Gambaran Trinitas dengan Tubuh, Jiwa dan Roh
Beberapa teolog Kristen menggunakan analogi manusia yang memiliki tubuh, jiwa, dan roh untuk menjelaskan Trinitas, di mana Allah adalah satu esensi yang hadir dalam tiga “aspek” atau “pribadi” (Bapa, Anak, dan Roh Kudus).
Ini tidak identik dengan doktrin ortodoks Trinitas, yang menekankan bahwa ketiga pribadi adalah berbeda dan hidup berdampingan. Namun, pemahaman seperti ini lebih dekat dengan ajaran Sabelianisme atau Modalisme, yang melihat ketiga itu sebagai modus dari satu pribadi yang sama dan mirip dengan bagaimana Plotinus melihat manifestasi dari “the One”.
Pemikiran Plotinus tentang tiga atribut (seperti dimensi dan kekuatan) adalah sebagai ekspresi dari satu substansi yang sangat mirip dengan model atau paham Sabelianis, dan berbagi logika filosofis yang juga muncul dalam beberapa analogi Kristen tentang Trinitas (seperti tubuh, jiwa, dan roh).
Kesimpulannya, kesamaan antara konsep Trinitas Kristen dengan sistem triad dalam agama-agama pagan kuno tidak dapat diabaikan. Baik dari segi struktur fungsional, naratif, maupun filsafat, tampak bahwa pemahaman tentang tiga entitas ilahi telah mengakar kuat dalam imajinasi religius umat manusia sebelum dan sejajar dengan perkembangan Kekristenan. Hal ini membuka kemungkinan bahwa formulasi doktrin Trinitas bukanlah produk murni wahyu ilahi, melainkan juga hasil dari asimilasi kultural dan adaptasi dari sistem-sistem kepercayaan yang telah lebih dahulu ada.
Istilah Anak Allah (Son of God) adalah Warisan Pagan?
Gelar “Anak Allah” (Son of God) sering dianggap sebagai identitas unik dan eksklusif dari Yesus Kristus dalam iman Kristen. Namun, faktanya gelar ini telah digunakan dalam berbagai budaya dan agama jauh sebelum munculnya Kekristenan, dan sering kali memiliki konotasi yang berbeda secara teologis maupun politis. Bahkan dalam Yudaisme sendiri, pemahaman tentang “Anak Allah” berbeda jauh dari apa yang dipahami oleh doktrin Kristen Trinitarian. Berikut pemaparannya:
- Konsep ‘Anak Allah’ dalam Tradisi Yahudi
Dalam Perjanjian Lama, istilah “anak Allah” lebih sering merujuk pada Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan, atau secara kolektif kepada umat-Nya, bukan pada satu pribadi ilahi.
Ulangan 14:1 (TB)
Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu; janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang.
Baca Juga; Membedah Ajaran Tritunggal #3
Deuteronomy 14:1
(KJV) Ye are the children of the LORD your God: ye shall not cut yourselves, nor make any baldness between your eyes for the dead.
Mazmur 2:7 (TB)
Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.
Psalms 2:7 (KJV)
I will declare the decree: the LORD hath said unto me, Thou art my Son; this day have I begotten thee.
Dalam web keyahudian, Jewish Encyclopedia, dikatakan:
“Yet the term by no means carries the idea of physical descent from, and essential unity with, God the Father. The Hebrew idiom conveys nothing further than a simple expression of godlikeness.”
“Namun istilah ini (Anak Allah) sama sekali tidak membawa gagasan tentang keturunan fisik dari, dan kesatuan esensial dengan, Allah Bapa. Idiom Ibrani tidak menyampaikan apa-apa selain ungkapan seder-hana tentang kemiripan dengan Allah.”[1]
The Apocrypha and Pseudepigrapha contain a few passages in which the title “son of God” is given to the Messiah (see Enoch, cv. 2; IV Esdras vii. 28-29; xiii. 32, 37, 52; xiv. 9); but the title belongs also to any one whose piety has placed him in a filial relation to God (see Wisdom ii. 13, 16, 18; v. 5, where “the sons of God” are identical with “the saints”.
