Ayat al-Quran dan Hadis
- Surah al-Anbiya’ ayat ke 25.
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ. (الأنبياء: 25)
“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
Mengenai ayat ini, al-Imam al-Qurtubi menjelaskan:
وَقَالَ قَتَادَةُ: لَمْ يُرْسَلْ نَبِيٌّ إِلَّا بِالتَّوْحِيدِ. وَالشَّرَائِعُ مُخْتَلِفَةٌ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ، وَكُلُّ ذَلِكَ عَلَى الْإِخْلَاصِ وَالتَّوْحِيْدِ.
Al-Imam Qatadah berkata: tidaklah nabi yang diutus kecuali dengan tauhid. Sedangkan syariat-syariat yang ada dalam Taurat, Injil, dan al-Quran memang berbeda, namun semua itu atas dasar keikhlasan dan mengesakan Allah (tauhid).[1]
- Surah an-Nahl ayat ke 36.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّٰغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ. فَسِيرُوا فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ. (النحل: 36)
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An-Nahl: 36)
Baca Juga; Kajian Singkat Seputar Ghaibiyat
Al-Imam Ibnu Asyur dalam tafsirnya berkata:
وَالْمَعْنَى: أَنَّ اللهَ بَيَّنَ لِلْأُمَمِ عَلَى أَلْسِنَةِ الرُّسُلِ- عَلَيْهِمُ السَّلَامُ- أَنَّهُ يَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَتِهِ وَاجْتِنَابِ عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ، فَمِنْ كُلِّ أُمَّةٍ أَقْوَامٌ هَدَاهُمُ اللهُ فَصَدَّقُوا وَآمَنُوا، وَمِنْهُمْ أَقْوَامٌ تَمَكَّنَتْ مِنْهُمُ الضَّلَالَةُ فَهَلَكُوا. والطَّاغُوتَ: جِنْسُ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنَ الْأَصْنَامِ.
Makna ayat ini : bahwa Allah menjelaskan kepada setiap umat melalui lisan para rasul, untuk memerintahkan mereka agar beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah terhadap berhala-berhala. Ada sebagian umat yang Allah berikan hidayah, lalu mereka membenarkannya dan beriman. Dan ada juga yang tetap dalam kesesatan, lalu mereka hancur.
At-Thaghut ialah: jenis sesuatu yang disembah selain Allah, dari macam berhala-berhala.[2]
- Surah al-Qashash Ayat ke 88
وَلَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَااِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَىۡءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجۡهَهُ لَـهُ الۡحُكۡمُ وَاِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ. (القصص: 88)
Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. (QS. Al-Qashash : 88)
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya berkomentar berkaitan dengan ayat di atas, sebagai berikut:
أَيْ وَلَا تَعْبُدْ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ، وَلَا تَدْعُ فِي أَيِّ عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ إِلَهًا غَيْرَ اللهِ؛ لِأَنَّهُ لَا تَلِيْقُ الْعِبَادَةُ إِلَّا لَهُ، وَلَا جَدْوَى فِي الدُّعَاءِ لِغَيْرِهِ، وَلَا تَنْبَغِي الْأُلُوهِيَّةُ إِلَّا لِعَظَمَتِهِ، وَلَا مَعْبُودَ يَسْتَحِقُّ الْعِبَادَةَ سِوَاهُ.
Jangan memper sekutukan Allah dengan tuhan lain, dan jangan menyebut dalam setiap perbuatanmu tuhan selain Allah. Karena tidak patut menyembah/ibadah selain kepada-Nya, dan tidak ada gunanya berdoa kepada selain Dia, dan tidak pantas ketuhanan kecuali keagungan-Nya, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.[3]
- Hadis Tentang Tauhid 1
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللَّهِ g عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ. قَالَ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا. (رواه مسلم)
Dari Mu’adz bin Jabal dia berkata, “Saya berada di boncengan Rasulullah di atas keledai yang dinamakan Ufair.” Beliau lalu bersabda: “Wahai Mu’adz apakah kamu mengetahui apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah.’ Mu’adz berkata, ‘Aku lalu menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas hamba adalah kalian menyembah Allah dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan hak hamba atas Allah adalah agar tidak disiksa orang yang tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun.’ Mu’adz berkata, ‘Saya lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah boleh aku memberitakannya kepada manusia? ‘Beliau menjawab: ‘Jangan kamu memberitahukannya kepada mereka sehingga mereka bersandar kepada-Nya’.” (HR. Muslim)[4]
- Hadis Tentang Tauhid 2
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنِ النَّبِىِّ g قَالَ : «مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ. (رواه البخاري)
Dari Ubadah bin ash-Shamit h ia berkata: Rasulullah g bersabda, “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, demikian pula bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan dengan tiupan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sebagai balasan bagi amal perbuatannya.” (HR. Bukhari)[5]
- Hadis Tentang Tauhid 3
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ g: أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ. (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah h berkata, Rasulullah g besabda: “Aku orang yang paling dekat dengan ‘Isa bin Maryam n di dunia dan akhirat, dan para Nabi adalah bersaudara (dari keturunan) satu ayah dengan ibu yang berbeda, sedangkan agama mereka satu (tauhid)”. (HR. Bukhari).[6]
Baca Juga; Kajian Makna Ishmah Secara Komprehensif
- Hadis Tentang Tauhid 4
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ g: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ. إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً. (رواه أحمد)
Dari Mahmud bin Labid ia berkata: Rasulullah g bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kamu adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apa syirik kecil itu?” Beliau menjawab, “Riya (beramal agar dipuji manusia). Sesungguhnya Allah c akan berfirman pada hari manusia dibalas dengan amalnya, “Pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu riya’ (kepada mereka) dengan amalmu di dunia. Lihatlah! Apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka.” (HR. Ahmad).[7]
- Fuad Abdul Wafi | Annajahsidogiri.id
[1] Al-Qurtubi, tafsir al-Qurtubi, juz 11 hal 280. Maktabah Syamilah.
[2] Ibnu Asyur, tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, juz 14 hal. 149-150. Maktabah Syamilah.
[3] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, juz 20 hal. 178. Maktabah Syamilah.
[4] Shahih Muslim, juz 1 hal. 43. Maktabah Syamilah.
[5] Shahih Bukhari, juz 3 hal. 1267. Maktabah Syamilah.
[6] Ibid, juz 3 hal. 294.
[7] Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, juz 39 hal. 43. Maktabah Syamilah.































































