Kata Orientalis merujuk pada kajian-kajian yang dilakukan oleh para sarjana Barat untuk mempelajari dunia Timur, termasuk Islam. Dalam kajian tersebut seringkali ditemukan berbagai cemooh dan fitnah kotor yang ditujukan pada Islam, baik dari segi ajarannya hingga Nabi Muhammad ﷺ sebagai Messenger ajaran Islam. Theodore Noldeke, seorang Orientalis mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak orisinil, Nabi Muhammad ﷺ bukanlah seorang ummi, dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ merupakan hasil dari plagiasi ajaran Kristen dan Yahudi.[1] Orientalis lain, Jerry Vines menuduh Nabi Muhammad ﷺ memiliki kelainan seksual dengan menikahi Sayyidah Aisyah yang masih kecil hingga mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ hanyalah seorang pedofil yang dirasuki setan.
Persepsi negatif pada Islam yang disajikan Orientalis di Barat bukan hanya berada di ruang lingkup akademik. Berbagai media seperti buku, sosial media, hingga dunia perfilman sering mereka gunakan sebagai ladang penyebaran fitnah bahwa agama Islam merupakan agama yang radikal, intoleran, dan gudang konflik. Seperti film Innoncence of muslim (2012), film yang memuat banyak tuduhan buruk pada Nabi Muhammad ﷺ. Dalam film ini, Nabi Muhammad ﷺ dideskripsikan sebagai pria hidung belang yang lemah dan telah menyetujui adanya pelecehan seksual pada anak.[2] Memahami sejarah Orientalis dan yang terkait dengannya sangat penting untuk mengetahui bagaimana mereka terbentuk dan mengapa mereka mempengaruhi pemikiran Barat hingga kini. Artikel ini akan mengulas apa itu Orientalis, sejarah singkat terbentuknya, serta perkembanganya.
Baca Juga; Sekte Al-Azāriqah: Kelompok Paling Intoleran di Kalangan Khawarij
Apa itu Orientalisme?
Orientalisme adalah sebuah institusi korporat yang dibentuk untuk berurusan dengan Timur, dalam artian berurusan dengannya, membuat pernyataan tentangnya, mengesahkan pandangan tentangnya, mengilustrasikannya, mengajarkannya, menempatkannya di dalamnya, dan menguasainya. Orientalisme sebagai upaya Barat untuk mendominasi, mere-strukturisasi, dan memiliki otoritas atas dunia Timur. Logika yang mereka gunakan adalah logika rekursif yang berarti mereka mendefinisikan dan merestrukturisasi Timur tanpa ada masukan atau persetujuan dari orang Timur sama sekali. Mereka mendefinisikan dunia Timur yang tidak sesuai dengan dunia tersebut mendefinisikan dirinya sendiri.[3]
Sejarah singkat
- Awal kemunculan
Istilah Orientalisme mulai muncul pada abad 18 Masehi. Abad yang menjadi awal invasi kolonialis Barat ke dunia Islam, serta abad yang menjadi gerbang pencerahan dan kebangkitan Barat.[4] Namun, meski istilah Orientalisme baru diperkenalkan pada abad ke-18, kajian mereka tentang dunia Islam sudah dimulai pada abad ke-8. Dengan kajian serius yang dimulai pada abad ke-16.[5]
- Pelembagaan
lembaga pengajaran Orientalis pertama kali muncul di Wina, Prancis, yakni lembaga Ecole des Lengues Orientales Vivantes yang didirikan di Paris pada tahun 1795 M. Lembaga ini menyediakan kursus bahasa Arab dan bahasa negara Islam lainnya, seperti Turki dan Persia, yang menjadi alat mereka untuk memahami dan mendalami hal-hal seputar dunia Islam. Di bawah ahli filologi terkemuka, Antoine-isaac Silvestre de Sacy, lembaga ini berkembang menjadi lembaga Orientalis terkemuka di Eropa, dan filologi mendapat status sebagai cabang ilmu yang independen.[6] Hingga pada abad ke-19, studi pengajaran di berbagai universitas di Eropa mulai memperluas program studi Islam dengan memasukan studi analisis Al-Qur’an.[7]
Baca Juga; Menepis Tafsir Feminis
- Perkembangan
Dalam rentang waktu antara abad pertengahan sampai sekarang, secara garis besar, perkembangan Orientalis terbagi menjadi tiga periode.
- Abad ke-16
Periode di mana Orientalisme kerap menjadi simbol gerakan anti Islam, yang mana di kalangan orang Eropa, Islam dianggap sebagai trauma yang tak berkesudahan. Pada masa itu orang Kristen memiliki misi besar untuk menyatukan pandangan orang Timur dan Barat Eropa bahwa Islam adalah versi sesat dari Kristen. Para penulis pada zaman itu banyak membuat fitnah terhadap Nabi Muhammad ﷺ dengan mengatakan beliau adalah penyebar wahyu palsu, penipu, dan aktor pedofil kuno.
- Abad ke-17 dan ke-18
Yang menjadi periode penting dalam sejarah Orientalisme Barat, karena bertepatan dengan masa modernisasi Barat. Pada periode ini mulai banyak pemikir Barat yang tertarik untuk memahami apa yang menjadi faktor berkembangnya peradaban Islam hingga menjadi peradaban yang unggul selama tujuh abad. Meski tertarik untuk mempelajari Islam, pandangan Barat bahwa Islam adalah musuh mereka masih tetap berlanjut. Sembari mengumpulkan informasi tentang Islam, mereka juga menyebarluaskan informasi negatif Timur kepada masyarakat Barat.
- Perang dunia ke-2
Di mana Islam menjadi objek kajian yang populer, tidak hanya untuk kepentingan akademis, tetapi juga kepentingan bisnis dan politik. Pada periode ini, kekuatan berfikir mulai meningkat, keobjektifan tulisan mulai dibutuhkan, sentimen kasar yang ditujukan pada Islam mulai diperhalus, hingga tulisan-tulisan mengenai Islam mencoba untuk bersifat positif, sebagaimana tulisan Voltaire dan Thomas Carlyle. Karya tulis yang berisi serangan dan menjelek-jelekan Islam mulai berkurang.[8]
Muhammad Aminulloh | Annajahsidogiri.id
[1] Menelusuri Tuduhan Dan Kritik Orientalis Terhadap | PDF hlm. 72
[2] Inilah Isi Film ”Innocence of Muslim” yang Menghina Rasulullah Muhammad | mediapublix
[3] https://wp.nyu.edu/srl467/2016/09/28/history-of-the-orient/
[4] Haris Fatwa, Sejarah Orientalisme (1) Islami.co
[5] https://ciosunidagontor.com/mengungkap-Orientalisme-sejarah-dan-tokoh-tokoh-di-baliknya/
[6] Majalah Mafahim, edisi thn 5/66/agustus 2019
[7] Haris Fatwa, Sejarah Orientalisme (1) Islami.co
[8] Dari dua sumber: Abd. Rahim, SEJARAH PERKEMBANGAN ORIENTALISME, hal. 185-188 dan Adib Fattah Suntoro, M.Ag, Mengungkap Orientalisme: Sejarah dan Tokoh-Tokoh di Baliknya.































































