Epistimologi Barat Vs Islam

Epistemologi Barat vs Islam (Part I)

Sikap Barat yang anti terhadap doktrin agama telah membikin epistemologi menjadi problematis. Jika kerancuan filsuf kuno pada hasil pemikirannya, maka kerancuan Barat-modern saat ini tidak hanya ada pada hasil pemikirannya, tetapi juga dalam metodologi dan definisi ilmu itu sendiri. Ibarat ijtihad dalam konteks syariat, kesalahan Barat bukan pada hasil ijtihadnya saja, tapi pada metode istinbath yang ilegal dan menyesatkan.

Baca Juga: Liberalisme Berkedok Kebebasan Berpikir

Sebagian problem yang paling serius yang sedang dihadapi umat Islam saat ini adalah problem ilmu yang telah mengalami sekularisasi Barat-modern. Syed Nuqaib al-Attas mengatakan: “telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merusak terhadap manusia daripada tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat saat ini. Saya berani mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam di zaman kita adalah tantangan ilmu.”

Sekularisasi ilmu ini dipicu oleh Barat-modern yang merusak epistimologi dan hakikat ilmu. Dalam hal ini, Barat terpecah menjadi dua golongan. Pertama, kelompok rasionalisme. Kelompok ini berpendapat bahwa ilmu adalah pengetahuan pasti yang hanya dapat diukur dengan rasio. Pendapat ini sebenarnya yang telah lama menjadi keyakinan dalam dunia filsafat sejak awal kelahiran filasafat Yunani kuno, lalu diusung kembali oleh Rene Descartes, seorang filosof Prancis dan ahli matematika yang mengampanyekan prinsip: “Aku berfikir maka aku ada” (cagito ergo sum). Descartes menjadikan rasio sebagai tolok ukur kebenaran segala sesuatu.

Kedua, kelompok emperisisme yang mendasarkan dan membatasi ilmu pada benda fisika yang dapat dipanca indera. Tokoh terkenal empirisisme di antaranya adalah Immanuel Kant. Menurutnya, pengetahuan adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin karena tidak berlandaskan pada panca indera. Dalam pandangannya, di dalam metafisika tidak terdapat sintetik-a priori seperti yang ada dalam matematika, fisika dan ilmu-ilmu yang berdasar kepada fakta empiris. Kant menamakan metafisika sebagai ilusi transendental. Pernyataan metafisika tidak memiliki nilai epistemologis.

Baca Juga: Ketika Negara Tanpa Agama

Pergesaran epistemologi ini telah membikin Barat antusias untuk melakukan observasi ilmiyah dan kajian fakta empiris terkait segala materi yang ada di bumi bahkan di langit yang belum terkuak secara ilmiyah. Maka muncullah banyak para saintis Barat yang menemukan fakta-fakta saint yang luar biasa dan mencerahkan peradaban manusia. Baik dalam dunia medis, astronomi dan elektronik. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pergeseran epistemologi di Barat ada baiknya, karena telah membuat Barat kritis dan terus mencari fakta ilmiyah. Namun disisi lain, epistemologi ini justru rancu karena telah membatasi ilmu pada obyek fisika. Akibatnya hal-hal mistis dan ghaib akan tersingkirkan jauh dari ruang epistemologi. Maka keberadaan tuhan dan hal ghaib lain yang menjadi keyakinan semua agama akan menjadi dogma yang hanya sebatas ilusi manusia dan tidak memiliki nilai ilmiyah.

Akibatnya, Barat melakukan upaya sekularisasi agama, memisahkan nilai-nilai agama dari panggung politik dan sosial masyarakat, sehingga agama tidak lagi mutlak menjadi pedoman kehidupan manusia, ia hanya sebatas hak individu yang hanya boleh dilakukan di gereja dan tempat pribadatan. Agama dibungkam dan tidak boleh berperan di publik sosial. Puncaknya, proses sekularisasi ini menjerumuskan pada atheisme yang anti terhadap agama dan mengingkari keberadaan tuhan.

Bahrul Widad | Annajahsidogiri.id

About Redaksi

Avatar
Annajahsidogiri.id merupakan website Annajah Center Sidogiri (ACS), yang memegang teguh prinsip moderat dalam segala hal, sesuai dengan konsep Ahlusunnah Waljamaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*