Hakikat Ahlussunnah wal Jamaah

Tidak sedikit dari umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang belum benar-benar memahami apa itu hakikat Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang malah tidak tahu apa-apa tentang Ahlussunnah wal Jamaah. Sementara bagi mereka yang telah memiliki pengetahuan tentang Ahlusunah wal-Jamaah, tidak sedikit dari mereka yang masih gagal paham dengan pengetahuannya itu, dalam arti bahwa pemahaman mereka tentang Ahlusunah wal-Jamaah masih belum benar-benar tepat menemui sasaran; masih melenceng ke kanan atau ke kiri.

Baca juga: Mereview Kembali Kesejatian Label Annajah

Penyebab gagal pahamnya umat Islam awam tentang hakikat Ahlussunnah wal Jamaah, barangkali karena mereka sulit mencerna penjelasan para penulis ketika mereka menguraikan Ahlussunnah wal Jamaah dari sisi kosa kata; bahwa Ahlussunnah wal Jamaah merupakan gabungan dari kata Ahl – as-Sunnah – al-Jama‘ah. Bahkan mungkin umat awam juga kesulitan menangkap hakikat Ahlussunnah wal Jamaah ketika para penulis menjelaskan Ahlussunnah wal Jamaah melalui rumusan para ulama: dalam akidah mengikuti Asyairah-Maturidiah, dalam fikih mengikuti salah satu Mazhab Empat, dan dalam tasawuf mengikuti al-Junaid atau al-Gazali.

Barangkali problem seperti di atas itulah yang membikin Syekh Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi memberikan penjelasan tentang hakikat Ahlussunnah wal Jamaah secara to the point: bahwa hakikat Ahlussunnah wal Jamaah adalah hakikat Islam itu sendiri (haqiqatul-Islam wa jauharatuh). Artinya Ahlussunnah wal Jamaah itu adalah Islam itu sendiri, bukan hal yang berbeda dari Islam, bukan cabang dari Islam, dan bukan firqah dari Islam. Ahlussunnah wal Jamaah merujuk pada hakikat, keutuhan, dan kemurnian ajaran Islam sebagaimana diajarkan dan diterapkan oleh Nabi SAW. bersama para sahabat beliau.

Hakikat inilah yang oleh Nabi SAW. disebut dengan “mā anā ‘alaihi wa aṣḥābī” (ajaran yang aku jalani bersama para sahabatku). Karena Islam yang murni adalah Islam yang sesuai dengan ajaran yang dijalani oleh Rasulullah SAW. dan para sahabat beliau. Itulah hakikat Islam, dan itulah Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam sebuah hadis dijelaskan: “Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, semuanya masuk neraka, kecuali satu millah. Para sahabat bertanya: Siapa ia, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: ia yang ada pada ajaran yang aku jalani bersama para sahabatku.” (HR. at-Tirmidzi).

Dengan demikian, “Ahlussunnah wal Jamaah” itu adalah sebuah nama (ism) yang muncul belakangan, sedangkan objek yang disasar oleh nama itu (musamma) sudah ada jauh sebelumnya. Jadi, jika nama “Ahlussunnah wal Jamaah” itu merujuk pada hakikat, keutuhan, dan kemurnian ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi SAW. kepada para sahabat beliau, maka dengan demikian berarti Ahlusunah wal-Jamaah itu tak lain adalah hakekat ajaran Islam itu sendiri, tak lebih dan tak kurang.

Penerus Estafet Ajaran Islam yang Murni

Selanjutnya, sepeninggal Rasulullah SAW., ajaran Islam yang murni, lengkap dan sempurna itu oleh para sahabat diajarkan kepada segenap umat Islam yang berada di berbagai wilayah yang mampu mereka jangkau. Di antara para sahabat ada yang pergi ke Kufah, Basrah, Khurasan, Syam, Yaman, Mesir, bahkan Maroko di sebelah Barat, dan perbatasan India dan Cina di sebelah Timur, sebagaimana ditegaskan oleh para sejarawan, di antaranya Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wan-Nihāyah dan Ibnul-Atsir dalam al-Kamil fit-Tarikh.

