahi dalam satu hakikat. Berikut perinciannya:
Dalam mitologi Mesir kuno, Osiris, Isis, dan Horus membentuk sebuah triad yang memiliki fungsi saling melengkapi. Osiris sebagai dewa kematian dan kebangkitan, Isis sebagai penyembuh dan pelindung, serta Horus sebagai simbol kerajaan dan penebusan. Triad ini merupakan bagian sentral dari praktik keagamaan Mesir dan sangat populer di kalangan rakyat dan elite.
Dalam website World History Encyclopedia, situs milik organisasi nirlaba yang menerbitkan ensiklopedia sejarah yang paling banyak dibaca di dunia, ada sebuah catatan dari Yosua J. Mark, seorang profesor filsafat paruh waktu dan instruktur, menulis di Marist College, di mana ia menerima Penghargaan Fakultas Tahun dan Penghargaan Layanan Khusus Merit, dan juga telah mengajar kursus sejarah dan sastra di tingkat perguruan tinggi. Dia telah tinggal di Yunani dan Jerman, melakukan perjalanan secara ekstensif, teruta-ma melalui Mesir, dan saat ini tinggal di bagian utara New York. Dikatakan:
“Osiris as the kind and just ruler, murdered by his resentful brother, who comes back to life is the most popular and enduring image of the god.”
“Osiris sebagai penguasa yang baik hati dan adil, dibunuh oleh saudaranya yang dendam, yang kemudian kembali kehidupannya adalah gambaran dewa yang paling populer dan abadi.”[2]
Kisah kebangkitan Osiris dan kelahiran Horus dari Isis bahkan mengandung narasi paralel dengan kematian dan kebangkitan Kristus serta peran Maria sebagai Theotokos dalam Kekristenan.
Trimurti dalam agama Hindu merupakan konsep tiga manifestasi dari realitas ilahi tertinggi. Ketiganya memiliki peran berbeda tetapi dianggap berasal dari satu sumber esensial. Dalam Britannica dijelaskan:
“Trimurti, in Hinduism, triad of the three gods Brahma, Vishnu, and Shiva. The concept was known at least by the time of Kalidasa’s poem Kumarasambhava (“Birth of the War God”; c. 4th–5th century ce). The Trimurti collapses the three gods into a single form with three faces. Each god is in charge of one aspect of creation, with Brahma as creator, Vishnu as preserver, and Shiva as destroyer.”
“Trimurti, dalam agama Hindu, adalah triad dari tiga dewa yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Konsep ini sudah dikenal setidaknya pada zaman puisi Kalidasa Kumara-sambhava (“Kelahiran Dewa Perang”; sekitar abad ke 4-5 M). Trimurti menggabungkan ketiga dewa menjadi satu bentuk dengan tiga wajah. Setiap dewa bertang-gung jawab atas satu aspek penciptaan, dengan Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pelindung, dan Siwa sebagai penghancur.”[3]
Baca Juga; Membedah Ajaran Tritunggal #2
Struktur Trimurti memiliki koherensi yang menyerupai konsep Trinitas dalam Kekristenan, yang juga mengklaim tiga pribadi dalam satu substansi.
Dalam mitologi Yunani, tiga dewa utama membagi alam semesta menjadi tiga wilayah kekuasaan: langit (Zeus), laut (Poseidon), dan dunia bawah (Hades). Mereka merupakan saudara yang berasal dari satu generasi ilahi dan memiliki relasi fungsional serta genealogis yang erat. Dalam website Theoi, sebuah situs yang mengeksplorasi mitologi Yunani dan para dewa dalam sastra dan seni klasik, dijelaskan:
“Haides was devoured by Kronos (Cronus) as soon as he was born, along with four of his siblings. Zeus later caused the Titan to disgorge them, and together they drove the Titan gods from heaven and locked them away in the pit of Tartaros. When the three victorious brothers then drew lots for the division of the cosmos, Haides received the third portion, the dark dismal realm of the underworld, as his domain.”
