Pluralisme menurut ahlusunah

Hakekat Pluralisme

Pluralisme sering diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Kemunculan ide pluralisme didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan klaim kebenaran yang dianggap menjadi pemicu munculnya sikap ekstrem,radikal,perang atas nama agama, konflik horizontal,serta penindasan atas nama agama. Menurut kaum pluralisme, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru bisa sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar.

Agama islam mengakui keberadaan dan keberagamaan suku dan bangsa serta identitas-identitas agama selain agama islam (pluralitas), namun sama sekali tidak mengakui kebenaran agama-agama tersebut (pluralisme), sebagaimana firman  Allah SWT dalam surat al-Hujurat;13 yang artinya:

“Hai manusia,sesungguhnya kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yan g paling bertakwa di sisi Allah SWT”

Dalam ayat lain Allah SWT menegaskan:

“Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang hal itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mengetahui pengetahuan terhadapnya, dan bagi orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun.” (QS al-Hajj:71)

Bahaya di balik gagasan pluralisme

Pertama adalah penghapusan identitas-identitas agama. Dalam kasus islam, misalnya,Barat berupaya mempreteli identitas Islam. Ambil contoh, jihad yang secara syar’i bermakna perang melawan orang-orang kafir yang menjadi penghalang dakwah di kebiri sebatas upaya bersungguh-sungguh. Pemakaian hijab (jilbab) oleh muslimah dalam kehidupan umum dihalangi demi “ menjaga wilayah publik yang sekuler dari campur tangan agama” lebih jauh, penegakan syariah islam dalam Negara pun pada akhirnya dicegah karena dianggap bias mengancam pluralisme. Ringkasnya,pluralisme agama menegaskan adanya sekularisme ( pemisahan agama dari kehidupan ).

Bahaya lain pluralisme agama adalah munculnya agama-agama baru yang diramu dari berbagai agama-agama yang ada. Munculnya sejumlah aliran di tanah air seperti Ahmdiyah pimpinan Mirza Gulam Ahmad, Jama’ah Salamullah pimpinan Lia Eden, al-Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Ahmad musoddeq, dll adalah beberapa contohnya. Lalu dengan alasan pluralisme pula, pendukung pluralisme agama menolak pelarangan terhadap berbagai aliran tersebut,meski itu berarti penodaan terhadap Islam. Karena itu, wajar jika KH. Kholil Ahmad pengasuh pondok pesantren gunung jati jawa timur, menilai pluralisme agama yang diusung kaum liberalis berbahaya bagi umat islam.

Bahaya lainnya, pluralisme agama tidak bisa dilepaskan dari agenda penjajahan barat melalui isu globalisasi. Globalisasi merupakan upaya penjajahan barat untuk mengglobalkan kapitalismenya, termasuk di dalamnya gagasan “agama baru” yang bernama pluralisme agama. Karena itu, jika kita menerima pluralisme agama berarti kita harus siap kapitalisme itu sendiri.

informasi lengkap di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*