HEADLINE
habib zainal abidin al-jufri

Arti Kata Habib Sebenarnya

Siapakah Ahli Bait?


Ahli Bait berarti keluarga. Bila kata ini bersandar kepada baginda Nabi Muhammad maka secara umum adalah mereka yang haram menerima zakat, yaitu istri-istri Nabi Muhammad dan para keterunan Sayid Hasyim dan Sayid Abdul Muththalib yang beriman. Keduanya merupakan kakek Rasulullah. Terlebih lagi adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib, Sayidah Fathimah az-Zahra, Sayidina Hasan dan Sayidina Husain, ini lebih khusus. (Minhatul-Hamîd, hal. 210)

Baca Juga: Klarifikasi Maaher, Perlu Diklarifikasi Ulang!


Dalam hadis, Nabi Muhammad bersabda, “Amma ba’du, ingatlah wahai para umat, aku hanyalah manusia yang sebentar lagi akan datang kepadaku seorang utusan (malaikat maut) untuk aku penuhi ajakannya. Dan aku tinggalkan bagi kalian dua hal; pertama adalah kitabullah yang merupakan petunjuk dan cahaya. Maka peganglah pusaka ini. Kedua adalah Ahli Bait ku, aku ingatkan kalian (Nabi ulang tiga kali)”. (HR. Muslim, hadis no. 4425)


Sebagai seorang Muslim Ahlusunah wal Jamaah kita berkewajiban meyakini dan mencintai Ahli Bait Nabi Muhammad. Dalam artian, beriktikad bahwa mereka memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad, berlaku baik kepada mereka, menghormati dan tidak membenci apalagi mencaci mereka. Juga bahwa keberadaan mereka adalah keamanan bagi segenap umat manusia. Mereka mendapat jaminan langsung dari Rasulullah dalam sabdanya (al-Jamî’ ash-Shâghir, III/36)

سَأَلْتُ رَبِّىْ أَنْ لَا يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ بَيْتِىْ النَّارَ فَأَعْطَانِيْهَا رواه البزار والطبراني وغيرهما

“Aku memohon kepada tuhanku, untuk tidak memasukkan keluargaku ke neraka. Dan tuhan mengabulkannnya.. (HR. Al-Bazzar, ath-Thabarani dan lainnya)


Cara Memperlakukan Ahli Bait


Setelah kewajiban ini kita ketahui, lantas bagaimana jika misalkan seorang Ahli Bait sekitar kita bertindak salah? Tetap kita tidak boleh membenci mereka. Taqiyud-Din al-Muqraizi berkata, “Tidak boleh berkomentar buruk terhadap Ahli Bait bagaimanapun keadaannya. Sebab ini sebagai bentuk penghormatan terhadap darah Nabi ”. (Minhatul-Hamîd, hlm. 226). Namun kita tetap berkewajiban memberikan petunjuk dan ber-amar ma’rûf dan nahî munkar atas kekeliruannya. Serta berdoa kepada Allah supaya mendapatkan hidayah.


Kalaupun kita tidak suka, maka ketidaksukaan ini bukan kepada Ahli Bait tapi lebih kepada perilaku dan pemikirannya. Semisal, seorang sayid yang bermazhab Syiah. Maka kita berkewajiban mengingkari kesyiahannya, tapi tidak mencaci sayid tersebut. Sebab pada jiwa sayid terdapat darah Nabi Muhammad.

Namun demikian, sebagai Ahli Bait yang memiliki kedudukan yang mulia seperti ini, mereka berkewajiban mengikuti jejak langkah datuk mereka, Nabi Muhammad, baik secara keilmuan maupun amalan. Antara lain: 1) Berpegangteguh pada akidah Ahlusunah wal Jamaah, 2) Bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan mengamalkannya. Hal ini sebagai bentuk syukur dan terimakasih mereka atas anugerah besar ini. Nabi Muhammad suatu saat melakukan shalat sampai kedua kaki beliau membengkak, lantas ada yang bertanya, “Ya Nabi, bukankah dosa-dosamu sudah Allah ampuni?”. Nabi Muhammad menjawab, “Apakah saya tidak boleh menjadi seorang hamba yang bersyukur kepada Allah?” (HR. Al-Bukhari, no. 4836).


Pada akhirnya, mencintai Ahli Bait adalah kewajiban kita bersama sebagai umat Nabi Muhammad. Dalam hadis riwayat ad-Dailami disebutkan: “Allah akan sangat murka kepada orang yang menyakiti keturunanku.”

Fawaidul Hilmi | Annajahsidogiri.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*