Pilar rukun iman dalam Islam

Enam Pilar Rukun Iman (1)

Penjelasan mengenai rukun iman dalam Islam

Penjelasan mengenai rukun iman dalam Islam

Mengenai pembahasan rukun iman, ada sebuah cerita dalam hadis Rasulullah SAW. Suatu saat, sosok misterius menghampiri nabi dengan memakai pakaian yang sangat putih dan bersih. Saat itu, nabi sedang mujalasah bersama para sahabat.

Sosok yang berambut hitam legam itu, datang menanyakan lima pertanyaan. Salah satunya, “ceritakanlah padaku mengenai Iman!” Nabi menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-Nya, rasul-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk.” (HR. Muslim)

Dari hadis itulah, ulama merumuskan enam pilar rukun iman.

Sebelum, kita bahas satu persatu rukun iman yang enam, alangkah baiknya untuk melirik takrif iman terlebih dahulu. Secara syara’, Iman itu merupakan bentuk pembenaran terhadap ajaran agama Islam. Bila terkonsep secara global, imannya cukup dengan ijmal. Bila konsepnya rinci, maka imannya pun harus rinci.

Baca Juga: Meneguhkan Eksistensi Iman Dalam Toleransi

Semisal, hal-ihwal yang sudah maklum secara ijmali, seperti malaikat, rasul, dan kitab, kita hanya wajib iman bahwa malaikat, rasul, dan kitab Allah itu nyata dan benar. Tidak perlu dirinci satu persatu. Akan tetapi, bila ada nas yang merincinya, dengan menyebut nama, misalnya, maka kita wajib iman secara tafsil. Contoh mudah dalam hal ini, Malaikat Jibril. Kita harus iman bahwa ada malaikat yang bernama Jibril. Tidak cukup sekadar pokok iman ada malaikat, seraya mengabaikan nama-namanya yang sudah jelas nash-nya.

Iman kepada Allah

Dalam poin ini, kita wajib Iman bahwa Allah ada dan memiliki seluruh sifat sempurna serta suci dari segala kekurangan. Juga, harus yakin bahwa satu-satunya yang berhak disembah ialah Allah, karena Allah-lah pemilik segala sesuatu, lantaran satu-satunya pencipta ialah Allah itu sendiri, dan selainnya ialah ciptaannya.

Iman kepada Malaikat Allah

Malaikat adalah: Makhluk yang berjisim lembut, yang tercipta dari cahaya, yang mampu berubah wujud dalam bentuk yang baik.

Malaikat ialah makhluk yang juga diperintah Allah, tetapi tidak pernah durhaka. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim[66]: 6)

Kita harus percaya bahwa para malaikat memiliki dua, tiga, atau empat sayap, tetapi tidak perlu untuk membayangkan secara rinci. Allah SWT berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fatir[3]: 1)

Barang siapa yang ingkar terhadap apa yang sudah disebutkan di atas, secara ittifaq ulama, dia divonis kafir. Nauzubillah!

Iman kepada Rasul Allah

Meyakini rasul berarti meyakini bahwa mereka adalah utusan Allah. Derajat mereka paling tinggi, melebihi malaikat. Karena malaikat–yang derajatnya dibawah rasul–ma’shum, alias terjaga dari kesalahan, maka Rasul Allah pun demikian.

Kita harus percaya bahwa Allah menitipkan mukjizat kepada Rasul, serta percaya bahwa Rasul itu jujur, amanah, cerdas, serta menyampaikan semua yang Allah perintahkan untuk disampaikan.

Juga, kita harus yakin bahwa Rasul itu manusia, dan memiliki sifat kemanusiaan, selagi sifat itu tidak menurunkan derajat kenabian.

Iman kepada Kitab Allah

Maksud dari iman kepada kitab Allah ialah meyakininya bahwa hal itu memang benar-benar wahyu yang datang dari Allah kepada nabi-Nya. Dalam kitab Fathul-Mubin (hal. 160), kitab Allah diartikan sebagai: Kalam Allah yang azali dan qadim. Suci dari suara dan huruf. Diturunkan kepada rasul-Nya memakai lafal hadis (baru) yang baru tercipta di Lauh Mahfuz, atau menggunakan lisan malaikat. Apa yang tertera di dalamnya pasti benar dan jujur.

Imam Zamakhsyari dalam kitab al-Kasyaf jilid 4 halaman 742 menerangkan bahwa kitab Allah dalam keseluruhan ada 104. Nabi Syits mendapat 50 kitab. 30-nya nabi Idris. 10-nya nabi Adam. 10-nya lagi nabi Ibrahim. Empatnya ialah: Taurat, Injil, Zabur, dan al-Quran.

Namun, kita cukup mengetahuinya secara ijmal saja, bilamana tidak dirinci atau tidak disebutkan nama. Jika disebutkan, seperti mushafnya Nabi Ibrahim, Taurat, Injil, Zabur, dan al-Quran, maka kita harus iman secara tafshil. (Lihat: ‘Aqidah Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, karya Syekh Ali Jum’ah hal. 166)

Yang tidak kalah penting, kita harus yakin bahwa semua kitab itu sudah terkena tahrif, kecuali al-Quran. Sesuai nash al-Quran sendiri, kita harus yakin bahwa al-Quran terjaga.

Iman kepada Hari Akhir

Hari akhir–sebagaimana keterangan yang ada dalam kitab Fathul-Mubin (hal. 161)–ialah: mulai dari kematian hingga fase akhir hari kiamat. Bila mengikuti pengertian semacam ini, maka iman kepada hari akhir adalah iman kepada pertanyaan kedua malaikat, nikmat dan azab kubur, jaza’ (balasan), hari kebangkitan, hisab (penghitungan amal), shirath, surga, neraka dan semacamnya.

Namun, sebagian riwayat ada yang menggunakan kata ba’tsul-akhir, bukan yaumul-akhir. Dengan lafal semacam ini, memiliki arti bahwa iman kepada ba’tsul akhir ialah iman kepada kebangkitan yang terakhir. Kebangkitan sendiri, bagi manusia, normalnya ada tiga kebangkitan.

Pertama, saat roh ditiupkan kepada kita di dalam kandungan. Itu adalah kebangkitan pertama kita, sekaligus kehidupan pertama.

Kedua, setelah kita hidup, pasti kita mati. Nah, selepas mati, kita dibangkitkan lagi untuk menjawab pertanyaan kedua malaikat. Setelah menjawab, kita dimatikan kembali.

Ketiga, kebangkitan pada hari pengumpulan (hasyri). Kebangkitan inilah yang menjadi pilar kelima dalam rukun iman. Selengkapnya bisa kalian lihat di kitab Fathul-Mubin.

Iman kepada Takdir

Masih dalam kitab yang sama, Fathul-Mubin (hal. 163) di sana dijelaskan bahwa ada dua bagian perihal iman terhadap takdir Allah:

Pertama, pengetahuan Allah terhadap makhluknya, jauh lebih awal daripada penciptaan alam. Penciptaan alam sendiri, mengikuti alur Dan ukuran dari pengetahuan Allah. Dalam al-Quran dijelaskan:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (QS. al-Qamar[45]: 49)

Kedua, iman terhadap takdir memiliki arti meyakini bahwa satu-satunya pencipta semua benda dan pekerjaan ialah Allah. Allah berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan” (QS. ash-Shaffat[37]: 49)

Penulis: Muhammad ibnu Romli|Aktivis ACS Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*