SYEKH YUSUF

Syekh Yusuf al-Makassari; Dai Sufi dari Ujung Pandang

Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah di Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 03 Juli 1626 M, bertepatan dengan tanggal 08 Syawal 1035 H. Lahir dengan nama Muhammad Yusuf, nama pemberian dari Sultan Alauddin, Raja Gowa yang berkuasa (1593-1639 M), sebab ibunya masih kerabat kerajaan. Sultan Alauddin juga menjadikan Syekh Yusuf sebagai anak angkat.

Sejak kecil, Syekh Yusuf sudah belajar ilmu agama. Beliau mengaji al-Qur’an kepada Daeng ri Tasammang sampai hatam dan belajar kepada Sayid Ba alawi bin Abdul al-Allamah ath-Thahir berbagai cabang ilmu terutama bidang Tasawuf. Ketika berusia 15 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Cikoang untuk berguru kepada Sayid Jalaluddin al-Aidid, ulama yang datang dari aceh dan menikahi gadis Makassar.

Baca Juga: Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari; Perumus Formula Akidah Aswaja

Syekh Yusuf sangat haus terhadap ilmu sehingga ketika usinya genap 18 tahun, beliau hendak merantau ke Timur Tengah untuk menuntut ilmu. Belum sampai di tempat tujuan, Syekh Yusuf singgah di Banten dan Aceh. Di aceh beliau berguru kepada Syekh Nuruddin ar-Raniri, Syekh Abdurrauf Singkel dan ulama lainnya. Beliau menerima ijazah tarekat Qadariyah dari Syekh Nuruddin sebagaimana yang ditulis dalam kitabnya Safinatun-najah.

Syekh Yusuf juga singgah di Yaman untuk menemui Syekh Muhammad Abdul Baqi Bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani dan dianugrahi tarekat Naqsabandi serta silsilahnya, yang mana tarekat ini didirikan oleh Syekh Bahauddin an-Naqsabandi. Pada waktu musim haji Syekh Yusuf berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Di samping itu, Syekh Yusuf menuju Madinah al-Muawwarah untuk menuntut ilmu kepada Syekh yang sangat masyhur pada masa itu yakni Syekh Ibrahim Hasan Bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani. Darinya Syekh Yusuf menerima tarekat Syattariyah.

Tidak sampai di situ, Syekh Yusuf hendak ke Utara menuju Negeri Syam (Damaskus). Di sana beliau belajar tarekat Khalwatiyah kepada Syekh Abu al-Barakat Ayyub Bin Ahmad Bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi, sampai mendapatkan ijazah dari gurunya. Tarekat inilah yang nantinya terkenal di Nusantara yang dinisbatkan pada Syekh Yusuf melalui murid-muridnya. Setelah tuntas menuntut ilmu, beliau menetap di Mekkah dan mengajarkan ilmunya di sana. Sebelum kembali ke Nusantara, Syekh Yusuf menikah dengan putri Imam Masjidil-Haram yang bernama Sitti Khadijah.

Kurang lebih 15 tahun di Timur Tengah, Syekh Yusuf akhirnya pulang ke Nusantara. Hanya saja, Syekh Yusuf tidak pulang ke Makassar, beliau bermukim di Banten yang ketika itu sudah bergejolak. Beliau mendapati sahabat karibnya dulu memegang tampuk kekuasaan menjadi Sultan Banten yang dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Tidak lama kemudian Syekh Yusuf mendapatkan amanah dari Sultan Ageng untuk menjadi Mufti kesultanan.

Selain itu, Banten juga menjadi ladang dakwah Syekh Yusuf untuk mengajarkan ilmunya, lebih-lebih mengenai tarekat Khalwatiyahnya sampai akhirnya Syekh Yusuf dikenal sebagai Guru Sufi. Murid-muridnya datang dari berbagai wilayah, termasuk Makassar sendiri kurang lebih jumlahnya 400 orang. Syekh Yusuf juga sangat produktif menuangkan ilmunya melalui tulisan. Karyanya tidak kurang dari 20 kitab yang semuanya berbahasa arab seperti Safinatun-Najah, Bidayatul-Mubtadi, al-Futuhat ar-Rabbaniyah dan sebagainya. Karya-karyanya kebanyakan bertema tasawuf karena memang Syekh Yusuf adalah seorang mursyid tarekat.

Tahun 1682 adalah tahun yanga sangat bersejarah bagi Syekh Yusuf. Selain banten berada di bawah genggaman kolonial belanda, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka). Di sana Syekh Yusuf masih bisa berkomunikasi dengan rakyat Banten agar tetap berjuang melawan kolonial. Pada akhirnya Syekh Yusuf dipindahkan ke Cape Town Afrika Selatan, yang di kemudian hari menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Berada di negeri pengasingan tidak menghalangi beliau untuk tetap berdakwah dan mengajak penduduk setempat mengenal agama Islam, karena Islam di Cape Town pada masa itu sangat minim. Tepatnya pada tanggal 23 Mei 1699, Syekh Yusuf menghembuskan nafas terakhirnya dan jenazahnya di makamkan di Faure Cape Town. Sampai saat ini, Syekh Yusuf sangat dikenang oleh penduduk Cape Town sebab jasanya dalam menyebarkan Islam disana.

M Nuril Ashabi Lutfi | Annajahsidogiri.id

About M Nuril Ashabi Lutfi

M Nuril Ashabi Lutfi
Redaksi Khusus Bagian Sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*