“Apokrifa dan Pseudepigrafa mengandung beberapa bagian di mana gelar “anak Allah” diberikan kepada Mesias (lihat Henokh, cv. 2; IV Esdras vii. 28-29; xiii. 32, 37, 52; xiv. 9); namun gelar ini juga dimiliki oleh siapa saja yang kesalehannya telah menempatkannya dalam hubungan anak dengan Allah (lihat Kebijaksanaan ii. 13, 16, 18; v. 5, di mana “anak-anak Allah” identik dengan “orang-orang kudus”).”[2]
Website tersebut menjelaskan, dalam tradisi Yahudi, gelar “Anak Allah” digunakan untuk merujuk pada individu atau kelompok yang memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, seperti raja Israel atau orang-orang saleh, tanpa menyiratkan keilahian literal atau hubungan fisik dengan Tuhan.
- Firaun Mesir Sebagai Anak Dewa
Konsep raja Mesir sebagai anak dewa muncul secara eksplisit pada masa Dinasti Keempat, ketika Djedefre menjadi firaun pertama yang menggunakan gelar “Sa-Rê” (Anak Ra). Ini merupakan bagian dari sistem keagamaan kerajaan yang memperkuat posisi firaun sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia dewa.
Yosua atau Joshua J. Mark, seorang profesor filsafat di barat, menyampaikan dalam website World History Encyclo-pedia, sebagai berikut:
“The most important aspect of Djedefre’s reign, however, is not his pyramid or the claim that he built the Sphinx but his association of the position of king with the cult of the sun god Ra. He was the first king of Egypt to apply the title ‘Son of Ra’ to himself marking the kingship as subordinate to the sun god.”
“Aspek yang paling penting dari pemerintahan Djedefre, bagaimanapun, bukanlah piramidanya atau klaim bahwa dia membangun Sphinx, tetapi asosiasi posisinya sebagai raja dengan kultus dewa matahari Ra. Dia adalah raja pertama Mesir yang menerapkan gelar ‘Anak Ra’ untuk dirinya sendiri, menandai kerajaan sebagai bawahan dari dewa matahari.”[3]
- Alexander Agung sebagai Putra Zeus
Alexander Agung diyakini oleh para pengikutnya sebagai anak dari dewa Yunani, Zeus. Pengakuan ini diperkuat melalui pengaruh politik dan budaya Helenistik. Joshua J. Mark juga mengatakan:
“While it is clear that his father had a great impact on him, Alexander himself chose to see his success as ordained by divine forces. He called himself the son of Zeus, and so claimed the status of a demigod, linking his bloodline to his two favorite heroes of anti-quity, Achilles and Hercules, and modeling his behavior after theirs.”
“Meski jelas bahwa ayahnya memiliki dampak besar pada dirinya, Alexander sendiri memilih untuk melihat kesuksesannya sebagai takdir dari kekuatan ilahi. Dia menyebut dirinya sebagai putra Zeus, dan dengan demikian mengklaim status sebagai setengah dewa, menghubungkan garis keturunan darahnya dengan dua pahlawan favoritnya dari zaman kuno, Achilles dan Hercules, dan mencontoh perilaku mereka.”[4]
- Kesamaan antara Yesus, Inskripsi Kalender Priene, dan Kaisar Augustus
Inskripsi Kalender Priene yang ditemukan di kota Priene, Asia Kecil (sekarang Turki), dan berasal dari sekitar 9 SM, adalah salah satu bukti tertulis awal yang mencatat gelar-gelar ini. Dalam inskripsi tersebut, Augustus disebut sebagai “Savior” dan “God”, serta hari kelahirannya ditetapkan sebagai awal dari “Good Tidings” untuk dunia. Berikut kutipan aslinya:
“… sending him as a savior, both for us and for our descendants, that he might end war and arrange all things … The birthday of the god Augustus was the beginning of the good tidings for the world that came by reason of him.”
“… mengutus dia sebagai penyelamat, baik untuk kita maupun untuk keturunan kita, agar dia mengakhiri perang dan mengatur segala sesuatu … Hari ulang tahun dewa Augustus adalah awal dari kabar baik bagi dunia yang datang karena dia.”[5]
Kata “good tidings” dalam inskripsi ini berasal dari istilah Yunani εὐαγγέλιον (euangelion) yang kelak menjadi akar kata dari Injil (Gospel) dalam Kekristenan.
