Mendidik seorang anak dengan baik bukan hanya kewajiban bagi seorang guru di sekolah dan madrasah. Bahkan mendidik anak adalah tugas wajib bagi orang tua. Maka, sejak usia dini, orang tua harus lebih getol dan telaten dalam membimbing buah hatinya. Dengan itu seorang anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang tuanya.
Terlebih hal itu menjadi rumit jika yang ditanamkan oleh orang tua adalah terkait akidah. Harus ada strategi mapan agar seorang anak bisa memiliki akidah yang baik dan akhlak yang luhur. Lebih-lebih di zaman yang serba digital seperti ini. Tempat berlalu-lalangnya berbagai macam corak pemikiran. Selengkapnya, mari kita simak penjelasan al-Habib Muhammad bin Alwi al-Haddad, pengasuh Pondok Pesantren DILWA yang diwawancarai oleh Rizky Febrian selaku redaksi Annajahsidogiri.id.
- Bagaimana cara menanamkan akidah yang benar dan berkualitas pada anak sejak dini?
Sebenarnya akidah itu sudah tertanam sejak dini, bahkan sebelum ia dilahirkan (alam ruh). Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surah al-A’raf [7]: 172. Ayat itu menunjukkan bahwa sebenarnya akidah meyakini Allah sebagai Tuhan sudah tertancap bahkan sebelum lahir. Hal itu menjadi fitrah yang Allah berikan pada setiap hamba-Nya. Hal itupun juga diperkuat oleh Nabi Muhammad yang juga pernah bersabda ~Kullu Mauludin Yuladu alal Fitrah.
Maka pertanyaan yang tepat adalah bagaimana sebenarnya akidah itu dirawat dengan baik. Maka ulama memiliki berbagai cara, di antaranya;
Baca Juga: Dimensi Akidah Makhluk Ghaib
1. Memilih pasangan yang baik sebagai media tanam, dan untuk menyusui anak tersebut dengan baik. Yakni, tidak sembarangan orang bisa menyusui anak tersebut. Ulama pernah menyatakan; ar-Radha’ Yughayyirut-Tiba’ (menyusui itu dapat mengubah karakter). Bahkan, terdapat beberapa riwayat yang melarang untuk semena-mena dalam menyusui anak, sebab hal itu akan memengaruhi perkembangan mental dan spiritualnya.
2. Melantunkan adzan sebagai penguat dari akidah yang sudah menjadi fitrah. Sebab pertama kali anggota bayi yang berfungsi adalah telinganya.
3. Mentalqin mereka dengan lantunan kalimat-kalimat tauhid, sebagaimana yang ditempuh para salafus-salih. Dalam kitab Mawahibul-Minan, al-Imam Hasan bin Abdullah al-Haddad menyatakan bahwa awal kalimat yang ditalqin oleh ayahnya ialah ‘Allah’. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa orang-orang terdahulu berusaha agar pertama yang tertancap dan dikenal di hati anak-anak mereka adalah lafaz Allah.
4. Menjauhkan anak dari pergaulan jelek. Sebagaimana orang Arab mengatakan; at-Tabiah Sarraqah (karakter itu mudah terpengaruh).
5. Menanamkan benih-benih pada anak untuk mencintai kebaikan. Semisal mengajarkan mereka makan dengan menggunakan tangan kanan, mengenalkan akan keagungan Nabi Muhammad. Sehingga benih-benih akidah itu bisa tertancap (rasikh) sejak dini.
- Apa dampak penanaman akidah yang salah dan bagaimana solusi mencegahnya?
Dampak penanaman akidah yang salah adalah sangat fatal. Meskipun tidak nampak di masa kecil, namun akan terasa di kemudian hari. Dampaknya bisa menjadi jalan kedurhakaan bagi sang anak, akhlak yang tercela, bahkan bisa keluar dari koridor ajaran Islam. Ini adalah realita dengan melihat beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, seperti ada yang orang tuanya rajin ibadah namun anaknya murtad. Hal ini sebab tidak dibekali akidah yang baik.
Dalam satu hadis riwayat al-Baihaqi disebutkan bahwa sang anak akan menyeret orang tuanya ke neraka sebab tidak mendidik dengan pendidikan yang baik.
Maka ada beberapa solusi untuk menanggulangi hal-hal tersebut, di antaranya;
1. Menanam akidah yang baik dengan metodologi suri tauladan. Sebagaimana adagium yang sering kita dengar; ~Lisanul Hal Afshahu min Lisanil Maqal (Bahasa tubuh itu lebih berdampak ketimbang bahasa lisan).
2. Bertawassul kepada Allah melalui amal saleh. Sebagian ulama mengajarkan kita ketika bersedekah atau amal-amal yang lain, maka kita niatkan agar Allah memberikan hidayah kepada anak kita, menjadikan mereka anak-anak yang shaleh, dls.
3. Mendekatkan mereka kepada intelektual, ulama-ulama dan guru-guru yang shaleh, agar Allah memberikan dan menularkan hal-hal baik darinya.
4. Memberikan kisah-kisah dan hikayat inspiratif. Al-Junaid pernah mengungkapkan bahwa kisah atau hikayat adalah bagian dari tentara Allah (al-Hikayat Jundun min Junudillah), sehingga bisa memberikan efek untuk merubah hati yang dirasukinya.
Baca Juga: Pemantapan Akidah Anak Usia Dini
- Apa pesan kepada orang tua dan masyarakat tentang pentingnya penanaman akidah sejak dini?
Membangun kesadaran akan pentingnya didikan orang tua. Jika bukan orang tua yang mendidik, maka lingkungan, digital, teman-temannya lah yang akan mendidik dan membentuk karakter mereka. Sebagaimana pepatah mengatakan;
.الْبِيئَةُ تُؤَثِّرُ, وَالْإِنْسَانُ نَتِيجَةُ مَا يَسْمَعُ وَمَا يُبْصِرُ وَمَا يَقْرَأُ
“lingkungan itu dapat memberikan dampak, dan manusia terbentuk karakternya dari apa yang mereka dengar, lihat, dan yang mereka baca.”
Oleh karenanya, haruslah bagi para orang tua mendidik anak mereka sebelum mereka yang dididik oleh lingkungan dan segalanya.
































