“Hades ditelan oleh Kronos (Cronus) segera setelah dia lahir, bersama dengan empat saudaranya. Zeus kemudian membuat Titan itu memuntahkan mereka, dan bersama-sama mereka mengusir dewa-dewa Titan dari surga dan mengurung mereka di dalam jurang Tartaros. Ketika ketiga saudara yang menang itu kemudian mengundi pembagian kosmos, Hades menerima bagian ketiga, yaitu alam bawah yang gelap dan suram, sebagai domainnya.”[4]
Baca Juga; Gelar Nabi Isa Kalimatullah dan Ruhullah
Konsep Hades sebagai penguasa dunia bawah juga disebut dalam Perjanjian Baru dengan penggunaan kata Yunani “ᾅδης” (Hades). Dalam Matius 16: 18 disampaikan:
“And I also say to you that you are Peter, and on this rock I will build My church, and the gates of Hades shall not prevail against it.” (Matius 16: 18 New King James Version).
“Dan Aku juga berkata kepadamu bahwa engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan pintu-pintu Hades tidak akan mengalahkan dia.” (Matius 16: 18 New King James Version).[5]
Juga, disebutkan dalam Wahyu 20: 14:
“And death and Hades were cast into the lake of fire. This is the second death.” (New King James Version).
“Lalu maut dan Hades itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. (Wahyu 20: 14 New King James Version).[6]
Penggunaan istilah Hades dalam Perjanjian Baru menun-jukkan kesinambungan pemahaman dunia bawah dalam konteks Yudeo-Kristen yang dipengaruhi oleh istilah dan gagasan dunia klasik.
- Neoplatonisme: The One, Nous, dan Psyche
Filsafat Neoplatonisme, yang berpengaruh besar pada pemikiran teolog Kristen awal, seperti Augustinus dan Origenus, memperkenalkan struktur ilahi tiga serangkai: The One (Yang Esa), Nous (Pikiran), dan Psyche (Jiwa Dunia). Dalam Stanford Ensiklopedia of Philosophy, disebutkan:
“The three basic principles of Plotinus’ metaphysics are called by him ‘the One’ (or, equivalently, ‘the Good’), Intellect, and Soul (see V 1; V 9.). These principles are both ultimate ontological realities and explanatory principles. Plotinus believed that they were recognized by Plato as such, as well as by the entire subsequent Platonic tradition.”
“Tiga prinsip dasar metafisika Plotinos disebut olehnya sebagai ‘Yang Esa’ (atau, setara dengan ‘Yang Baik’), Intelek, dan Jiwa (lihat V 1; V 9.). Prinsip-prinsip ini adalah realitas ontologis fundamental dan prinsip penjelas. Plotinos percaya bahwa prinsip-prinsip ini diakui oleh Plato sebagai hal yang demikian, serta oleh seluruh tradisi Platonis selanjutnya.”[7]
Plotinus juga menyatakan:
“Consider the analogy of three-dimensionality and solidity. Why are these necessarily connected in a body such that there could not be a body that had one without the other? The answer is that body is virtually three-dimensionality and virtually solidity. Both three-dimensionality and solidity express in different ways what a body is.”
“Pertimbangan analogi tiga dimensi dan kepadatan. Mengapa keduanya harus terhubung dalam sebuah benda sehingga tidak mungkin ada benda yang memiliki satu tanpa yang lain? Jawabannya adalah bahwa benda secara virtual adalah tiga dimensi dan secara virtual adalah kepadatan. Keduanya, tiga dimensi dan kepadatan, mengungkapkan dengan cara yang berbeda apa itu benda.”[8]
Maksud dari kutipan di atas, bahwa Plotinus menggunakan analogi ini untuk menjelaskan atribut-atribut seperti dimensi dan kekuatan bukanlah hal yang berdiri sendiri, melainkan ekspresi dari satu entitas yang sama, yaitu tubuh. Dengan kata lain, satu esensi (substance) dapat memiliki beberapa aspek atau ekspresi, yang semuanya “benar” tetapi tidak terpisah.
- Fuad Abdul Wafi | Annajahsidogiri.id
[1] Apostles-Creed.org.
[2] https://www.worldhistory.org/osiris/.
[3] https://www.britannica.com/topic/trimurti-Hinduism.
[4] https://www.theoi.com/Khthonios/Haides.html.
[5].https://www.biblegateway.com/passage/?search=Matthew%2016%3A18&version=NKJV.
[6].https://www.biblegateway.com/passage/?search=Revelation%2020%3A14&version=NKJV.
[7]https://www.biblegateway.com/passage/?search=Revelation%2020%3A14&version=NKJV.
[8] Ibid.































