Baca Juga; Membedah Ajaran Tritunggal #2
Kesamaan antara Inskripsi Priene dan formula pembukaan Injil menunjukkan bahwa konsep “Son of God” dan “Good News” tidak lahir murni dari doktrin Kristen, melainkan produk budaya Kekaisaran Romawi yang kemudian diadopsi dan ditafsir ulang oleh gereja awal.
Enam Tokoh Gereja yang Mengeritik Konsep Tritunggal
- Theodotus dari Byzantium (Akhir Abad ke-2 M)
Hippolytus meragukan pendapat Theodotus mengenai ketuhanan Yesus, dan caranya membedakan dua bagian dari roh dan daging. Dalam website Apostolic Information Service, salah satu situs milik Kekristenan yang terkenal sebagai rujukan dalam data dan sejarah, disebutkan:
“Hippolytus also accuses Theodotus ‘(Theodotus) will not have Christ to be God’. 20 And we might ask for further explanation. As a man? As a man, Christ was the Son of God. There is an important dichotomy of Spirit and flesh that must be maintained.”
“Hippolitus juga menuduh Theodotus, ‘(Theodotus) tidak mau mengakui Kristus sebagai Allah’. 20 Dan kita mungkin meminta penjelasan lebih lanjut. Sebagai manusia? Sebagai manusia, Kristus adalah Putra Allah. Ada dikotomi penting antara Roh dan daging yang harus dipertahankan.”[6]
Penjelasan ini membahas pandangan teologis tentang sifat Kristus, khususnya perbedaan antara sifat ilahi dan sifat manusiawi Kristus. Hippolitus ini tampaknya mempertahan-kan pandangan bahwa Kristus memiliki sifat ganda, yaitu sebagai Allah dan sebagai manusia.
- Paul dari Samosata (Abad ke-3 M)
Paul mengajarkan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang menjadi ilahi melalui persatuan moral dan kehendak dengan Allah, bukan Tuhan atau firman-Nya yang menjelma menjadi manusia. Sebagaimana yang termaktub dalam biblical cyclopedia, website resmi milik Kekritenan, sebagai berikut:
“Hence it appears that Paul rejected altogether the union of the divine and human natures in Christ.”
“Jadi, tampaknya Paul menolak sama sekali penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi dalam diri Kristus.”[7]
Kalimat ini menunjukkan bahwa Paul memiliki pandangan tertentu tentang sifat Kristus yang berbeda dengan panda-ngan ortodoks Kristen yang umumnya mengakui bahwa Yesus Kristus memiliki dua kodrat, yaitu kodrat ilahi dan kodrat manusiawi, yang bersatu dalam satu pribadi.
- Arius dari Alexandria (Sekitar 250–336 M)
Arius mengajarkan bahwa Yesus, sebagai Anak Allah, adalah makhluk ciptaan dan tidak setara dengan Allah Bapa. Bart D. Ehrman, seorang Professor di University of North Carolina di Chapel Hill,[8] mengatakan dalam blog resminya:
“In a nutshell, he thought that Christ was created in God’s own image by God himself, and so bears the title God, but he is not the ‘true’ God.”
“Ringkasnya, dia berpikir bahwa Kristus diciptakan menurut gambar Allah sendiri oleh Allah sendiri, sehingga menyandang gelar Allah, tetapi dia bukanlah Allah yang ‘sejati’.”[9]
Pandangan ini adalah ajaran Arianisme (Arius dari Alexandria), yang muncul pada abad ke-4 Masehi dan menyatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah yang sejati, melainkan makhluk ciptaan Allah yang tertinggi.
- Michael Servetus (1511–1553 M)
Servetus menolak doktrin Tritunggal sebagai ajaran yang tidak berdasarkan Bible. Dalam Britannica disebutkan:
“In De Trinitatis erroribus (1531; “On the Errors of the Trinity”) and Christianismi restitutio (1553; “The Restitution of Christianity”), the Spanish physician and theologian Michael Servetus provided important stimulus for the emergence of Unitarianism. Servetus’s execution for heresy.”
