AL-MUNQIZ

Imam al-Gazālī dan al-Munqiẓ

Mengapa al-Munqiẓ?

“Mengapa al-Gazālī menulis al-Munqiẓ?” adalah pertanyaan yang pertama-tama perlu kita dahulukan, guna memahami motif yang melatarbelakangi kehadiran tulisan ini. Namun motif itu telah beliau pada halaman awal al-Munqiẓ, sehingga tulisan singkat ini tidak perlu melakukan analisis terlampau muluk, semisal seperti yang telah Abū Bakar ‘Abdurrāziq lakukan dalam Ma‘a al-Gazāli fī Munqiẓihī minaḍ-Ḍalāl (hal. 60-73), ketika ia menepis dugaan Dr. Abdud-Dā’im Abul-Aṭā al-Baqrī dalam I‘tirāfāt al-Gazālī, bahwa al-Gazālī menulis al-Munqiẓ hanya untuk mendulang popularitas.

Baca Juga: Pesantren dan Upaya Menghidupkan Generasi Ihya’ dan al-Ghunyah

Beliau menulis Al-Munqiẓ sebagai respons dari permintaan teman-teman beliau, agar beliau menuliskan pengembaraan pemikiran dan spiritualnya secara utuh: mengenai puncak ilmu pengetahuan sekaligus makna-makna terdalamnya; penyimpangan sekte-sekte: bagaimana beliau berhasil menemukan mutiara kebenaran dari tumpukan sampah aliran-aliran dengan pemikiran dan metodologi yang kontraproduktif, hingga kemudian beliau mampu mencampakkan sikap epigonis yang akut, lalu membangun pandangannya secara mandiri dan tercerahkan. (al-Munqiẓ, hal. 3).

Diharapkan, autobiografi ini bisa memberikan pencerahan kepada generasi Muslim, sehingga mereka lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan zaman berikut segenap problematikanya yang sangat kompleks.

Kotak-Kotak Pemikiran

Memang, seperti digambarkan Dr. Badawī Ṭabānah dalam al-Gazālī wa Iyā’ ‘Ulūmiddīn (hal. 5), bahwa al-Gazālī hidup pada suatu periode di mana teori-teori yang berseliweran telah mencapai puncaknya, tensi pemikiran meninggi, dengan akses masuknya yang beragam. Dengan kondisi sedemikian, tentu saja terlahir sekian banyak metode yang dimunculkan setiap pemikir dalam setiap bidang kajian, guna sampai pada kebenaran. Di sini dapat digambarkan, betapa pandangan-pandangan setiap pemikir di setiap bidang mesti kontradiktif, hingga mustahil untuk dikompromikan.

Al-Gazālī menyadari sepenuhnya kondisi ini. Beliau dapat membaca dengan jernih bahwa perbedaan agama-agama, berikut merebaknya sekte-sekte di dalam setiap agama, adalah lautan yang tak bertepi yang kebanyakan orang tenggelam di dalamnya. Hanya segelintir saja yang selamat. Sayangnya, setiap aliran merasa bahwa hanya pihaknyalah yang selamat. (al-Munqi, hal. 4).

Hanya saja kecerdasan al-Gazālī berikut talenta akademisnya yang cemerlang, membuat ia dapat mengatasi carut-marut pemikiran yang kacau itu. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, al-Gazālī menerobos masuk ke tengah-tengah mereka, satu demi satu. Ia melakukan kritik, sanggahan, negasi, dan memberikan jawaban-jawaban yang meyakinkan untuk setiap paham dan aliran yang beliau bedah.

Di sini kita mendapati alasan, sebagaimana pernyataan Ṣāliḥ Aḥamad asy-Syāmī dalam al-Imām al-Gazālī: Ḥujjatul-Islām wa Mujaddidul-Mi’ah al-Khāmisah (hal. 32), mengapa kemudian al-Gazālī menjelma sebagai khazanah yang kaya dan selalu terbuka bagi para peneliti di banyak bidang, di mana setiap mereka mendapati al-Gazālī sebagai referensi paripurna di bidang masing-masing.

Dan, al-Gazālī pun kemudian sampai pada pencapaian akan ‘ilmul-yaqīn, yang beliau jadikan sebagai acuan standar dan tolok ukur yang akurat, guna menyeleksi status suatu pemikiran dan keyakinan: apakah ia benar atau salah. (al-Munqi, hal. 6).

Lingkaran Keraguan

Al-Gazālī melihat bahwa beragam aliran dan pemikiran ini sejatinya merupakan gambaran utuh akan kaburnya jalan kebenaran bagi mereka. Akan tetapi al-Gazālī tetap yakin jika sejatinya kebenaran itu tidaklah beragam. Yang beragam hanya pemikiran-pemikiran, aliran-aliran, dan agama-agama. Sedangkan kebenaran tetap tunggal. Seperti kata-kata al-‘Allāmah al-Baṭlayūsiīyang terkenal, “anna ikhtilāfal-mukhtalifīna fil-aqqi lā yūjibu ikhtilāfal-aqqi fī nafsihī”, al-Ghazali tahu jika pemikiran, aliran, dan agama yang beragam tidak meniscayakan kebenaran menjadi beragam pula.

