Nama Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi tidaklah asing lagi di telinga kita. Beliau adalah salah satu ulama kontemporer Islam yang tidak diragukan lagi kapabilitas keilmuannya. Ia adalah penulis yang produktif. Terbukti, beliau memiliki banyak karangan kitab yang Monumental dan seringkali dijadikan rujukan dalam khazanah kajian Islam, khususnya dalam bidang akidah, untuk menolak pemikiran-pemikiran Barat yang cenderung bertentangan dengan konsep akidah Islam. Di antara kitab-kitabnya adalah Kubral-Yaqîniyyât al-Kauniyyah, Islam wa al-‘Aql wa al-‘Ilm wa al-Gharb dan lain sebagainya.
NASAB DAN LATAR BELAKANG
Syekh Sa’id adalah keturunan kaum kurdi yang notabenya adalah keturunan Nabi Syu’aib. Kaum ini dikenal dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata. Silsilah nasab beliau adalah Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan bin Mulla Ramadhan bin Umar. Syekh Sa’id dilahirkan pada tahun 1929 M sekitar tahun 1347 H di desa Jilika, termasuk wilayah kepulauan Buthan, perbatasan Turki dan Irak. Syekh Sa’id adalah anak kedua dan satu satunya anak laki laki dari empat bersaudara. [1]
RIHLAH ILMIAH
Guru pertama Syekh Ramadhan al-Buthi adalah ayahnya sendiri yaitu Syekh Mulla Ramadan al-Buthi. Syekh Mulla Ramadan al-Buthi adalah sosok yang sangat alim khususnya dalam bidang fikih dan tasawwuf. Beliau mengajari putranya dasar-dasar agama, al-Quran, gramatika Arab dan ilmu dasar lainnya. Kemudian ia menempuh pendidikan menengahnya di Institut at-Tawjih al-Islami di Damaskus. Kemudian pada tahun 1953 H, ia meninggalkan Damaskus untuk menuju Mesir demi melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Dalam masa dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan di sarjana S1 di bidang syari’ah. Pada tahun berikutnya, di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cukup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.
Selulusnya dari Al-Azhar, al-Buthi pulang ke Damaskus. Ia pun diminta untuk mengajar di Fakultas Syari’ah pada tahun 1960 H, hingga berturut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wakil dekan, hingga menjadi dekan di fakultas tersebut pada tahun 1960 H.[2]
PEMBELA SYARIAT ISLAM
Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi rutin mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota Damaskus. Majelis yang dibinanya selalu dihadiri ribuan jamaah, baik laki-laki dan perempuan.
al-Buthi dianggap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang gencar membela konsep-konsep Madzhab Empat dan akidah Asyariyah, Maturidiyah, al-Ghazali, dan lain-lain dari arus pemikiran Barat dan pengkafiran sebagian golongan yang menganggap hanya mereka lah yang benar dalam urusan agama.
FIRASAT BELIAU
Syekh Said Ramadhan al-Buti berkata menjelang wafatnya: “Tidak tersisa lagi umur bagiku melainkan beberapa hari lagi. Sungguh aku telah mencium bau surga. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku”
Al-Buthi wafat pada 21 Maret 2013 di Damaskus, Suriah. Saat itu beliau sedang mengajar di Masjid Jami’ al-Iman, Mazraa, Damaskus dan menjadi korban dari ledakan bom bunuh diri — tragedi yang memakan banyak korban.
Fadli Dakhlan | Annajahsidogiri.id
[1] Kubrā al-Yaqīniyyāt al-Kawniyyah, hlm. 7–12 (muqaddimah)
[2] Fiqh as-Sīrah an-Nabawiyyah (muqaddimah)
































