“Dalam De Trinitatis erroribus (1531; “Tentang Kesalahan-Kesalahan dalam konsep Tritunggal”) dan Christianismi restitutio (1553; “Pemulihan Kekriste-nan”), dokter dan teolog Spanyol Michael Servetus memberikan stimulus penting bagi munculnya Unitaria-nisme. Eksekusi Servetus karena bidat.”[10]
Michael Servetus dikenal karena pandangannya yang menolak doktrin Tritunggal dan mengkritik teologi umum-nya Kristen tradisional. Karyanya memberikan pengaruh terhadap perkembangan Unitarianisme, yang menekankan kesatuan Allah dan menolak konsep Tritunggal. Eksekusi Servetus menunjukkan kontroversi dan konflik teologis pada masa itu. Dan oleh karena pandangannya berbeda pada saat itu, maka Severtus dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Keterangan ini termaktub dalam Britannica:
“Servetus was burned alive at Champel on October 27. His execution produced a Protestant controversy on imposing the death penalty for heresy, drew severe criticism upon John Calvin, and influenced Laelius Socinus, a founder of modern Unitarian views.”
“Servetus dibakar hidup-hidup di Champel pada 27 Oktober. Eksekusinya memicu kontroversi Protestan tentang penerapan hukuman mati bagi bidat, mendapat kritik keras dari John Calvin, dan memengaruhi Laelius Socinus, pendiri pandangan Unitarian modern.”[11]
Eksekusi Servetus menjadi titik penting dalam sejarah kekristenan, memicu perdebatan tentang toleransi dan hukuman bagi mereka yang memiliki keyakinan berbeda. Kritik terhadap Calvin menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat di antara tokoh-tokoh Protestan tentang bagaimana menghadapi bidat. Pengaruhnya terhadap Laelius Socinus pada saat itu menunjukkan bagaimana peristiwa ini memben-tuk perkembangan teologi Unitarian.
- Fausto Sozzini (Socinus) (1539–1604 M)
Socinus, juga memiliki pandangan lain tentang Trinitas. Dia lebih menekankan pentingnya kehidupan moral, meminimal-kan dogma, dan berpendapat bahwa doktrin Kristen harus rasional. Pandangannya juga dimuat oleh Britannica:
“They accepted Jesus as God’s revelation but still a mere man, divine by office rather than by nature; Socinians thus rejected the doctrine of the Trinity..”
“Mereka menerima Yesus sebagai wahyu Allah, tetapi masih sebagai manusia biasa, ilahi karena jabatan bukan karena sifatnya; Socinianisme dengan demikian menolak doktrin Tritunggal..”
Pandangan Socinianisme menekankan bahwa Yesus, meskipun memiliki peran penting sebagai utusan atau wakil Tuhan, bukanlah Tuhan itu sendiri secara hakikat. Mereka memandang Yesus sebagai manusia yang diberi kuasa ilahi, bukan sebagai bagian dari Tritunggal yang setara dengan Allah Bapa. Ini adalah salah satu ciri utama dari teologi Unitarian yang berkembang dari pemikiran Socinianisme.
- Isaac Newton (1643–1727 M)
Newton, selain dikenal sebagai ilmuwan besar, juga seorang teolog yang menolak doktrin Tritunggal. Kisah Newton ini pernah ditulis oleh Dr. Danny Faulkner[12] dalam situs website Kristen, sebagai berikut:
“The problem is that Newton’s attempts to harmonize the Bible with history and prophecy led him to question basic doctrines. He came to believe that Christian theologians during the religious debates of Constan-tine’s day (early AD 300s) had rewritten historical documents to bolster their side. Newton set about to clean this up, and in the end, he rejected the Trinity.”
“Masalahnya adalah upaya Newton untuk menyelaras-kan Alkitab dengan sejarah dan nubuat membuatnya mempertanyakan doktrin-doktrin dasar. Dia sampai percaya bahwa para teolog Kristen selama perdebatan agama pada zaman Konstantinus (awal abad ke-300 M) telah menulis ulang dokumen-dokumen sejarah, deng-an tujuan untuk mendukung pihak mereka. Newton berupaya membersihkan hal ini, dan akhirnya, dia menolak Tritunggal.”[13]
Baca Juga; Membedah Ajaran Tritunggal #1
Isaac Newton, selain dikenal sebagai ilmuwan besar, juga memiliki kajian mendalam tentang teologi dan Alkitab. Pandangannya tentang perubahan doktrin Kristen awal dan penolakan terhadap Tritunggal menunjukkan bahwa dia memiliki perspektif yang berbeda tentang teologi Kristen tradisional. Namun, pandangannya ini tidak banyak diketahui publik selama masa hidupnya, karena kerap dikabarkan bahwa pandangan tersebut dianggap kontroversial.