Akan tetapi justru di sinilah kemudian al-Gazālī, seperti diceritakannya sendiri, terjebak pada kebingungan atau keragu-raguan. Ia tidak menemukan tangga yang dapat mengantarkannya pada ‘ilmul-yaqīn itu selain indra yang dimilikinya. Namun selanjutnya ia tahu bahwa panca indra, dalam tingktan yang paling tajam sekalipun, justru bisa menipu. Mata kita mempersepsi bintang di angkasa hanya sebesar uang koin, di mana ukuran yang sesungguhnya lebih besar daripada bumi tempat kita berpijak. Karena itulah indra sesungguhnya tidak bisa dipercaya.

Al-Gazālī kemudian hendak beralih pada akal. Adakah klaim-klaim akal bisa dipercaya dan dipastikan benar? Namun tidak lama kemudian terlintas suatu percakapan imajiner dalam diri beliau: adakah akal bisa kau percaya begitu saja, padahal sebelumnya kau bersandar pada panca indra, namun kemudian akal datang dan mementahkannya. Barangkali ada perangkat di luar akal yang jika kau menemukannya, perangkat itu akan mementahkan klaim-klaim akal, sebagaimana akal telah mementahkan klaim-klaim panca indra sebelumnya?

Di sinilah al-Gazālī terperangkap dalam lingkaran keraguan, yang membuatnya kacau. Penyakit akut ini mengerangkeng beliau dalam tempo hampir dua bulan, di mana “Saat itu,” kata al-Gazālī, “secara praktis aku tengah terperangkap dalam aliran sophisme, kendati secara teoritis tidaklah demikian”.

Namun setelah itu, al-Gazālī bisa bangkit dari lingkaran keragu-raguan itu, dan kembali bisa menerima dalil-dalil rasional yang pasti sebagai tangga untuk sampai pada kebenaran, berkat nūr yang dipancarkan oleh Allah I ke dalam hatinya. Dengan kata lain, al-Gazālī bisa menerima perangkat-perangkat untuk bisa sampai pada kebenaran itu melalui media kasyf, bukan berdasarkan akumulasi data, eksplorasi dan eksperimen ilmiah. (al-Munqi, hal. 8-9).

Para Pencari Kebenaran

Setelah al-Gazālī terbebas dari lingkaran ‘sophisme’ yang menjebak itu, tampaklah di hadapan beliau jika para pencari kebenaran terpilah pada empat aliran: 1) Ahli Kalam, 2) Kebatinan, 3) Filsuf, 4) Sufi. Al-Gazālī melakukan kajian dan analisis yang serius terhadap masing-masing aliran.

Dalam proses analisis ini, al-Gazālī menemukan bahwa ilmu kalam yang dibangun untuk membentengi akidah Islam secara ilmiah, sejatinya telah sesuai dan bahkan memenuhi targetnya. Hanya saja perangkat-perangkat yang digunakan al-Mutakallimūn itu belum bisa menjadi obat bagi ‘penyakit’ yang diderita al-Gazālī, terlebih setelah al-Mutakallimūn masuk dalam pembahasan mengenai teori atom, aksiden, penciptaan alam, dst. Ia jadi semakin tidak kondusif untuk menghapuskan kebingungan dan kerancuan pemikiran di tengah-tengah masyarakat. (al-Munqi, hal. 11-13).

Selanjutnya al-Gazālī masuk ke dalam filsafat. Beliau membedah teori-teori di bidang ini dengan sangat cemerlang; melakukan kritik dan mengungkapkan sekian banyak kelemahan dan teori-teori mereka, sebagaimana tertuang dalam Tahāfutul-Falāsifah. Hal serupa juga dilakukan pada aliran kebatinan, di mana al-Gazālī mampu mengungkap skandal aliran ini dengan sempurna melalui buku Faḍā’iul-Bāṭiniyyah (al-Munqi, hal. 16-37).

Pengembaraan ilmiah ini akhirnya mengantarkan al-Gazālī pada sufisme, dan penelitian mendalam yang beliau lakukan terhadap aliran ini membuat ia yakin bahwa sufisme adalah tempat berlabuh yang tepat. Dengan segenap aral-rintangan yang menhadang, sufisme menggiring al-Gazālī pada dunia yang berbeda, di mana beliau rela meniggalkan segenap reputasi dan prestasi akademisnya untuk melakukan ‘uzlah.

Penempaan diri yang dilakukan al-Gazālī dalam ‘uzlah selama sebelas tahun, telah melahirkan kembali al-Gazālī sebagai pribadi yang sama sekali berbeda, dengan tingkat spiritualitas yang sangat tinggi, yang salah satunya tampak dari karya beliau pasca ‘uzlah: Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn.

Moh. Achyat Ahmad|Direktur Annajah Center Sidogiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*