Keberadaan jin merupakan bagian dari perkara ghaib yang wajib diimani oleh setiap muslim. Al-Quran dan hadis memberikan keterangan yang tegas mengenai keberadaan mereka, sifat-sifat mereka, serta hubungan mereka dengan syariat Allah ﷻ. Para ulama pun juga telah sepakat bahwa jin, sebagaimana manusia, termasuk makhluk yang ditaklif dan akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka. Dasar hal ini antara lain adalah firman Allah ﷻ:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ
“Wahai golongan jin dan manusia, bukankah telah datang kepada kalian para rasul dari kalangan kalian?”(QS. Al-An‘am: 130)
Ayat ini menjelaskan bahwa risalah para rasul ditujukan kepada kedua golongan tersebut. Dengan demikian, jin dan manusia sama-sama berada dalam ruang lingkup dakwah dan syariat.
Baca Juga; Mungkinkah Melihat Jin?
Kesamaan jin dan manusia dalam menerima taklīf menunjukkan bahwa mereka memiliki keragaman agama, keyakinan, dan kecenderungan akidah sebagaimana manusia. Para ulama menyebutkan bahwa di antara jin terdapat pemeluk berbagai agama seperti Islam, Nasrani, Yahudi, dan selainnya. Bahkan dalam kalangan jin Muslim sendiri terdapat perbedaan aliran, mazhab, dan corak pemahaman, sebagaimana terdapat pada manusia. As-Syekh Wahid bin Abdis Salam mengatakan:
الْجِنُّ كَالْإِنْسِ تَمَامًا مِنْ هٰذِهِ النَّاحِيَةِ؛ فَمِنْهُمُ الْمُسْلِمُ وَالنَّصْرَانِيُّ وَالْيَهُودِيُّ، بَلْ إِنَّ مُسْلِمِيهِمْ كَمُسْلِمِي الْإِنْسِ أَيْضًا: قَدَرِيَّةٌ وَشِيعَةٌ وَأَهْلُ سُنَّةٍ وَأَهْلُ بِدْعَةٍ وَغَيْرُ ذٰلِكَ، وَمِنْهُمُ الطَّائِعُ وَالْعَاصِي، وَالتَّقِيُّ وَالْفَاجِرُ
“Jin itu mirip dengan manusia dalam hal ini; di antara mereka ada yang beragama Islam, Nasrani, dan Yahudi. Bahkan di kalangan jin yang Muslim pun ada perbedaan seperti halnya manusia: ada yang beraliran Qadariyah, Syi’ah, Ahlus Sunnah, Ahlul Bid’ah, dan sebagainya. Di antara mereka ada yang taat, ada yang durhaka, ada yang saleh, dan ada yang fasik.” [1]
Pernyataan ini menggambarkan bahwa struktur keberagamaan jin tidak berbeda dari manusia; ada yang lurus dan istiqamah, dan ada pula yang menyimpang serta jauh dari hidayah.
Penegasan Al-Qur’an tentang adanya keragaman ini tampak jelas dalam firman Allah ﷻ dalam surah Al-Jin ayat 11:
﴿ وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا ﴾
“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan ada pula yang tidak demikian; kami menempuh jalan-jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jinn: 11)
Baca Juga; Kenali Mukjizat dan Fenomena Lainnya (!)
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa makna “كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا” adalah bahwa jin terpecah dalam beragam jalan dan keyakinan, termasuk di dalamnya yang beriman dan yang kafir, sebagaimana manusia. Tafsir ini menunjukkan adanya dinamika pemikiran dan keyakinan dalam komunitas jin yang serupa dengan dinamika keagamaan manusia.[2]
Seluruh keterangan ini menegaskan bahwa jin adalah makhluk berakal yang diberi kemampuan memilih antara petunjuk dan kesesatan. Mereka hidup dalam komunitas dengan struktur sosial, kecenderungan moral, serta perbedaan akidah yang kompleks. Karena itu, literatur Islam memandang pembahasan mengenai jin sebagai bagian dari kajian akidah, bukan sekadar cerita tradisional atau unsur mitologis.
Pemahaman mengenai jin, agama yang mereka anut, dan akidah-akidah mereka, pada akhirnya memberikan pelajaran bagi manusia sebagai sesama makhluk yang diberi taklīf. Sebagaimana jin, manusia juga akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah ﷻ pada hari kiamat. Hal ini menjadi pengingat bahwa petunjuk Allah ﷻ harus dijaga dan diamalkan, karena itulah satu-satunya jalan keselamatan bagi seluruh makhluk yang diberi amanah syariat.
Moh. Khafidz | Annajahsidogiri.id
[1] Wahid bin Abdis Salam, Wiqayatu al-Insan Min al-Jinni Wa as-Syaithan, Hlm. 30.
[2] Al-Imam Ibnu Katsir, Tafsir ibnu Katsir, Juz 4, hlm. 34.































