Kesimpulan Tentang Konsep Tritunggal
Dalam perjalanan penyusunan buku ini, kita telah mene-lusuri jejak sejarah yang panjang dan kompleks mengenai asal-usul, pembentukan, serta dampak ajaran Tritunggal dalam tubuh Kekristenan. Kajian ini tidak dimaksudkan untuk menye-rang keyakinan siapa pun, melainkan sebagai undangan bagi setiap pencari kebenaran untuk berpikir lebih jernih, jujur, dan berani menguji fondasi teologi yang selama ini diwariskan oleh tradisi gereja, sekaligus menjadi jawaban terhadap para apologet Kristen dari ujung barat hingga timur, yang selalu mengkritik dan mempertanyakan keabsahan konsep Tauhid yang ada dalam Islam.
Telah kita lihat bahwa konsep Tritunggal bukanlah doktrin yang muncul secara eksplisit dari ajaran Yesus atau tulisan-tulisan asli para murid Yesus. Sebaliknya, ia tumbuh melalui proses asimilasi antara kepercayaan Yahudi, spekulasi filsafat Yunani, dan kebutuhan institusi gereja dalam membangun sistem dogma yang seragam dan stabil di tengah perbedaan tafsir. Ketika ajaran ini mulai ditetapkan dalam kredo-kredo resmi, seperti Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M), perdebatan bahkan pertentangan di antara para tokoh gereja semakin tajam. Fakta ini mengajarkan kita satu hal penting: kebenaran sejati tidak bergantung pada suara mayoritas ataupun keputusan konsili, melainkan pada kesetiaan kepada firman Tuhan yang asli dan murni.
Di tengah era modern yang semakin terbuka dan kritis, penting bagi setiap orang beriman untuk membedakan antara wahyu ilahi dan formulasi manusia. Ajaran Tritunggal adalah contoh nyata di mana tradisi gereja kerap kali menempati ruang lebih dominan dibandingkan teks asli Kitab Suci. Akibatnya, banyak pemahaman umat menjadi kabur tentang siapa sesungguhnya Tuhan yang layak disembah, dan bagaimana seharusnya hubungan manusia dengan-Nya dibangun.
M. Fuad Abdul Wafi | AnnajahSidogiri
[1] https://www.jewishencyclopedia.com/articles/13912-son-of-god.
[2] Ibid.
[3] https://www.worldhistory.org/Old_Kingdom_of_Egypt/.
[4] https://www.worldhistory.org/Alexander_the_Great/.
[5].https://webpages.scu.edu/ftp/cmurphy/courses/sctr027/artifacts/priene-calendar.htm.
[6] https://www.apostolic.edu/the-rise-of-the-trinity-in-the-roman-empire/.
[7] https://www.biblicalcyclopedia.com/P/paul-of-samosata.html.
[8] Dia datang ke UNC pada tahun 1988, setelah empat tahun mengajar di Universitas Rutgers. Di UNC ia telah menjabat sebagai Direktur Studi Pasca sarjana, dan bahkan dia adalah Ketua Departemen Studi Agama.
[9].https://ehrmanblog.org/the-actual-heretical-views-of-arius-in-his-own-words/.
[10] https://www.britannica.com/topic/Unitarianism#ref1272833.
[11] https://www.britannica.com/biography/Michael-Servetus.
[12] Dia bergelar MS dalam fisika dari Clemson University, seorang MA dan Ph.D dalam astronomi dari Indiana University, dan ia mengajar di University of South Carolina-Lancaster selama lebih dari 26 tahun. Dia telah menerbitkan lebih dari 100 makalah di berbagai jurnal.
[13].https://answersingenesis.org/creation-scientists/misplaced-faith-isaac newton/?srsltid=AfmBOoqinHQfNgZoZrUBgP0l9WBTC2zyx_QXTClPNejOYXCrALGU60w7.































































