Toleransi

Memahami Islam Sebagai Agama Toleransi

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Hal ini diistilahkan dengan toleransi. Dalam KBBI, toleransi adalah sikap menghargai pendapat, kepercayaan dan kebiasaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendapat sendiri. Ketika disandarkan pada agama maka seseorang tidak boleh mengusik agama orang lain mulai dari ibadah sampai tradisi agama tersebut.

Misal, orang Kristen merayakan hari rayanya, umat Islam tidak boleh mengganggu terlaksananya hal itu, lain halnya dengan ikut andil dalam acara tersebut. Maka hal itu sudah kebablasan dalam bertoleransi.

Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan Toleransi?

Syekh Ramadhan al-Buthi dalam Fiqhus-Sirah-nya mengatakan, Rasulullah sudah memberi teladan bertoleransi dalam peristiwa Piagam Madinah. Di dalamnya terdapat banyak undang-undang, antara lain; orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat dengan orang mukmin. Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi orang mukmin agama mereka. Kecuali orang yang berbuat lalim dan durhaka. Meskipun pada akhirnya mereka menghianati perjanjian ini.

Hal ini menunjukan bahwa agama Islam yang dibawa rasulullah sejak awal kemunculannya sudah menerapkan toleransi agama, yang mana hal ini juga menolak oknum-oknum yang mengatakan Islam adalah agama yang tidak toleran.

Allah juga mengajarkan bertoleransi dalam firmannya:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya dan pergauilah keduanya dengan baik di dunia dan ikutilah jalan kembali kepadaku.”(QS Luqman }13} 15).

Diceritakan dari Abu Ya’la, Thabrani dan Ibnu Asakir dari Abi Utsman al-Handani dalam tafsir Darul-Mashun bahwa Saad bin Abi Waqqash berkata, aku adalah seorang yang berbakti kepada ibuku. Ketika aku masuk Islam ibuku berkata wahai Saad, apakah yang telah aku lihat telah terjadi maka tinggalkanlah agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum sehingga aku mati. Saad berkata, wahai ibu aku tidak meniggalkan agama ini untuk suatu apapun. Lalu sang ibu benar-benar tidak makan selama beberapa hari.

Baca Juga: Toleransi Ada Batasnya

Hanya saja Saad lebih mencintai allah dan rasul-Nya. Ketika aku mengetahui hal tersebut aku berkata, wahai ibu, demi Allah andaikan engkau mempunyai 100 nyawa yang keluar satu per satu aku tidak akan pernah meniggalkan agamaku karena hal itu. Jika engkau mau makan maka makanlah. jika tidak, maka jangan makan. Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Hikmah cerita di atas adalah meskipun seorang anak berbeda keyakinan dengan orang tuanya dia harus tetap bertoleransi dengan berbuat baik kepada keduanya di dunia. Bukan dalam hal yang berkaitan dengan agamanya.

Oleh karena itu, Islam adalah agama yang mengajarkan toleransi kepada umat beragama dengan catatan tidak sampai berkontribusi dalam ibadah dan tradisi agama-agama lain.

M Nuril Ashabi Lutfi | Annajahsidogiri.id

About M Nuril Ashabi Lutfi

M Nuril Ashabi Lutfi
Redaksi Khusus Bagian Sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*