Kebebasan Beragama

Bebas tak Berasas; Seputar Kebebasan Beragama

Dalam diskursus teologi, konsep “tidak ada paksaan dalam beragama” dan “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” sudah dapat menggambarkan bagaimana bentuk toleransi dalam Islam. Kita kenal dengan istilah: kebebasan beragama. Umat Islam tidak diperkenankan memaksa golongan umat lain untuk satu pemikiran dalam urusan akidah. Mengintervensi urusan agama lain. Apalagi memaksa mereka untuk masuk ke dalam ajaran Islam. Namun, tak mengurangi kewajiban kita untuk menyampaikan kebenaran Islam pada mereka.

Manusia mana yang ingin dikekang. Diatur oleh sekian aturan yang njelimet dan memusingkan. Begitu juga dalam urusan beragama. Tentu bagi sebagian kalangan, konsep beragama justru malah membatasi kebebasan berspekulasi atas kebenaran beragama.           

Kebebasan Beragama
Penyamarataan Semua Agama

Salah satu tokoh Liberal Indonesia, Ulil Abshar Abdalla pernah mengeluarkan statement, dalam sebuah artikel yang berjudul, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, Kompas 2002, “Artinya, nilai kebenaran yang ada di Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, adalah “nilai generis” atau “kebenaran umum” yang bisa ada dimana-mana. Bahkan, bisa jadi kebenaran “Islam” terdapat pula dalam filsafat Marxisme.”

Dari sini, sangat kentara upaya penyamarataan antara satu agama dengan agama yang lain. Umat Islam sepakat dalam urusan perbedaan dan keberagaman, namun beda urusan jika mengenai masalah keabsahan seluruh agama dibenarkan. Benarkah konsep pemikiran diatas?

Dalam surah al-Mu’minun: 71 yang berbunyi, “Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan kami telah memberi peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.

Imam Ahmad bin Ibrahim bin Khalid dalam Tafsir Qurtubi-nya menjelaskan, yang dimaksud dengan kebenaran di sini adalah Al-Qur’an. Dan bila manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya, maka rusaklah hukum alam, karena notabenenya hawa nafsu memang berbeda-beda dan saling berlawanan. Lagipula, seandainya al-Quran diturunkan dalam keadaan seperti yang mereka senangi, maka hancurlah apa yang ada di muka bumi dan di bawah kolong langit ini.

Jadi teori pemikiran di atas, tentu sangat tidak berasas dan cenderung hanya sekedar mengikuti kehendak hawa nafsu belaka. Yang intinya, untuk urusan tauhid, tidak ada kebenaran absolut. Dan bukankah sudah jelas, bahwa agama yang diridhoi oleh Allah adalah Islam. Falyatammal

 Rizqi Mubaroq | Annajahsidogiri.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*