Menyikapi Mitos; Etiket dalam Sabab-Musabab Mitos

Menyikapi Mitos; Etiket dalam Sabab-Musabab Mitos

Masyarakat tidak bisa lepas dari mitos. Mitos tumbuh, melalui cerita orang-orang terdahulu yang pada akhirnya membentuk kepercayaan. Di Indonesia sendiri, mitos tumbuh bersama dengan kekentalan tradisinya yang beragam. Beragam mitos tersebut memiliki persamaan dalam hal adanya sabab (sebab) dan musabab (perkara yang disebabkan oleh sebab). Contohnya; bila ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah (sebagai sabab) maka, nanti akan ada sanak saudara atau tetangga yang datang berkunjung (musabab).

Dari pemaparan ringan di atas, dapat dipastikan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana menyikapi dengan benar mitos yang membentuk kepercayaan masyarakat terkait sabab dan musabab-nya. Sehingga tulisan ini tidak akan membahas mitos dunia supranatural terkait jelangkung atau mitos yang dianggap sebagai agama menurut pendapat liberal.

Baca Juga: Mitos Nasi Orang Mati

Untuk itu, sebelum menyikapi mitos yang bisa mempengaruhi kepercayaan masyarakat, perlu melihat beberapa macam sikap berikut;

Pertama, seseorang meyakini bahwa mitos itu bisa memberikan pengaruh tanpa kuasa dari Allah, maka ini yang berakibat kufur. Mengambil satu contoh mitos di Indonesia, adanya kepercayaan masyarakat apabila menabrak kucing hitam maka akan mengalami sial pada hari berikutnya. Di sini kebanyakan masyarakat masih menganggap penyebab sial adalah menabrak kucing. Padahal di dalam kitab Aqîdatul-‘âdat ‘indal-Asyâ’irah, juz 1 hal. 13, meyakini bahwa sebab yang timbul dari benda seperti api yang menyebabkan terbakar atau air sebagai penyebab kesegaran, menganggap itu watak dasar dari zat benda-benda tersebut maka dia dihukumi kafir menurut kesepakatan para ulama. Dan bagaimana kalau meyakini yang masih belum jelas adatnya, seperti menabrak kucing sebagai penyebab sial? maka pikirkan sekali lagi!

Sikap yang kedua, apabila seseorang masih berkeyakinan bahwa yang memberikan pengaruh adalah kekuasaan yang diberikan Allah pada benda tersebut maka menghukumi kekufurannya ada dua pendapat. Menurut pendapat yang lebih shahîh, tidak kafir namun fasik dan mubtadi’ (pelaku bidah). Contoh kaum yang seperti ini adalah Muktazilah. Sebagaiman dijelaskan dalam Tijânu ad-Dararî, hlm. 5-6, mereka berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sesuai kehendak sendiri dengan adanya sifat qudrah yang Allah ciptakan dalam diri manusia.

Sikap yang ketiga, seseorang berkeyakinan hanya Allah saja yang memberikan manfaat dan mudharat, maka ini tidak ada masalah. Selagi ia mempercayai bahwa yang memberi penyebab adalah Allah. Selama ia meyakini bahwa Allah menghubungkan antara sabab dan musabab dalam adat, sekiranya masih ada kemungkinan sebab tersebut untuk tidak menghasilkan musabab. Inilah sikap seorang Mukmin yang selamat, menurut Imam ad-Dasuqi dalam Hâsyiyatud-Dasûqî ‘ala Ummil-Barâhîn, hlm. 40-41.

Baca Juga: Percaya Ramalan: Potret Kemunduran Manusia Modern

Sikap keempat, berkeyakinan bahwa yang memberikan pengaruh adalah Allah, namun Allah mengikatkan antara sabab dan musabab dalam ikatan yang bersifat masih terjangkau akal sekiranya tidak mungkin beralih dari hasilnya musabab, maka orang ini dianggap bodoh, karena berpotensi mengingkari adanya mukjizat nabi, sebab sifat mukjizat itu diluar nalar manusia, sehingga orang ini bisa terjerumus pada kekufuran, sebagaimana penjelasan dalam Tuhfatul-Murîd ‘ala Jauharut-tauhîd, hlm. 58

Jadi, dalam menyikapi adanya mitos yang dianggap menjadi penyebab suatu perkara, sebagai generasi Ahlusunah wal Jamaah tentu lebih selamat memilih sikap ketiga atau dikembalikan lagi bahwa hanya Allah pemilik segala manfaat dan kekuasaan yang mana tidak mungkin sesuatu apapun di dunia ini yang luput dari kehendak-Nya. Wallâhu a’lam.

Musyafal Habib | Annajahsidogiri.id

About Musyafal Habib

Musyafal Habib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*