Kitab kuning merupakan tradisi keilmuan ulama salaf sejak dulu

Metode Mengaji kitab kuning

 kitab kuning pesantren salaf

Aku niat belajar, untuk menegakkan kalimat Allah.”

 

Pelafadzan niat ini mentradisi dalam dunia pesantren.  Baik di Jawa atau di Madura, para santri sering diwanti-wanti tentang niat dalam pengajian mereka.

Ada berbagai metode untuk mencetak siswa yang hebat. Ada metode yang fokus pada kurikulum pendidikan, ada juga yang fokus pada tehnik para guru dalam menyampaikan pelajaran.

Namun belakangan, metode-metode dalam dunia sekolah di Indonesia sering dipersoalkan. Bukannya menghasilkan siswa yang pintar dan berpendidikan, malah memunculkan kader yang bengis dan memalukan. Proses demoralisasi ini sudah melanda tingkat sekolah dasar hingga tingkat universitas. Akibatnya, muncul pribadi-pribadi yang picik dan korup, serta konflik yang tak jarang berujung pada tawuran. Semua itu sudah terlalu sering mewarnai layar kaca televisi indonesia. Kejadian di sekolah-sekolah ternama, serta di instansi-instansi pemerintahan sudah menjadi bukti gagalnya metode yang diterapkan.

Baru-baru ini muncul wacana metode pendidikan yang merangkul ranah moral. Bukan hanya mencerdaskan otak, Metode ini harus melatih jiwa dan hati agar menjadi pribadi yang jujur, tenang, dan tangguh.

Sejak dahulu, dunia pesantren sudah menawarkan metode yang ampuh dalam melatih otak dan hati. Metode ini disebut dengan ngaji. Hampir seluruh pesantren di Indonesia menggunakan metode ini. Umumnya materi yang dijadikan acuan adalah karya monumental Syekh Az-Zarnuji, Ta’limul muta’allim.

Berikut beberapa keistimewaan Ngaji:

  1. Motif yang melatarbelakangi Kegiatan mengaji.

Hal pertama yang harusnya diatur adalah niat. Niat atau motif dalam belajar seharusnya mengharap ridha Allah atau media yang dapat mengantarkan pada tujuan tersebut, seperti belajar untuk menegakkan agama Allah di muka bumi, menghilangkan bodohnya pikiran dan hati, bukan ingin dihormati orang lain dan meraup harta benda sebanyak-banyaknya. Ketika semua pelajar mengatur niatnya agar tidak tertuju pada harta benda dan kehormatan, otomatis di hati mereka akan tertanam nilai-nilai positif. Karena hal seperti korupsi dan tawuran tidak akan lepas dari pikiran negatif pelakunya.

  1. Lingkungan Belajar

Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan efisien, tiga hal ini haruslah diperhatikan: guru, orang tua, dan situasi kelas. Selain pintar dan menguasai pelajaran, tenaga pengajar dalam KBM harus lebih hati-hati dalam menghindari hal-hal yang dilarang agama, lebih tua umurnya dan lebih dewasa perilakunya. Dan idealnya, siswa harus selalu mengikuti kebaikan gurunya. Seperti Imam Abu Hanifah dan gurunya Hammad bin Abi Sulaiman, seorang ulama kharismatik yang sangat sabar. Ia mengaku bahwa kesuksesan yang diraihnya hingga menjadi seorang mujtahid, adalah ketika ia selalu bersama beliau. Setelah itu para siswa disarankan agar memilih teman yang selalu bersungguh-sungguh dalam belajar. Diharapkan kebiasaan baik akan menular pada yang lain. Ketika dua komponen ini sudah sempurna, orang tua harus mendukung segala hal yang terjadi di sekolah anaknya.

  1. Respek ilmu dan orang alim.

Hal yang tidak kalah penting adalah menghormati ilmu. Dimana para siswa diajar agar menggunakan ilmu sebagaimana mestinya. Mereka juga disuruh menghormati orang alim, terutama gurunya sendiri. Dalam mengkritik pun seorang siswa harus santun. Dengan begini. Karakter yang baik akan tertanam dalam diri mereka.

Sebagaimana dibuktikan dalam literatur-literatur yang terpercaya serta kenyataan yang dibuktikan sejarah, metode ini mencetak output yang unggul di kalangan ulama dan ilmuan dan masih banyak lagi kelebihan dari metode ngaji ini. Akhiran semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*