Itu artinya, setelah para sahabat mengajarkan keutuhan dan kemurnian Islam pada generasi berikutnya (tabiin) di berbagai negara yang sangat luas itu, maka kesempurnaan, keutuhan dan kemurnian Islam (yang kelak disebut “Ahlussunnah wal Jamaah”) itu telah mengisi pemahaman seluruh (atau mayoritas) umat Islam di berbagai penjuru dunia. Maka dari sini terbentuklah apa yang disebut dengan “al-Ummah al-Islamiyyah al-Kubra” atau bangunan besar umat Islam, atau dalam Istilah hadis Nabi disebut “al-Jama’ah”, dan dalam hadis yang lain disebut “as-Sawadul-A‘zham” (kelompok besar umat Islam).

Dalam sebuah hadis diterangkan: Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya akan masuk neraka, kecuali hanya satu, yaitu “al-jama‘ah”. (HR. Ibnu Majah). Komentator hadis berkata: “al-jama‘ah” adalah orang-orang yang mencocoki terhadap golongan sahabat, mengambil akidah mereka dan berpegangan terhadap pendapat mereka.

Sementara dalam hadis lain diterangkan: Dari Anas bin Malik, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Jika kalian melihat adanya perbedaan, maka berpeganglah pada golongan yang besar (as-sawadul-a‘zham). Komentator hadis berkata: as-sawadul-a‘zham adalah kumpulan yang banyak. Sesungguhnya kesepakatan mereka mendekati ijmak. As-Suyuṭī berkata ketika menafsiri as-sawadul-a‘zham: maksudnya adalah golongan yang banyak dari manusia dan mayoritas dari mereka, yang bersepakat atas titian manhaj yang lurus. Hadis di atas menunjukkan bahwa semestinya yang diamalkan adalah pendapat mayoritas ulama.

Nah, dari beberapa poin di atas, tentu bisa disimpulkan dengan sangat sederhana, bahwa hakikat Ahlussunnah wal Jamaah itu tak lain adalah kemurnian, keutuhan, dan kesempurnaan ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat, dan pada zaman sahabat ajaran ini sudah diajarkan pada seluruh masyarakat Islam di berbagai wilayah yang berjauhan, sehingga ajaran Islam yang utuh dan murni (yang kelak disebut Ahlusunah wal-Jamaah) ini juga menjadi pemahaman seluruh umat.

Pada masa-masa awal periode sahabat, tidak ada kaum yang menyimpang dari ajaran ini. Namun kemudian, muncul pemahaman segelintir orang yang mencaci maki para sahabat Nabi dan mengajak pada mencintai keluarga Nabi secara keliru, yang nantinya kelompok ini dikenal dengan Syiah atau Rafidhah. Maka, dengan demikian bisa dikatakan bahwa Syiah ini sudah menjadi satu sekte yang menyimpang dari bangunan besar umat Islam (as-Sawadul A‘zham), yakni menyimpang dari pemahaman mayoritas umat Islam – yang kelak dinamai Ahlussunnah wal Jamaah.

Baca juga: Cerdas Membendung Aliran Syiah

Begitu pula kemudian muncul para pemberontak yang lalu disebut “Khawarij”. Nah, pemahaman dan amaliah Khawarij ini tidak sama dengan ajaran Nabi dan para sahabat, juga tidak sama dengan mayoritas umat yang pemahamannya masih lurus sesuai dengan ajaran Nabi dan para sahabat (yang kelak pemahaman lurus dan murni itu diberi nama Ahlussunnah wal Jamaah). Begitu seterusnya, sekte-sekte bermunculan silih berganti, menyimpang dari ajaran lurus yang menjadi pemahaman mayoritas umat Islam.

Maka singkatnya, Ahlusunah wal-Jamaah bukanlah sekte yang tumbuh dalam sejarah umat Islam, karena ia adalah hakikat kemurnian dan keutuhan Islam itu sendiri. Bahkan sebaliknya, sekte-sekte yang muncul dalam Islam itu merupakan sekte-sekte yang menyimpang dan keluar dari ajaran Ahlusunah wal-Jamaah, yakni ajaran Islam yang murni, utuh, dan sempurna, yang menjadi pemahaman mayoritas umat Islam.

Wallahu A’lam bish-Shawab.

Penulis: Moh. Achyat Ahmad │ Direktur Annajah Center Sidogiri (ACS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*