malaikat

Malaikat Lebih Berhak Menjadi Nabi, Benarkah?

Allah berfirman dalam Al-Quran,

وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا ﴿٧﴾ سورة الفرقان

Artinya, “Dan mereka berkata,”Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar ia itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?”

Baca Juga: Jenis Kelamin Malaikat

Ayat ini menceritakan tentang orang-orang musyrik yang mengingkari keterutusan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Alasan mendasar mereka adalah sebab Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa yang sama dengan mereka, tak ada keistimewaan didalam dirinya.

Terkait penciptaan, Allah menciptakan malaikat jauh sebelum Allah menciptakan manusia, bahkan Allah memberikan sifat-sifat mulia unlimited terhadapnya. Mereka tidak makan, minum, bahkan tidak memiliki nafsu. Hal ini berbeda 180 derajat dengan menusia. Akan tetapi, ketika Allah menciptakan manusia, Allah langsung memberikan mahkota khalifah kepada manusia pertama; Nabi Adam. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾ سورة البقرة)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.

Baca Juga: Mimpi Para Nabi Adalah Wahyu

Tak heran jika iblis tidak terima dengan keterutusan Nabi Adam. Lalu, apa hikmah semua ini? Mengapa tidak malaikat saja yang menjadi nabi?
Syaikh ‘Ali ash-Shabuni, dalam kitab an-Nubuwwah wal Anbiya’ menjelaskan bahwa ayat yang lain yang berbunyi:

وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤْمِنُوٓا۟ إِذْ جَآءَهُمُ ٱلْهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓا۟ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرًا رَّسُولًا(94)قُل لَّوْ كَانَ فِى ٱلْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكًا رَّسُولًا(95) سورة الاسراء)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa utusan harus sejenis dengan orang yang menjadi objek sasaran, andaikan Allah memenuhi bumi dengan malaikat, maka Allah pasti menjadikan utusannya dari jenis malaikat juga.

Di sisi lain, beliau menambah bahwa andaikan kerasulan di pasrahkan kepada malaikat, maka mereka berkata:”dia adalah malaikat, bukan dari manusia, jadi tak heran jika kita tidak patuh, sebab kita tidak mampu.” Wallahu a’lam.

Iszul Fahmi | annajahsidogiri.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*