Pembaca rubrik Serial Akidah Awam yang budiman, Pembahasan kedua bait ke tujuh belas dalam kitab Akidah Awam, ialah tentang sosok Nabi Ismail. Selayaknya, kita lebih mengenal lebih dalam tentang sosok beliau.
Nabi Ismail merupakan putra pertama Nabi Ibrahim dengan istrinya yang bernama Siti Hajar. Beliau dilahirkan di Palestina. Beliau adalah orang yang memunculkan air zam-zam dengan hentakan kakinya. Sebutan Nabi Ismail dalam al-Quran terjadi sebanyak dua belas kali.
Putra Nabi Ibrahim yang mendapatkan julukan adz-Dzabih ialah Nabi Ismail (bukan Nabi Ishaq). Dan ini merupakan pendapat yang muktamad. Hal ini juga didasari dengan beberapa hal. Pertama, kitab taurat sendiri menjelaskan bahwa yang disembelih adalah Nabi Ismail. Kedua, pada saat itu, Nabi Ismail merupakan satu-satunya putra yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim setelah sekian lama tak juga memiliki putra. Nah, Kerelaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra satu-satunya dengan menyembelihnya demi menaati perintah Allah ﷻ yang diterimanya melalui mimpi, merupakan bukti ketaatan yang sempurna dan puncak kepatuhan.
Baca Juga; Esensial kenabian Idris dan Nuh
Ketiga, andaikan yang disembelih bukan Nabi Ismail, tetapi Nabi Ishaq, berarti telah bertentangan dengan janji Allah ﷻ kepada Nabi Ibrahim, bahwa Nabi Ishaq akan memiliki banyak keturunan. Keempat, bahwa pelaksanaan penyembelihan terjadi di kota Makkah. Pada saat itu, putra Nabi Ibrahim yang berada di kota Makkah adalah Nabi Ismail. Sedangkan Nabi Ishaq tidak bertempat di sana.[1]
Salah satu mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Ismail adalah membangun kakbah. Suatu ketika, Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah ﷻ. Nabi Ibrahim diperintah untuk membangun kakbah di suatu tempat yang relatif tinggi, di tanah Hijaz. Untuk menyelesaikan perintah Allah ﷻ, Nabi Ibrahim mengajak putranya (Nabi Ismail) untuk ikut serta membantu mendirikan kakbah. Nabi Ismail pun menerima ajakan ayahnya. Akhirnya mereka berdua memulai proses pembangunan kakbah. Nabi Ismail yang mengangkut batu, sedangkan Nabi Ibrahim yang menyusunnya.
Setelah selesainya pembangunan kakbah, Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhan Kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al Baqarah [2]: 127-128)
Baca Juga; Nabi Luth dengan Mukjizatnya
Kakbah inilah yang sampai kini menjadi pusat peribadatan umat Islam, sekaligus menjadi kiblat salat mereka.[2]
Kerasulan
Dalam nas al-Quran, terpampang jelas bahwa Nabi Ismail tergolong utusan Allah ﷻ seperti dalam surah Maryam Ayat 54. Menurut mayoritas ulama, lafaz Ismail yang di maksud dalam ayat tersebut adalah Ismail bin Ibrahim sebagaimana dalam kitab tafsir Imam al-Mawardi.
Dalam syarah kitab Akidah Awam, Syekh nawawi al-Banteni mengatakan bahwa Nabi Ismail tergolong nabi sekaligus rasul yang diketahui oleh seluruh umat Islam secara terperinci. Syekh Ramdhan al-Buti juga menyatakan demikian.
Fakhrul Islam | AnnajahSidogiri.id
[1] Ash-Shobuni, Muhammad Ali, an-Nubuwah wa al-Anbiyâ’, Dâr al-Qalam Damaskus, cetakan keempat, hlm. 321.
[2] An-Naisaburi, Abu Ishaq, Ahmad bin Muhammad, Qasas al-Anbiyâ’, Dâr al-Kutub al-Islâmiyah, Beirut Lebanon, cetakan kedua, hlm. 78-83.































































